Pembangunan infrastruktur di tanah air adalah salah satu modal utama dalam menghadapi persaingan antar negara.  Infrastruktur adalah pondasi dasar untuk memenangkan kompetisi antar Negara.

Agenda Presiden selalu padat. Seakan tidak pernah merasa lelah, Presiden terus bekerja dan bekerja dan bekerja tiada henti. Dalam satu hari selalu ada banyak agenda. Kamis pagi pekan ini, Presiden Jokowi didampingi Ibu Negara Iriana Joko Widodo meresmikan perluasan pembangunan Bandar Udara (Bandara) Internasional Sultan Thaha, Jambi (21/7). Bandara yang diresmikan ini merupakan perluasan bandara sebelumnya, yang kini memiliki luas terminal 35.000 m2, dan luas lahan parkir 26.500 m2 dengan kapasitas 436 mobil dan 415 motor.

Satu target pembangunan infrastruktur transportasi kembali terwujud. Pembangunan Terminal Penumpang dan Fasilitas Parkir Bandara Sultan Thaha yang baru itu menelan biaya sesuai nilai kontrak sebesar Rp126 miliar, pembangunan apron Rp110 miliar, pembangunan tower dan gedung operasi Rp16 miliar, dan pembangunan fasilitas pokok serta penunjang lainnya Rp67 miliar. Presiden Jokowi mengatakan, pembangunan infrastruktur di tanah air adalah salah satu modal utama dalam menghadapi persaingan antar negara.  “Semuanya adalah pondasi dasar untuk memenangkan persaingan, memenangkan kompetisi antar negara,” ujarnya.

Selanjutnya masih di Jambi pada hari yang sama Presiden Jokowi memberikan sambutan pada puncak peringatan hari Koperasi Nasional ke 69 di halaman kantor Gubernur Jambi. Presiden mengingatkan kembali mengenai persaingan global. Ia mengatakan, persaingan yang saat ini terjadi tidak lagi dalam skala kecil, namun sudah dalam skala besar seperti antarnegara dan wilayah. “Saya ingin mengingatkan betul, agar kita sadar betul bahwa kita sudah masuk kepada persaingan global. Bukan antarindividu, bukan antarkabupaten, bukan antarprovinsi, tetapi sudah antarnegara. Belum nanti persaingan antarkawasan dengan blok-blok perdagangannya,” tegas Presiden dalam sambutannya.

Presiden meminta agar semua koperasi di Indonesia untuk berbenah diri dan juga menyarankan para pelaku usaha koperasi di Indonesia untuk saling bergabung sehingga akan membuat sebuah usaha memiliki skala ekonomi yang tinggi. “Negara saja bergabung, ya kan? Uni Eropa bergabung, TPP bergabung, RCEP bergabung, ASEAN bergabung,” ujar Presiden.  Dengan bergabung ke dalam satu kesatuan maka akan diperoleh kemudahan pembiayaan dari pihak perbankan. Selain itu, rencana bisnis juga akan lebih mudah untuk dibuat. “Dapatnya kalo pinjam tidak hanya Rp20 juta, karena bareng-bareng pinjamnya bisa seperti korporasi, Rp2 triliun-Rp3 triliun. Ini yang bisa efisien dan bisa bersaing,” jelas Presiden.

Presiden menegaskan bahwa ekonomi yang benar adalah ekonomi Pancasila. “Ekonomi yang betul adalah ekonomi gotong royong. Hanya melaksanakannya seperti apa ini yang harus dimodifikasi dan dicarikan cara agar bisa berkompetisi di lapangan,” tegasnya disambut tepuk tangan hadirin. Di penghujung pengantarnya, Presiden berharap para pelaku usaha benar-benar mau bergotong-royong menyongsong persaingan global. Sebab, menurutnya, gotong royong adalah cerminan dari ekonomi nasional.

Petangnya di hari itu juga, Presiden Jokowi sudah berada di Medan untuk acara sosialisasi amnesti pajak. Presiden mengemukakan, semua negara saat ini bersaing untuk mendatangkan arus uang masuk, padahal kita memiliki uang uang itu. “Bukan uang siapa-siapa, itu uang kita. Ada yang ditaruh di bawah bantal. Saya tahu, ada yang ditaruh di bank Swiss, ada yang ditaruh di Hongkong, ada yang ditaruh di BPI, ada yg ditaruh di Singapura. Datanya ada di kantong saya,” kata Presiden Jokowi dalam sosialisasi amnesti pajak, di Medan, Sumatera Utara.

Presiden kembali mengingatkan bahwa kita hidup dan makan di Indonesia, kita bertempat tinggal di Indonesia. Kita juga mendapat kemudahan dari pemerintah mencari rejeki di Indonesia. Karena itu, Presiden menilai, kalau ada uang ditempatkan di luar negeri tidak pantas sebetulnya.