Selain itu presiden juga berharap MTQ mampu membumikan Al-Quran, menjadikan Al-Quran sebagai napas. Pegangan hidup yang hakiki, dan sebagai kepribadian.

Pandangan di atas disampaikan Presiden Joko Widodo saat membuka Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional ke-26 dan Konferensi Islam Internasional Washatiyyah di Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat, Sabtu, 30 Juli 2016.
Perhelatan yang dihadiri 1.200 peserta dari berbagai provinsi di Indonesia itu dilangsungkan di Astaka Utama Islamic Centre. Lagu kebangsaan Indonesia Raya mengawali acara yang dimulai pukul 20.00 WITA.

Dalam sambutannya, Presiden menggarisbawahi sudah saatnya Indonesia menjadi sumber pemikiran Islam dunia. “Negara-negara lain harus juga melihat dan belajar Islam dari Indonesia karena Islam di Indonesia itu sudah seperti resep obat yang paten, yaitu Islam Washatiyyah, Islam moderat. Sedangkan negara-negara lain masih mencari-cari formulanya,” kata Presiden.

Untuk itu Presiden telah menandatangani Peraturan Presiden Nomor 57 Tahun 2016 tentang pendirian Universitas Islam Internasional Indonesia. “Harapan saya, Universitas ini akan menjadi sumber ilmu Islam, sumber cahaya moral Islam, dan benteng bagi tegaknya nilai-nilai Islam yang berkeseimbangan (tawasun), Islam yang toleran (tasamuh), dan Islam yang egaliter (musawah),” pesan Presiden.
Presiden berharap gelaran MTQ dapat terus berkembang dalam segala aspek dan mampu mewarnai wajah umat Islam dan bangsa Indonesia. “Saya memiliki harapan, MTQ yang telah membudaya di tengah masyarakat kita, selain berkembang dari segi syiar dan kualitas penyelenggaraannya, juga dapat mewarnai wajah umat Islam dan bangsa Indonesia,” ucap Presiden membuka sambutannya.

Presiden mengingatkan agar MTQ Nasional  mampu membumikan Al-Quran sehingga lebih mudah dipahami masyarakat. “Tujuan dan makna kegiatan MTQ, prestasi adalah yang utama. Namun yang lebih utama lagi adalah syiar dan dakwah tentang bagaimana membumikan Al-Quran. Harus menjadikan Al-Quran sebagai napas kita, sebagai pegangan hidup kita yang hakiki dan sebagai kepribadian kita,” ucap Presiden.

Saat  ini, ucap Presiden, banyak orang yang mudah mencela, mengumpat, menjelek-jelekkan orang lain hingga sopan-santun diabaikan. Ungkapan-ungkapan yang pedas, ujaran kebencian yang asal bunyi itu bertebaran luar biasa khususnya di ranah media sosial.

“Ungkapan-ungkapan tersebut semakin menghebat terutama ketika terjadi kontestasi politik seperti ketika pemilihan gubernur, pemilihan bupati, pemilihan walikota dan pemilihan presiden, serta pemilihan anggota legislatif. Kandidat lain tidak lagi dilihat sebagai sahabat, sebagai partner, tetapi sebagai musuh yang harus dihabisi,” ujar Presiden.

Presiden berharap kepada seluruh pihak untuk memegang teguh dan mengamalkan kandungan Quran dalam kehidupan sehari-hari. “Karena ketika kita menggaungkan Al-Quran, maka sebenarnya kita sedang mengagungkan nilai-nilai kemanusiaan, nilai-nilai kesalehan sosial, nilai-nilai yang mengutamakan pembelaan pada yang lemah, mengutamakan pembelaan yang fakir, dan mengutamakan pembelaan yang miskin. Bukan nilai-nilai keserakahan seperti mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya,” terang Presiden.

Di akhir sambutannya, Presiden berpesan kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk menjaga kebersamaan dan menumbuhkan optimisme dalam menghadapi persaingan dan tantangan global yang sedang dihadapi bangsa Indonesia.

“Seperti sejuknya hati kita setelah melafalkan Al-Quran, kita pun ingin kehidupan berbangsa dan bernegara juga sejuk, damai, dan indah,” tutup Presiden.

Presiden juga berharap agar MTQ Nasional dan Konferensi Internasional Islam Washatiyyah sebagai stimulan untuk meningkatkan penghayatan, kecintaan dan pengamalan ajaran Islam yang rahmatan lil-alamin.

Sebagai tanda peresmian pembukaan MTQ Tingkat Nasional ke-26, presiden langsung menabuh Gendang Beleg. Mendampingi Presiden saat penabuhan Gendang Beleg, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dan Gubernur NTB Muhammad Zainul Majdi.

Hadir pada acara pembukaan MTQ ke-26, Sekjen Rabithah Alam Islami Yang Mulia Abdullah Abdul Muhsin Atturki, Wakil Ketua MPR Hidayat Nurwahid, Wakil Ketua DPD Farouk Muhammad, Menteri Sekretaris Negara Pratikno dan para duta besar negara-negara sahabat.