Salah satu kosakata yang berkali-kali ditegaskan Presiden Jokowi dalam berbagai kesempatan adalah Indonesia itu bangsa besar. Oleh karenanya, mentalitas sebagai bangsa yang besar harus dimiliki bangsa ini. Dibangun!

Dengan mengutip kalimat Trisakti Bung Karno, yakni berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi, dan berkepribadian dalam bidang budaya, Presiden ingin mengontekstualisasi dan mengaktualisasi pesan politik tersebut dalam konteks masa kini. Upaya untuk menunjukkan dan meyakinkan diri sebagai bangsa besar, hanya bisa dicapai melalui batu-bata-batu bata yang disusun secara bersama-sama oleh seluruh bangsa ini, baik di bidang politik, ekonomi, maupun kebudayaan.

Sebagai pemimpin tertinggi, Presiden Jokowi telah menunjukkan kapasitasnya mengembalikan dan menata ulang Indonesia sebagai bangsa yang besar, sejak hari pertama pemerintahannya sampai dengan tahun kedua. Strategi pemerintahan untuk meletakkan fondasi di tahun pertama dan melakukan akselerasi di tahun kedua diimbangi dan diikuti dengan konsolidasi politik di dalam negeri.

Dalam konteks itu, harus diakui bahwa masih banyak persoalan yang tercecer –justru karena besar, keragaman, dan keluasan negeri ini– dan memerlukan gotong royong dari setiap elemen masyarakat, melalui kepemimpinan yang kredibel, dihormati, dan diakui oleh negara-negara tetangga.

Citra Aktual Bangsa
Harus diakui, gambaran bangsa-bangsa lain tentang Indonesia masih memperlihatkan “kekurangan” kita, sehingga kekurangan tersebut berimplikasi secara luas dalam berbagai bidang. Salah satunya adalah ekonomi.

Dengan kekayaan alam dan keragaman budaya yang dimiliki, Indonesia hanya bisa menarik wisatawan sebanyak 10 juta orang pada tahun 2015. Bandingkan dengan 26 juta yang digaet Malaysia, 30 juta yang ditarik Thailand, dan 15 juta yang disabet Singapura. Demikian sensus yang dibuat oleh CEIC & Statistics Singapore.

Dari sumber yang sama, dalam urusan ekspor non migas, terpapar data setali tiga uang. Ekspor kita kalah dari Malaysia dan Thailand, dan hanya lebih tinggi 14 Miliar USD dibandingkan Singapura yang sebesar 118 Miliar USD. Jika Ekspor dibandingkan dengan PDB, maka persentase Indonesia juga masih paling kecil (14%), di antara negara-negara tetangga seperti Malaysia (47%), Thailand (49%), dan Singapura (38%).

Ukuran lain yang juga penting adalah investasi asing langsung per kapita penduduk. Singapura, dengan jumlah penduduk kecil, mencapai 11.804 USD per kapita. Sementara Malaysia dan Thailand masing masing 316 dan 122 USD. Indonesia? Angkanya masih di bawah 100 USD, tepatnya adalah 60 USD.

Berdasarkan riset lembaga lain, Future Brand, tahun 2014-2015, Indonesia juga berada di kelompok tengah cenderung ke bawah. Berdasarkan lima kriteria yakni sistem nilai (value systems or political freedom), kualitas hidup, potensi bisnis, budaya dan heritage, pariwisata, dan kemampuan memproduksi, Indonesia berada di urutan 66 dari 118 negara yang disurvei.

Data yang lebih baru berdasarkan The Good Country Index 2016, posisi Indonesia berada di peringkat 77 dari 163 yang disurvei berdasarkan 7 kriteria yakni dalam bidang (1) sains dan teknologi, (2) kebudayaan, (3) keamanan dan perdamaian internasional, (4) world order, (5) planet and climate, (6) prosperity and equality, dan (7) health and wellbeing.

Oleh karena itu, penting bagi sebuah bangsa, tak terkecuali Indonesia, memiliki nation branding (citra bangsa), untuk menemukan identitas unik, nilai, dan janji sebuah bangsa terhadap dirinya dan anak-anak bangsa di masa depan. Selain itu, citra bangsa diperlukan agar janji itu menjadi sebuah cita-cita yang dibumikan, dimanifestasikan, dalam kehidupan sehari-hari masyarakatnya.

Bagi Indonesia, citra bangsa juga penting untuk dimiliki, supaya Indonesia menjadi lebih kompetitif di arena global, menambah turis yang datang berkunjung ke negeri ini, menambah dan meningkatkan investasi di Indonesia, dan meningkatkan nilai ekspor non-migas dari Indonesia.

Itulah yang melandasi Presiden untuk menggelar dan membahas urusan citra bangsa ini dalam sebuah rapat terbatas. Rapat tersebut menjadi landasan untuk mengembalikan upaya pembangunan dan pembentukan citra bangsa menjadi lebih terkonsolidasi dan terkoordinasi, langsung di bawah kendali Presiden sebagai kepala pemerintahan.

Dimulai dari Pemimpin
Sebagai kelapa negara sekaligus kepala pemerintahan, Jokowi telah berada di garis paling depan dalam upayanya membangun dan memperjuangkan citra bangsa di kancah internasional.

Dalam daftar The World’s 500 Most Influential Muslims yang dikeluarkan oleh TheMuslim500.com,  nama Jokowi berada di urutan ke-13 dari 500 tokoh Muslim sedunia. Dengan populasi penduduk Muslim di seluruh jagad sebesar 1,76 miliar jiwa atau 23,85% dari seluruh populasi warga di kolong langit ini, pengaruh dan kapabilitas Jokowi telah melampaui wilayah batas negara.

Yang terakhir adalah pengakuan publik atas survei yang dilakukan oleh Museum Madame Tussauds untuk menambah koleksi patung lilinnya di Hongkong. Nama Presiden Jokowi kemudian terpilih dalam survei tersebut, sebagai tokoh politik yang dipilih responden untuk dibuatkan replika patungnya di Museum Madame Tussauds di Hongkong. Jokowi, akan menjadi orang kedua Indonesia setelah Soekarno yang akan menghiasi museum patung tokoh dunia tersebut.

Tidak Cukup Hanya Jokowi
Tentu saja, menciptakan dan membangun harga diri bangsa tak bisa dilakukan hanya oleh pemimpinnya sendirian. Pembangunan citra diri bangsa untuk menjadi bangsa yang terhormat dan disegani, adalah upaya seluruh bangsa ini. Artinya, bangsa ini harus memiliki kesadaran kolektif bahwa perubahan citra bangsa adalah tindakan kolektif.

Dalam konteks itulah, upaya tak kenal lelah Jokowi merangkul dan mengajak semua elemen bangsa untuk berpikir positif dan konstruktif dalam memandang diri dan bangsanya, menjadi penting. Lebih jauh lagi, Presiden Jokowi juga menegaskan sekaligus mengingatkan, pembentukan citra bangsa bukan sekadar menciptakan slogan atau logo.

Menggunakan cara pandang atau perspektif seperti itu, berbagai langkah dan gebrakan Presiden –pembangunan infrastruktur, pemberantasan pungutan-pungutan liar dalam konteks reformasi struktural, dan peningkatan kualitas manusia, senantiasa diletakkan dalam bingkai peningkatan daya saing bangsa, peningkatan citra diri bangsa di mata internasional, dan peningkatan kredibilitas bangsa di dunia internasional. Peningkatan…peningkatan….dan peningkatan. Itulah perasannya. Saripatinya.

Apa efek dan manfaatnya? Efek atau dampak dari seluruh peningkatan, tentu saja adalah kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat yang lebih besar. Jika hal itu dapat dicapai, ia akan memberi manfaat secara berlipat, menjadi bola salju yang menggerakkan seluruh potensi yang dimiliki bangsa ini menjadi manifes.