Secara umum, semua pembangunan di wilayah Indonesia harus ada dalam bingkai Nawacita. Lalu  bagaimana implementasi Nawacita dalam pembangunan di wilayah prioritas seperti Papua?

Dalam konteks Nawacita kedua, menghadirkan Negara dengan membangun tata kelola pemerintahan yang bersih, efektif, demokratis dan terpercaya, tugas pemerintah adalah menciptakan sumber daya manusia yang memiliki integritas dan kapasitas mumpuni sebagai aparatur Negara. Persoalan sumber daya manusia selama ini terkendala antara lain oleh kesenjangan fasilitas pendidikan antara Jawa dan luar Jawa yang terjadi sejak periode Orde Baru. Setelah lebih dari 30 tahun, kesenjangan menjadi sangat dalam. Harus ada prioritas dari pemerintah daerah dan pusat untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Papua, terutama untuk mengisi jajaran birokrasi pemerintah daerah.

Nawacita ketiga, membangun Indonesia dari pinggiran dengan menguatkan daerah dan desa dalam kerangka Negara kesatuan merupakan landasan umum pembangunan di wilayah Papua. Berbagai kekayaan sumber daya alam Papua (hutan, pertambangan, keindahan alam, perikanan) selama ini belum tersentuh oleh program-program untuk membangun kemandirian perekonomian Indonesia dengan menggarap sektor-sektor strategis dalam ekonomi domestik. Ini jelas diamanahkan Nawacita ke tujuh. Kedaulatan pangan, energi dan keuangan adalah sebuah tantangan dalam pembangunan wilayah Papua. Namun, dengan kebijakan yang benar, strategi pembangunan tepat sasaran dan manageman pemerintahan daerah yang baik, semua kedaulatan itu akan terwujud.

Luka-luka sejarah yang terjadi karena konflik horizontal harus disembuhkan dengan bukti nyata. Melalui Nawacita keempat, yaitu mereformasi sistem dan penegakan hukum yang bebas korupsi, bermartabat dan terpercaya akan terbangun budaya hukum yang baik, bersih dan adil.

Pada saat yang sama, Program Indonesia sehat, Indonesia Pintar, Indonesia Kerja dan Indonesia Sejahtera dalam Nawacita kelima juga harus merata di seluruh Papua. Fokus pembangunan Papua ada dalam bingkai Nawacita keenam, meningkatkan produktivitas rakyat Indonesia dan daya saing di pasar internasional. Caranya dengan membangun infrastruktur mulai dari jalan raya penghubung berbagai daerah di Papua, pelabuhan dan bandara baru yang semua itu kini sedang dilakukan.

Dalam  kunjungan ke San Fransisco, Amerika Serikat, Februari 2016, Presiden Jokowi mengatakan pada kelompok mahasiswa Papua di San Fransisco agar pulang dan membangun Papua segera setelah mereka menyelesaikan studi. “Generasi muda Papua itu pintar-pintar, sudah banyak yang memenangkan berbagai Olimpiade ilmu pengetahuan,” tegasnya. Ini adalah fakta sekaligus modal besar untuk membangun Papua. Pembangunan di berbagai daerah pinggiran dan desa secara umum memerlukan peran dan kontribusi besar generasi muda yang saat ini sebagian besar lebih banyak berada di kota-kota besar atau bahkan di luar negeri.

Nawacita harus dipahami dengan baik oleh generasi muda Indonesia karena melalui pelaksanaan Nawacita, generasi muda akan tergerak membangun Indonesia yang berdaulat, mandiri dan sejahtera sebagaimana diamanahkan Undang Undang Dasar 1945. Kontribusi generasi muda adalah suatu hal yang mutlak dibutuhkan untuk memajukan daerah-daerah yang selama ini belum pembangunan seperti Papua dan sejumlah daerah lain di wilayah Indonesia Timur.