Penyakit degeneratif, diabetes menjadi penyumbang terbesar klaim BPJS Kesehatan. Kampanye pola  hidup sehat bisa mengurangi mismatch pemasukan dan pengeluaran.  

Undang Undang no. 36/2009 tentang Kesehatan menegaskan bahwa setiap orang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh akses kesehatan dan pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, dan terjangkau.

Akses kesehatan untuk seluruh rakyat menjadi kunci bagi tumbuhnya sumber daya manusia yang sehat dan berdaya saing tinggi.

Sayangnya, biaya kesehatan yang besar sering menjadi kendala  bagi masyarakat untuk memperolah pelayanan kesehatan. Oleh karena itu asuransi kesehatan menjadi pilihan yang rasional. Tujuannya  menanggung  seluruh biaya kesehatan  yang kadang sangat besar dari kantong sendiri.

Badan Penyelenggara Jaminan Sosial  (BPJS) Kesehatan adalah salah satu mekanisme asuransi kesehatan. Badan ini ditugaskan khusus oleh pemerintah untuk menyelenggarakan jaminan pemeliharaan kesehatan bagi  seluruh rakyat Indonesia. Biaya ditanggung bersama-sama.  Peserta yang sehat menanggung peserta yang sakit.

Oleh karena itu untuk menjadi peserta sebaiknya jangan menunggu sakit. Sebaiknya  sekali  terdaftar selalu  membayar angsuran  rutin baik dalam kondisi  sehat maupun sakit.

Tapi dalam praktiknya  ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Cukup banyak peserta, baru mendaftar  ketika sudah dalam keadaan sakit. Secara aturan memang tidak ada yang dilanggar. Namun bukanlah ini akan menggerogoti  biaya sebelum dananya terakumulasi.

Ada juga kasus, peserta berhenti  dari keikutsertaan setelah dia  kembali sehat.  Cara ini tentu akan merugikan peserta yang lain. Bukankah prinsip asuransi  BPJS Kesehatan ini adalah gotong royong.

Persoalan lain adalah tersedotnya biaya untuk penyakit degenerative yang berat, khususnya diabetes. Penyakit diabetes termasuk dalam penyakit yang menghabiskan biaya kesehatan besar karena tidak bisa disembuhkan dan kerap menimbulkan komplikasi.Besarnya biaya kesehatan akibat diabetes sekitar Rp 3,2 triliun atau sekitar 33 persen biaya kesehatan yang dikeluarkan oleh BPJS Kesehatan hingga 2015.

Para penderita diabetes ini datang ke fasilitas kesehatan umumnya sudah mengalami komplikasi berbagai penyakit lain, seperti luka gangren, gangguan penglihatan, gagal ginjal, penyakit jantung, dan stroke.

Berbagai hal di atas membuat besaran iuran BPJS tidak klop dengan jumlah pengeluaran. Kepala Humas BPJS Kesehatan Irfan Humaidi menyebut hal tersebut sebagai mismatch atau ketidaksesuaian. Pada tahun 2014 ada mismatch sebesar Rp 3,3 triliun dan tahun 2015 mencapai kisaran Rp 5,85 triliun.

Untuk memperbaiki cash flow ada 2 jalan yang bisa dilakukan. Pertama kampanye yang lebih gencar untuk meningkatkan kepatuhan peserta dalam membayar iuran. Penyakit bisa datang kapan saja dan tidak bisa ditunda. Jadi menjadi peserta BPJS selagi sehat adalah jalan terbaik untuk berjaga-jaga. Sehingga saat sakit kartu BPJS sudah langsung bisa digunakan, tanpa perlu menunggu tenggang waktu.

Selain itu meningkatkan ketaatan pembayaran secara rutin  bagi peserta adalah keharusan. Bukanlkan asuransi ini mengusung semangat kebersamaan. Dimana yang sehat membantu saudara yang sakit. Begitu juga sebaliknya.

Dalam hal penyakit degeneratif seperti diabetes, yang perlu dilakukan adalah menggugah kesadaran masyarakat bahwa penyakit ini berhubungan erat dengan gaya hidup. Penyebabnya  bersumber pada pola makan, pola hidup, dan kurang gerak.

Makanan tinggi lemak, kurang istirahat, stres berlebihan, dan bermalas-malasan menjadi penyebab utama. Hal yang sebenarnya bisa dihindar, jika kita mau. Saatnya kembali pola makan  tinggi serat, mengonsumsi sayur dan buah, hidup seimbang menjauhi stress, dan berolahraga 3 kali seminggu paling kurang 40 menit per hari.

Jika ini dilakukan secara teratur maka dampaknya  besar bagi kesehatan dan akan mengurangi penderita diabetes secara signifikan. Alhasil, klaim kesehatan yang berasal dari penyakit diabetes juga akan berkurang.

Semboyan lebih baik mencegah daripada mengobati mendapat makna di sini.