Presiden Jokowi menyampaikan penghormatan atas kunjungan Presiden Petro Poroshenko beserta seluruh delegasi setelah kunjungan Presiden Ukraina yang terakhir 20 tahun lalu.

“Pertemuan saya dengan Presiden Poroshenko berlangsung sangat produktif dan Indonesia tidak pernah lupa akan jasa Ukraina karena delegasi Ukraina lah yang pertama telah mengajukan Indonesian Question di PBB pada tahun 1946,” tutur Presiden Jokowi usai pertemuan bilateral saat keterangan pers bersama di Istana Merdeka, Jakarta (5/8). Upacara penyambutan dimulai sejak kedatangan Presiden Ukraina beserta istri dari Monumen Nasional diiringi oleh Pasukan Pengaman Presiden berkuda dan disambut oleh sejumlah pelajar SD berbaju adat nasional Indonesia yang mengibarkan bendera kedua negara di halaman Istana Merdeka.

Presiden menyampaikan bahwa Ukraina merupakan mitra dagang kedua terbesar di wilayah Eropa Timur dan Tengah. “Indonesia mengharapkan terciptanya stabilitas politik dan ekonomi di Ukraina,” tambah Presiden ke-7 Republik Indonesia (RI). Kedua negara telah menjajaki beberapa penguatan kerja sama di bidang perdagangan dan investasi. Antara lain akses pasar bagi produk unggulan Indonesia seperti CPO (minyak sawit mentah), minyak kelapa, dan kertas serta perluasan distribusi produk farmasi dan alat kesehatan dari Indonesia ke Ukraina.

Hal lain yang dibicarakan oleh kedua kepala negara adalah mengenai isu internasional dan penandatangan empat perjanjian di berbagai bidang. “Kami juga bertukar pikiran mengenai sejumlah isu strategis di tingkat internasional dan kita menyambut baik penandatangan empat perjanjian di bidang pertanian, bebas visa, perlatihan diplomatik, dan di bidang pertahanan,” ujar Presiden Jokowi di akhir pernyataan pers.

Usai pertemuan Presiden Jokowi dan Presiden Petro Poroshenko, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menyampaikan bahwa dalam pertemuan tadi kedua Presiden lebih banyak berbicara mengenai upaya untuk meningkatkan kerja sama ekonomi. “Kedua presiden sepakat bahwa tahun depan kita akan memulai kembali pertemuan joint economic commission. Komisi ini sudah dalam beberapa tahun belum pernah melakukan pertemuan kembali,” ujar Menlu.

Menlu menyampaikan bahwa ada beberapa bidang kerja sama untuk dibahas lebih lanjut dalam pertemuan economic comission, misalnya mengenai masalah pertanian, dan tourism. “Intinya bahwa di dalam perdagangan dan investasi terdapat potensi yang sangat tinggi karena produk yang dihasilkan oleh masing-masing negara tidak saling berkompetisi satu sama lain,” tambah Menlu. Presiden Ukraina juga sudah menyatakan dukungannya bagi  Indonesia menjadi kandidat sebagai United Nations (UN) Security Council untuk tahun 2019-2020.

Hasil pertemuan adalah penandatanganan 4 nota kesepahaman, yaitu (1) Bebas visa untuk pemegang paspor diplomatik dan paspor dinas, (2) Pelatihan diplomatik. Para diplomat kedua negara akan bertukar untuk dididik di masing-masing diplomatic training center. (3) Bidang pertanian, antara lain mengenai riset dan teknologi pertanian, pertukaran ahli di bidang pertanian dan sampel produk pertanian, kerja sama peternakan hewan, kerja sama karantina hewan dan tumbuhan, pengembangan produk makanan dan mendorong investasi pertanian. (4) MOU Bidang pertahanan, antara lain exchange kunjungan, kerja sama di bidang industri pertahanan dan logistik, serta pertukaran informasi di bidang pertahanan dan kemiliteran.

Dalam agenda menerima kunjungan tamu negara ini, Presiden Jokowi didampingi oleh Menseneg Prastikno, Seskab Pramono Anung, Menhan Ryamizard Ryacudu, Menlu Retno Marsudi, dan Mentan Amran Sulaiman.