Dibangun dengan konstruksi tahan gempa 1.000 tahun, jembatan Holtekamp akan mengakselerasi pembangunan ekonomi Jayapura dan kota-kota sekitarnya.

 

Papua menyimpan banyak potensi sumber daya alam dan manusia yang dapat membawa provinsi tersebut melompat maju. Namun, kondisi alamnya yang bergunung dan berbukit  menyulitkan mobilitas dan akselerasi kemajuan. Belum terciptanya konektivitas di Papua, mengakibatkan mahalnya biaya transportasi dan logistik di wilayah itu.

Namun demikian, tidak ada jalan lain, jika ingin meningkatkan kesejahteraan masyarakat Papua, infrastruktur harus dibangun di berbagai tempat. Mulai dari jalan, jembatan, pelabuhan, bandar udara hingga pasar. Sebab, potensi Papua baru bisa berbuah jika kegiatan ekonomi di wilayah tersebut, dapat berlangsung secara efektif dan efisien, dari hulu hingga ke hilir – jika ada  infrastruktur yang terkoneksi.

Salah satu proyek infrastruktur penting yang sedang dibangun di Papua, di Kota Jayapura, adalah Jembatan Holtekamp di Teluk Youtefa. Jembatan ini menghubungkan antara kota-kota di sekitar Jayapura dengan Distrik Muara Tami. Empat distrik lain yang akan terhubung dengan Distrik Muara Tami adalah Jayapura Utara, Jayapura Selatan, Heram, dan Abepura.

Memiliki panjang 732 meter, jembatan Holtekamp dibangun dengan dana APBN (untuk konstruksi utama sepanjang 433 meter) serta APBD provinsi dan kota (untuk kedua sisi jembatan) .”Total biayanya Rp1,5 triliun. Dari pemerintah pusat akan diberikan Rp900 miliar, sedangkan dari Pemda, Pemprov dan Pemkot Jayapura Rp600 miliar” ungkap Presiden Jokowi saat memberikan sambutan pada acara groundbreaking tanggal 9 Mei 2015 di Distrik Jayapura Selatan.

Keunggulan jembatan yang diperkirakan akan berfungsi sepenuhnya  tahun 2018 ini adalah karena konstruksinya dibangun menggunakan kerangka baja pilihan dengan bentuk melengkung yang sangat kuat – sehingga bisa menjadi landmark kebanggaan Kota Jayapura. Tiang-tiang pancangnya sengaja dibuat fleksibel, bisa bergerak ke berbagai arah maksimal hingga 80 sentimeter – sehingga bisa menahan  gempa dan bertahan hingga .1000 tahun. Teluk Youtefa  memang merupakan jalur gempa yang cukup rawan.

Selain soal konstruksi, dampak sosial-ekonomi yang dihasilkan oleh jembatan ini telah diperhitungkan dengan matang oleh pemerintah. Wilayah pusat kota Jayapura, saat ini sudah sulit untuk dikembangkan karena keterbatasan lahan dan berbatasan dengan bukit-bukit terjal dan laut. Dengan adanya jembatan Holtekamp,  pusat kota Jayapura akan terhubung dengan wilayah dataran yang lebih luas di Muara Tami, dengan penduduk yang kepadatannya masih rendah. Artinya, potensi pengembangannya masih sangat besar untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan di wilayah itu.

Jarak pusat kota ke Muara Tami, tanpa melalui jembatan, bisa mencapai 50 kilometer dengan waktu tempuh sekitar 2,5 jam karena harus mengitari teluk. Namun dengan adanya jembatan ini, jaraknya bisa dipangkas menjadih hanya 33 kilometer dengan waktu tempuh 1,5 jam. Wilayah dataran tersebut, khususnya Pantai Hamadi, juga memiliki potensi pariwisata yang tinggi karena pantainya dikelilingi oleh bentangan pasir putih yang bersih. Lebih dari itu, seperti diungkapkan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimoeljono, jembatan Holtekamp akan berdampak pula pada “hubungan perekonomian antara Indonesia dan Papua Nugini, yang selama ini sudah berjalan melalui pintu perbatasan negara di Skow.”

Dampak langsung jembatan ini  akan lebih dirasakan oleh masyarakat di sekitar Jayapura. Namun penting, untuk segera menunjukkan bahwa sedang terjadi perubahan besar di Papua. Seiring dengan terkoneksi dan terintegrasinya jalan trans-Papua, jalur kereta api, pelabuhan, dan bandara, maka lompatan-lompatan besar akan lebih mudah dilakukan. Ini sebuah langkah penting, bahwa pemerintah  terus mewujudkan cita-cita Nawacita, melalui pembangunan “Indonesia sentris” untuk seluruh anak bangsa.