Sasarannya, membangun sistem logistik nasional dan melancarkan arus barang. Muaranya memangkas  kesenjangan pendapatan daerah antara Jawa dan luar Jawa.

Ungkapan Indonesia Sentris relatif baru di benak masyarakat.  Kosa kata  ini muncul sebagai kritik atas prioritas pembangunan yang selama lebih dari tiga dasa warsa berpusat di Jawa atau Jawa Sentris. Istilah bernada sindiran ini tidak muncul serta merta.

Berbagai indikator ekonomi dan pembangunan memang mengarah ke sana. Dengan  luas  keseluruhan Jawa hanya 6,77 persen dari seluruh wilayah Indonesia,  Jawa  tampak superior. Pulau dengan penduduk terpadat di Indonesia ini  menikmati kelimpahan rezeki.

Sebuat saja  jumlah uang beredar, jaringan infrastruktur jalan, pelabuhan, bandar udara, rumah sakit, industri, pusat perdagangan, dsb. Semuanya berlimpah di Jawa. Apalagi, secara politik, Jawa ditopang oleh kebijakan pemerintah yang  memihak.

Mari kita lihat satu persatu  bagaimana Jawa selama ini memang berada di depan. Jumlah sekolah dasar (SD) di  Jawa yang berada di  bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2013/2014 sebanyak 68.584, Sumatera 35.125, Bali dan Nusatenggara 10.365, Sulawesi  15.872, dan Maluku serta Papua 6.413.

Bagaimana dengan fasilitas kesehatan dasar. Bila ditilik jumlah Puskesmas menurut provinsi pada tahun 2013, data Badan Pusat Statistik tahun 2015 menunjukkan – jumlah Puskesmas  seluruh provinsi di Jawa adalah 3.574. Sumatera 2.498, Bali dan Nusatenggara 640, Kalimantan 881, Sulawesi  1.253, Maluku dan Papua 849.

Apalagi jika kita lihat Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan 2010, yang dihitung dalam miliar rupiah. Jumlah PDB di Sumatera sebesar  1.774.934,9; Jawa 4,882.526,3; Bali dan Nusatenggara 249.171,2;, Kalimantan 794.06; Sulawesi  485.369.8; Maluku dan Papua 213.286.

Perbandingan besarnya  PDRB di Jawa dan luar Jawa mengindikasikan  bahwa dana mengalir deras dari daerah ke Jawa. Banyak daerah yang kaya sumber alam seperti diperah dan sarinya dikirim ke Jawa dan hanya  sedikit saja yang kembali ke daerah.  Akibatnya Jawa makin maju, sebaliknya daerah makin tertinggal.

Stimulus ekonomi di daerah menjadi terbatas, pertumbuhan stagnan, sehingga PDB daerah makin kecil.  Sebaliknya di Jawa, karena mendapatkan dana besar dan keperpihakan politik kondisinya makin maju. Alhasil dari waktu ke waktu kesenjangan antara Jawa dan Luar Jawa makin lebar.

Kesenjangan tersebut  akan dibalikkan oleh Jokowi dengan pernyataan Indonesia Sentris. Tol laut menjadi salah satu jawaban mengatasi ketimpangan ekonomi. Jokowi juga menyinggung program Tol Laut yang merupakan langkah pemerintah untuk menegaskan bahwa Indonesia merupakan bangsa maritim. Dengan Tol Laut sistem logistik antarpulau dan di dalam kepulauan akan terhubungkan. “Tol Laut itu menghubungkan pelabuhan-pelabuhan yang ada di Indonesia, distribusi barang akan semakin lancar sampai ke pelosok-pelosok. Kita jangan memunggungi laut. Saat ini baru ada 3 jalur tol laut, selanjutnya tahun ini juga akan dibangun lagi 6 jalur tol laut,” tutup Presiden.

Pada akhirnya Tol Laut adalah sarana menggerakkan mesin perekonomian ke seluruh daerah di Indonesia, bukan hanya Jawa. Sebuah perwujudan nyata Indonesia Sentris.