Peluncuran kapal RoRo dan persiapan peresmian pelabuhan Bungkutoko di Kendari membuka akses daerah dan meningkatkan daya saing yang kerap didengungkan Presiden.

“Kita harus optimis dan bergotong royong untuk kemajuan dan kemandirian bangsa,” kata Presiden Jokowi pada pidato perdana pelantikan Presiden RI di sidang paripurna MPR, 20 Oktober 2014.

Optimisme Presiden Jokowi dalam membangun Indonesia menjadi bangsa mandiri dibuktikan dengan mewujudkan butir Nawacita: membangun Indonesia dari pinggiran. Yakni, memperkuat daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan. Salah satunya diwujudkan oleh Kementerian Perhubungan melalui peluncuran KMP Bahteramas II yang berbasis di Surabaya, 20 Februari 2016. Kapal perintis buatan dalam negeri, termasuk jenis roof on foor off (roro) berbobot 500 DWT dengan kapasitas 300 penumpang dan 20 kendaraan.

KMP Bahteramas II dipesan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat beroperasi menghubungkan pelabuhan Amolengo, di Kabupaten Konawe dan pelabuhan Labuan di Kabupaten Buton Utara, Provinsi Sulawesi Tenggara. Peluncurannya itu berbarengan dengan peresmian kedua pelabuhan oleh Menteri Perhubungan Ignasius Jonan.

Sebelumnya, penyeberangan Amolengo-Labuan menggunakan perahu rakyat yang dikelola secara pribadi oleh masyarakat. Sehingga tingkat keamanan minim dan berbiaya tinggi. Dengan adanya pelabuhan ini masyarakat merasakan manfaatnya. Sebelumnya satu penumpang dewasa harus membayar tiket Rp 30.000, kini Rp 12.000. Satu kendaraan roda dua semula Rp 100.000, sekarang tinggal Rp 18.000. Biaya kendaraan roda empat cukup Rp 165.000.

Untuk menunjang aktivitas pelabuhan dan mempermudah mobilitas masyarakat menuju pelabuhan tersebut, pemerintah daerah Sulawesi Tenggara juga meningkatkan akses dengan membangun jalan Kendari ke pelabuhan Amolengo.

Konektivitas antar pelabuhan Amolengo dan Labuan ini mendorong perputaran ekonomi masyarakat setempat. Dampaknya, aktivitas pengiriman kebutuhan pokok di kedua pulau bisa lebih cepat serta menurunkan harga barang dan jasa.
Pelabuhan ini selanjutnya dikelola oleh Dinas Perhubungan dan Kominfo Provinsi Sulawesi Tenggara. Sedangkan kapal-kapal perintis yang beroperasi dikelola oleh Angkutan Sungai Danau Dan Perairan (ASDP) setempat.

Sementara itu Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kendari di bawah Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, siap menjalankan aktivitas pelabuhan Bungkutoko yang rencananya diresmikan oleh Presiden Jokowi. Fasilitas pelabuhan ini memiliki luas area daratan 353,5 x 200 m2, lapangan penumpukan 18.236 m2, gudang 60 x 20 m2, dan kantor seluas 15,5 x 25 m2. Sedangkan sisi lautnya memiliki dermaga seluas 180 x 20 m2, trestle 206 x 8 m2, dan causeway 150 x 8 m2. Dengan fasilitas seperti itu, pelabuhan Bungkutoko bisa disandari oleh kapal berbobot 6.000 DWT. Selain itu, fasilitas jalan utama di pelabuhan selebar 20 m.

Dengan kedalaman sandar pelabuhan 12 m, membuat pelabuhan ini memiliki tingkat keamanan yang baik dibandingkan dengan pelabuhan lain di Sulawesi Tenggara. Dengan fasilitas yang memadai, kepala KSOP Kendari Akhiriadi optimis, pelabuhan ini akan menjadi magnet pelaku usaha.

Lokasi pelabuhan Bungkutoko berada persis di mulut Teluk Kendari, tempat pertemuan lalu lintas keluar masuk dari Teluk Kendari serta dari Laut Banda. Letak geografis tersebut, menjadikan pelabuhan ini bernilai strategis melancarkan arus barang maupun orang ke kota Kendari.