Foto: Edi_Biro Pers, Media, dan Informasi, Sekretariat Presiden

SIARAN PERS – Presiden Joko Widodo didampingi Menteri Sekretaris Negara, Pratikno, menerima kunjungan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU), di Istana Merdeka, Kamis 31 Maret 2016. Hadir dalam pertemuan tersebut Rais Aam NU Dr. K.H. Ma’ruf Amin, Prof. Dr. K.H. Said Aqil Siradj, M.A., Prof. Dr. Ir. K.H. Mochammad Maksum Machfoedz, M.Sc., Dr. Ir. H. A. Helmy Faishal Zaini, Dr. Ing. H. Bina Suhendra, K.H. M. Imam Azis, K.H. Hasib Wahab, H. Yaqut Staquf, dan Hj. Anggia Ermarini.

Foto: Edi_Biro Pers, Media, dan Informasi, Sekretariat Presiden
Foto: Edi_Biro Pers, Media, dan Informasi, Sekretariat Presiden

Usai pertemuan dengan Presiden, Rais Aam NU, Ma’ruf Amin, menjelaskan bahwa maksud kedatangan mereka ialah untuk melaporkan kegiatan International Summit of the Moderate Islamic Leaders yang akan dihadiri oleh sekitar 40 hingga 60 Kepala Negara. Pertemuan tersebut digagas sebagai upaya PBNU untuk menyatukan suara para pemimpin negara Islam terkait dengan aksi terorisme yang terjadi akhir-akhir ini.

Foto: Edi_Biro Pers, Media, dan Informasi, Sekretariat Presiden
Foto: Edi_Biro Pers, Media, dan Informasi, Sekretariat Presiden

“Acara ini untuk menyamakan persepsi karena radikalisme dan terorisme semakin menguat dilihat dari adanya serangan bom dan kekerasan-kekerasan yang lain akhir-akhir ini. Oleh karena itu, para pemimpin Islam moderat harus bersatu untuk melakukan langkah-langkah antisipasi,” jelas Ma’ruf Amin.

Ketua Umum PBNU, Said Aqil Siradj, menambahkan, Presiden Joko Widodo percaya bahwa NU merupakan organisasi sosial keagamaan yang anti kekerasan.

“Pemerintah percaya pada Nahdlatul Ulama, dari pimpinan pusat hingga ranting di dusun, semuanya anti radikalisme dan memegang prinsip Islam yang toleran,” tambahnya.

International Summit of the Moderate Islamic Leaders rencananya akan dibuka oleh Presiden Joko Widodo dan akan berlangsung pada 9 hingga 11 Mei 2016 di Jakarta Convention Center.

 

Jakarta, 31 Maret 2016

Tim Komunikasi Presiden