Karakter bangsa Indonesia pada dasarnya adalah cinta damai dan toleran. Untuk memperkuat karakter itu, perlu ruang seni budaya dan berbagai kegiatan seperti pameran lukisan koleksi istana. 

Kerusuhan di Tanjung Balai yang sudah teratasi sangat tidak sesuai dengan karakter budaya bangsa Indonesia yang pada dasarnya cinta damai. Namun tindak kekerasan bisa terpicu oleh berbagai sentimen kelompok, agama maupun suku. Semua itu bisa diantisipasi melalui media seni dan budaya. Presiden Jokowi dalam sambutan pembukaan Pameran Koleksi Seni Rupa Istana Kepresidenan Republik Indonesia “GORESAN JUANG KEMERDEKAAN” di Galeri Nasional, Jakarta (1/8) menjelaskan bahwa koleksi benda seni yang dimiliki Istana jumlahnya sangat banyak. Untuk lukisan saja jumlahnya kurang lebih 3.000. “Ini hampir, hampir semuanya adalah koleksi Presiden pertama Republik Indonesia, Bung Karno, yang selama ini hanya disimpan,” ujarnya.

Di Istana Merdeka, Presiden melihat lukisan yang disimpan dan dipajang juga hanya sedikit. Sementara yang di Istana Bogor ada satu gudang dan hanya disimpan di gudang. Yang dipajang juga hanya sedikit. “Masyarakat tidak bisa menikmati, masyarakat tidak bisa menghargai, mengapresiasi, sehingga masyarakat tidak merasa ikut memiliki. Inilah kenapa pada hari ini kita pamerkan,” ungkap Presiden. Dari tema-tema lukisan tersebut, masyarakat bisa belajar banyak. Terutama generasi muda bisa belajar banyak, bisa memetik nilai-nilai keutamaan, nilai-nilai perjuangan dan nilai-nilai persatuan. Mereka juga bisa membangun imajinasi yang indah tentang bangsa Indonesia, tentang tumpah darah Indonesia, tentang sopan satun dan kehalusan budi masyarakat Indonesia dan tentang peradaban kita, Indonesia.

“Pameran lukisan Koleksi Istana ini bisa menginspirasi kita semua. Bisa memicu dan memacu semangat kita. Bisa memperkuat karakter bangsa, agar nantinya kita menjadi bangsa pemenang,” ujar Presiden seraya menuturkan, bahwa tantangan ke depan semakin berat dan tidak mudah. Dalam acara yang dihadiri oleh Presiden RI ke-5, Megawati Soekarnoputri itu, Presiden mengingatkan masyarakat untuk menjaga optimisme, semangat gotong royong, kerja keras dan kreativitas yang tinggi agar bangsa ini tidak digulung oleh arus sejarah.

Presiden ingin ke depan akan semakin banyak koleksi lukisan dan benda seni Istana yang akan dipamerkan dan dinikmati masyarakat. “Semoga langkah ini menjadi bagian tugas sejarah kita untuk membangun bangsa Indonesia menjadi bangsa pemenang yang berdaulat, yang mandiri, berdikari, berdaya saing, dan sejahtera,” tegasnya.

Terkait soal kerusuhan di Kota Tanjung Balai, Sumatera Utara (29/7), Presiden mengaku setiap saat telah dilapori oleh Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Pol. Tito Karnavian. “Kapolri sudah saya perintahkan langsung detik itu juga turun ke lapangan menyelesaikan, terutama mengumpulkan tokoh-tokoh. Sehingga jangan sampai isu-isu SARA seperti itu melebar kemana-mana,” kata Presiden Jokowi kepada wartawan usai membuka Pameran Koleksi Seni Rupa Istana Kepresidenan Republik Indonesia.

Menurut Presiden, kita semuanya harus belajar dari sini bahwa semuanya harus mengayomi. Mayoritas harus mengayomi minoritas, yang minoritas juga saling bertoleransi karena kekuatan bangsa kita ini adalah keberagaman. “Kekuatan kita ini adalah perbedaan. Kekuatan kita ada di situ,” ujarnya. Presiden bersyukur karena pihak-pihak yang terkait dengan terjadinya aksi kerusuhan dan pengrusakan sejumlah tempat ibadah Budha itu sudah melakukan pertemuan.

Pemerintah akan menindak tegas semua yang bertindak anarkis, termasuk di dalamnya yang main hakim sendiri, karena masalah SARA di negara kita ini harus betul-betul ditiadakan. Masalah SARA bisa diantisipasi melalui penguatan kehidupan seni-budaya. Melalui medium seni-budaya yang diwujudkan dalam bentuk kegiatan seperti pameran lukisan koleksi istana, pementasan wayang kulit, penulisan karya sastra, dan lain sebagainya, masyarakat akan terasah kehalusan budi-pekertinya.