Dengan 120 juta orang miskin, ASEAN harus memastikan pencapaian Agenda 2030 di bidang pengentasan kemiskinan. Hal ini  adalah kerja sama pelatihan kejuruan, peningkatan kapasitas produksi, dan inovasi UMKM serta akses terhadap keuangan inklusif.

Berbicara pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN – UN ke-8  dan dihadapan Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki Moon, Presiden Joko Widodo  menekankan  pentingnya mengentaskan kemiskinan dan kerja sama kesehatan.

“Penting bagi ASEAN untuk memastikan bahwa program pengentasan kemiskinan masuk dalam agenda Pembangunan Berkelanjutan 2030,” ujar Presiden Jokowi.

Sementara di bidang kesehatan, Presiden Jokowi berharap kedua organisasi  bekerja sama meningkatkan ketahanan kawasan terhadap wabah penyakit menular seperti SARS, flu burung, AIDS maupun penyakit tidak menular seperti  jantung, kanker, atau diabetes. Kerja sama tersebut dapat dilakukan melalui penelitian bersama antar institusi atau ahli, pelatihan bersama dan kerja sama dalam pencegahan, deteksi dini dan tanggap darurat penyakit pandemik.

Presiden Jokowi juga mengemukakan ASEAN merupakan ekonomi terbesar ke-7 di dunia dengan  PDB sekitar USD 2,6 Triliun. ASEAN juga memiliki kawasan yang stabil dan damai. Oleh karena itu, dengan segala aset dan potensinya, ASEAN dapat berkontribusi dalam beberapa agenda PBB, diantaranya pembangunan berkelanjutan dan perdamaian dunia. “ASEAN memiliki semua aset untuk menjadi mitra utama bagi PBB”, ucap Presiden Jokowi.

Terkait masalah perdamaian dunia, Presiden Jokowi kembali menyerukan ASEAN dan PBB untuk menjadikan masalah Palestina menjadi isu prioritas dan mendukung langkah Palestina mewujudkan kemerdekaan dan mendorong kembali perundingan damai Palestina-Israel berdasarkan two –state solution.