SIARAN PERS – Perkembangan teknologi digital yang sangat cepat merupakan sebuah kesempatan emas untuk menjangkau masyarakat yang selama ini belum terjangkau berbagai layanan, utamanya layanan keuangan formal. Hal tersebut disampaikan oleh Presiden Joko Widodo dalam sambutannya pada acara pembukaan Indonesia Fintech Festival and Conference (IFFC) yang digelar di Indonesia Convention Exhibition, Tangerang, Selasa 30 Agustus 2016.

IMG-20160905-WA0036
Foto : Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden

“Kemampuan teknologi digital tersebut perlu kita lihat sebagai sebuah kesempatan emas terutama untuk menjangkau mereka yang selama ini belum terjangkau oleh jasa layanan keuangan formal,” ujar Presiden mengawali sambutannya.

Dalam sambutannya, Presiden mengungkapkan bahwa Indonesia merupakan sebuah negara yang memiliki 17 ribu pulau di dalamnya. Dari seluruh masyarakat yang ada di pulau-pulau tersebut, masyarakat di Pulau Jawa dapat dikatakan telah mendapatkan akses layanan keuangan dan kemudahan-kemudahan lainnya. Namun, Presiden mengungkapkan bahwa layanan dan kemudahan-kemudahan tersebut belum dapat dinikmati secara merata oleh sejumlah masyarakat lainnya.

“Tetapi kalau Bapak/Ibu dan saudara sekalian pergi ke pulau terpencil, pergi ke perbatasan-perbatasan negara kita, pergi ke daerah-daerah yang belum terjangkau oleh layanan-layanan perbankan. Kita baru merasa dan terasa bahwa negara kita ini sangat besar sekali,” ungkap Presiden.

Presiden menambahkan, di wilayah-wilayah terpencil seperti itu, jasa layanan keuangan yang paling sederhana seperti penyimpanan uang di bank belum dapat dinikmati oleh sejumlah lapisan masyarakat. Apalagi untuk jasa-jasa keuangan yang lebih modern seperti kredit usaha, kredit rumah, maupun pasar modal.

“Karena keterasingan tersebut, akhirnya mereka sulit untuk memenuhi potensi maksimalnya. Mau berusaha sulit, mau punya rumah sulit, mau menabung saja juga sulit dan susah,” imbuhnya.

Selain itu, kesadaran dan pengetahuan masyarakat Indonesia mengenai lembaga keuangan disebut Presiden Joko Widodo sangatlah rendah. Menurut data yang dimilikinya, literasi keuangan masyarakat Indonesia masih berada pada kisaran 21,8 persen.

“Padahal literasi keuangan masyarakat, misalnya di Singapura sudah mencapai 96 persen, di Malaysia 81 persen, di Thailand 78 persen. Kita 21,8 persen,” terang Presiden.

Oleh karenanya, Presiden Joko Widodo menginstruksikan kementerian dan lembaga terkait untuk melakukan langkah-langkah percepatan dan terobosan untuk menindaklanjuti temuan-temuan yang didapatkannya langsung dari lapangan tersebut. Presiden juga mengapresiasi sejumlah terobosan di bidang teknologi digital yang menurutnya akan sangat membantu usaha-usaha mikro dan masyarakat kecil lainnya.

“Tadi misalnya, saya diberikan cerita mengenai aplikasi untuk kasir. Biasanya usaha-usaha kecil tidak mau mencatat karena terlalu ribet sekali, Sehingga tanpa catatan-catatan itu sulit mengakses permodalan ke bank,” ucapnya.

Inovasi dalam Meningkatkan Inklusi Keuangan Indonesia

Presiden Joko Widodo juga berharap ke depannya ada terobosan-terobosan yang mampu memangkas panjangnya mata rantai yang panjang dari petani maupun nelayan sampai kepada konsumen. Menurutnya, pemangkasan mata rantai perdagangan dari produsen hingga ke konsumen tersebut dapat menjadikan harga jual bahan komoditas menjadi semakin baik.

“Saya membayangkan nanti ada sebuah aplikasi yang bisa membantu mereka untuk mendekatkan antara produsen dengan konsumen tanpa melalui mata rantai yang panjang. Kalau itu bisa didekatkan dengan teknologi aplikasi yang cepat, saya kira ini akan sangat membantu usaha-usaha mikro, nelayan, dan petani,” harap Presiden.

Lebih lanjut, Presiden berharap ke depannya muncul anak-anak muda Indonesia yang mampu membangun kerja sama dengan para nelayan, petani, maupun masyarakat kecil lainnya sehingga para pelaku usaha tersebut memiliki kekuatan untuk mengakses pasar dan layanan permodalan.

IMG-20160905-WA0032
Foto : Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden

“Saya membayangkan kalau ada anak-anak muda kita yang bisa membangun sebuah korporasi nelayan, korporasi petani, sehingga mereka mempunyai skala ekonomi. Inilah saya kira hal-hal yang dulu tidak mungkin sekarang bisa dimungkinkan karena ada teknologi,” ujarnya.

Menutup sambutannya, Presiden mengajak seluruh pihak untuk ikut berpartisipasi dalam memberikan terobosan-terobosan yang dapat meningkatkan akses layanan keuangan bagi masyarakat Indonesia. Presiden Joko Widodo juga terbuka bagi kalangan masyarakat internasional yang memiliki kemauan untuk bekerja sama dalam mencapai tujuan tersebut.

“Saya mengajak semua pihak untuk turut berpartisipasi, putra-putri Indonesia, anak-anak muda yang bergerak di teknologi keuangan. Saya akan terus mengajak untuk berinovasi dalam meningkatkan inklusi keuangan kita. Kepada masyarakat internasional yang memiliki sumber daya dan solusi untuk meningkatkan inklusi keuangan di Indonesia, marilah kita bangun sinergi bersama-sama,” tutupnya.

Tampak hadir dalam acara tersebut di antaranya Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution, Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman Hadad, Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara dan Gubernur Banten Rano Karno.

Jakarta, 30 Agustus 2016
Kepala Biro Pers, Media dan Informasi Sekretariat Presiden

Bey Machmudin