Memperteguh kebhinekaan adalah fondasi bagi seluruh elemen bangsa tanpa kecuali agar hidup bergandengan-tangan demi kebangkitan bangsa.

Presiden Jokowi melalui Nawacita mengajak seluruh elemen bangsa untuk bergandengan tangan. Bahu-membahu membangun Indonesia. Butir ke sembilan Nawacita jelas menegaskan hal ini, yaitu dengan ajakan untuk memperteguh kebhinekaan dan memperkuat restorasi sosial Indonesia. Memperteguh kebhinekaan adalah fondasi bagi seluruh elemen bangsa tanpa membedakan suku, agama, ras, pilihan politik, status sosial-ekonomi dan gender, untuk bisa hidup bergandengan-tangan.

Memperteguh kebhinekaan adalah revitalisasi nilai-nilai keberagaman dalam tatanan masyarakat Indonesia yang demokratis dan beradilan sosial. Bahwa kebhinekaan adalah kekayaan luar biasa yang dimiliki bangsa kita, bukan jamannya lagi perbedaan menjadi pemicu konflik horizontal. Apalagi di kalangan generasi muda saat ini yang banyak dibentuk oleh nilai-nilai baru kehidupan global yang mengusung nilai-nilai kesetaraan dan pluralisme. Ketika dunia terkoneksi dan semakin borderless maka keberagaman seharusnya memang menjadi nilai dasar kehidupan.

Banyak kelompok anak muda di Jakarta membuktikan bahwa mereka adalah generasi muda yang menghargai kesetaraan dan keberagaman. Salah satunya bahkan ada yang mengajak kelompok penyandang disabilitas dan masyarakat umum untuk berinteraksi di ruang publik dalam acara sederhana yang mereka namakan Holding Hands Movement. Sebuah gerakan untuk mengajak bergandengan-tangan antara penyandang disabilitas dan non disabilitas. Tujuannya sederhana, yaitu agar saling mengenal lebih baik sehingga tidak terjadi salah persepsi dan bisa memahami dengan benar dan proporsional satu sama lain. Holding Hands Movement pernah digelar di Bunderan HI dan beberapa kota lain oleh kelompok anak muda peduli disabilitas Jakarta, Yogyakarta dan Bandung.

Holding Hands Movement adalah sebuah tindakan kongkrit restorasi sosial seperti tertera dalam butir ke Sembilan Nawacita. Justru karena konsepnya sangat sederhana, gerakan semacam itu menjadi sangat membumi dan berdampak langsung pada masyarakat. Itulah  semangat yang mendasari program-program Presiden Jokowi untuk memajukan Indonesia, meningkatkan daya saing, membangun dari desa dan pinggiran dan meningkatkan kualitas hidup rakyat Indonesia.

Presiden Jokowi tegas mengubah orientasi kebijakan pembangunan dari Jawa Sentris menjadi Indonesia Sentris. Ini adalah bagian dari strategi menuju kemajuan dan kesejahteraan bangsa sekaligus juga wujud dari semangat untuk memperkuat kebhinekaan dan melakukan restorasi sosial. Melalui kebijakan pembangunan Indonesia sentris, pemerataan kesejahteraan bisa langsung dirasakan dampaknya oleh masyarakat. Dampak langsung juga dirasakan warga Jakarta atau Yogya yang mengikuti holding hands movement. Ketika mereka berjalan dengan mata ditutup blind folds, mereka langsung bisa memahami bagaimana rasanya menjadi seorang tunanetra.

Dari pengalaman selama 10 menit itu, masyarakat non disabilitas bisa merasakan tumbuhnya empati, rasa kagum dan hormat di hati mereka terhadap penyandang disabilitas. Bukan semata belas kasihan. Kebhinekaan pun semakin teguh dan mendobrak batas-batas atau sekat-sekat yang selama ini memisahkan masyarakat penyandang disabilitas dan non disabilitas. Lalu restorasi sosial pun terjadi hanya dengan bergandengan tangan. Bhineka Tunggal Ika, begitu semboyan yang dideklarasikan Ir. Soekarno, founding father kita dan tertulis di atas pita yang dicengkram Sang Garuda. Dengan bergandengan-tangan, kita bangkit dan Berjaya.