Berjalannya aktivitas armada Tol Laut pengangkut penumpang dan barang akan menciptakan banyak manfaat positif bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat sekaligus mewujudkan gagasan Poros Maritim Presiden Jokowi.

Akselerasi konektivitas antar pulau adalah langkah nyata kehadiran Negara untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Keterhubungan ini tercermin dalam program Tol Laut. Saat ini, dari 5 kapal yang direncanakan menghubungkan Jabodetabek-NTT, telah beroperasi satu armada kapal khusus pengangkut hewan ternak sapi bernama KM Camara Nusantara I. Kapal ini dapat mengangkut 500 ekor sapi sekali perjalanan dari peternak NTT dan NTB untuk didistribusikan ke beberapa daerah seperti Surabaya, Cirebon dan Jakarta. Selain mengurangi pendistribusian sapi-sapi impor, konektivitas yang tercipta dari program Tol Laut akan dapat menekan harga daging sapi di pasaran. Di sisi lain juga meningkatkan keinginan masyarakat daerah untuk lebih produktif dalam usaha ternak sapi sehingga meningkatkan perputaran roda perekonomian daerah.

Selain kapal pengangkut ternak, Presiden Jokowi juga telah meluncurkan dua armada kapal perintis untuk menunjang Tol Laut yang mengangkut barang dan manusia, yaitu KM Sabuk Nusantara 55 dan KM Sabuk Nusantara 56.  KM Sabuk Nusantara 55 beroperasi di daerah Kota Baru, Kalimantan Selatan, dan  KM Sabuk Nusantara 56 ditempatkan di Tanjung Perak, Surabaya. Kedua kapal penumpang dan barang itu, masing-masing dapat menampung 265 penumpang dengan muatan barang sejumlah 400 ton. Berjalannya aktivitas armada Tol Laut pengangkut barang dapat menciptakan banyak dampak positif. Salah satu dampak itu adalah mengurangi kesenjangan harga komoditas antar daerah dan mendorong perkembangan berbagai sektor penunjang kemandirian masyarakat karena adanya akselerasi konektivitas antar pulau.

Konektivitas antar pulau sangat penting dalam mempermudah aktivitas manusia di daerah atau provinsi yang harus mempergunakan moda transportasi laut sebagai penunjangnya. Sebelumnya, moda transportasi hanya menggunakan perahu-perahu motor kecil yang tingkat keselamatannya tidak memadai dan harganya cukup tinggi. Aktivitas pedagang kecil pun menjadi lebih mudah dengan adanya kapal-kapal perintis yang telah beroperasi. Selain lebih cepat dalam penyeberangan, harga tiket juga lebih murah, sehingga para pedagang dapat lebih meningkatkan laba penjualan dari dampak tersebut.

Upaya Pemerintah  dalam menegaskan kembali Indonesia sebagai bangsa maritim, salah satunya memang melalui Tol Laut. Presiden Jokowi terus meningkatkan pembangunan segala bentuk kebutuhan transportasi laut seperti akselerasi pembangunan setiap pelabuhan dan fasilitasnya serta pengadaan kapal-kapal perintis dengan tiket yang disubsidi Pemerintah. Diharapkan dalam waktu cepat dapat memenuhi kebutuhan pokok masyarakat dengan harga yang stabil dan terjangkau oleh masyarakat setempat.

Pelabuhan-pelabuhan yang telah diresmikan Presiden Jokowi, memiliki fasilitas yang cukup memadai diantaranya dilengkapi dengan tempat pengumpul yang cukup besar. Para nelayan pun dapat lebih meningkatkan hasil laut, karena memiliki tempat penampungan untuk hasil tangkapannya. Selain itu luas pelabuhan juga memadai, membuat para pelaku usaha antusias menggunakan pelabuhan-pelabuhan tersebut dalam aktivitas bongkar muat barang. Pembangunan infrastruktur yang memadai membuat masyarakat di daerah akan lebih tertarik membangun usaha sehingga dapat menyerap banyak tenaga kerja daerah. Hasil-hasil produksi pun tidak hanya menjadi komoditas antar daerah di Indonesia, diharapkan juga bisa menjadi komoditas ekspor.

Dalam kerangka Indonesia sentris, melalui Tol Laut, Presiden Jokowi telah mewujudkan apa yang pernah disampaikan saat kampanye terkait Trisakti Bung Karno yaitu menciptakan Bangsa yang mandiri dan tidak melupakan budaya sebagai kepribadian dan jati diri.