Presiden Joko Widodo memimpin rapat terbatas yang membahas perumusan citra bangsa (nation branding). Pemerintah berkomitmen untuk membangun gambaran positif yang kuat untuk memperkuat identitas kebangsaan Indonesia di mata dunia internasional, sekaligus meningkatkan daya saing di antara bangsa-bangsa.

 

Dalam arahan rapat terbatas yang diselenggarakan di Kantor Kepresidenan, Jakarta, 27 September 2016, Presiden menghendaki pembangunan citra bangsa dilakukan secara terintegrasi dan menghilangkan egosentrisme sektoral di antara kementerian dan lembaga. Presiden mengingatkan, masih melihat pameran-pameran atau keikutsertaan Indonesia di ajang internasional dilakukan secara terpisah dan berjalan sendiri-sendiri, dengan stand yang juga berdiri sendiri.

“Yang seperti itu justru tidak memperkuat citra bangsa secara positif, tetapi justru mengurangi,” tegas Presiden. Diingatkan pula bahwa antara kementerian yang satu dengan kementerian yang lain masih menggunakan istilah yang berbeda-beda dalam mempromosikan Indonesia. Misalnya ada yang menggunakan Remarkable Indonesia, ada pula Wonderful Indonesia.

Citra bangsa atau nation branding bukanlah soal pembuatan logo dan jargon secara instan. Citra diri sebuah bangsa adalah sebuah proses yang melibatkan warga negara, khususnya anak-anak muda kita, tentang Indonesia seperti apa yang ingin mereka lihat dalam 30 tahun mendatang. Indonesia ingin dilihat oleh dunia sebagai bangsa yang seperti apa? Apa yang membedakan Indonesia dari negara lain?

 

Gambaran Sekilas

Berdasarkan pemeringkatan yang dilakukan oleh The Good Country Index 2016, Indonesia menempati peringkat 77 dari 163 negara yang disurvei dalam urusan nation branding. Sedangkan berdasarkan pemeringkatan oleh Future Brand 2014-2015, Indonesia berada di urutan 66 dari 118 negara yang disurvei.

Negara-negara mana yang memiliki peringkat tertinggi dalam survei-survei tersebut? Lima negara teratas berdasarkan The Good Country Index 2016 adalah Swedia, Denmark, Belanda, Inggris, dan Swiss. Sedangkan berdasarkan Future Brand 2014-2015, lima negara peringkat teratas berturut-turut adalah Jepang, Swiss, Jerman, Swedia, dan Kanada.

Jika ditelisik di antara kedua pemeringkatan tersebut, nama Swiss dan Swedia selalu berada di dalam daftar. Bagaimana sebuah negeri sekecil Swiss, atau bangsa seperti Swedia dapat memiliki citra bangsa yang sangat kokoh dibandingkan dengan negara-negara yang secara ekonomi, jumlah penduduk, luas wilayah, ataupun politik lebih besar dari mereka, adalah hal yang perlu dipelajari dan dicontoh.

Dengan citra tentang bangsa yang sangat kuat, kedua negara tersebut sudah pasti juga menikmati manfaat secara ekonomi.

Oleh karena itu, secara khusus Presiden Jokowi menekankan bahwa perumusan tentang citra bangsa harus menjadi soft power dalam diplomasi Indonesia di masa depan. Ada tiga sektor yang menjadi fokus atau sasaran dalam proses ini, yakni investasi, perdagangan, dan pariwisata.

“Indonesia harus memiliki citra atau reputasi yang positif di dunia internasional, sehingga akan memperkuat kebanggaan identitas nasional kita sebagai bangsa sekaligus meningkatkan daya saing negara kita,” kata Presiden. Ditambahkannya, “Kita harus bisa menciptakan diferensiasi dan positioning yang jelas dalam diplomasi internasional,” tegas Presiden.

Presiden meminta supaya langkah membangun citra dan reputasi positif tidak berhenti di iklan, tetapi betul-betul bisa kita jumpai dalam realitas sehari-hari.

Rapat terbatas juga dihadiri oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla dan sejumlah Menteri Kabinet Kerja antara lain Menko Polhukam Wiranto, Menko Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Menteri Pariwisata Arief Yahya, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukito, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendi, Menteri BUMN Rini Soemarno, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf, Kepala Komite Ekonomi dan Industri Nasional Soetrisno Bachir, dan Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki.