Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah menjadi tempat ideal bagi persemaian bibit-bibit kejujuran  dan pembentukan karakter para siswanya.

Bentuklah besi ketika masih panas. Di hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2016 ini, ungkapan tersebut layak diangkat kembali.  Seperti halnya besi, siswa-siswi sekolah dasar dan sekolah menengah ibarat besi yang mudah dibentuk. Mereka muda dan belum tercemar oleh perilaku buruk lingkungan sekitar sehingga masih mudah diarahkan.

Namun, ada satu hal yang menjadi keprihatinan yang menghinggapi. Soal kejujuran. Harus diakui, tingkat kejujuran di kalangan pelajar mulai dari siswa sekolah dasar,  menengah, bahkan mahasiswa  mengalami  kemerosotan. Menyontek, meng-copy  paste tulisan orang lain sepertinya menjadi hal biasa. Tujuannya  mendapatkan nilai tinggi dengan cara instan.

Pendidikan  sekolah akhirnya  direduksi  sebatas pencapaian nilai tinggi, tanpa mengindahkan  proses. Sebuah cara yang  bertentangan dengan nilai-nilai pendidikan yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantara, pelopor pendidikan untuk kaum pribumi Indonesia.

Sayangnya, dalam hal kejujuran,  orang tua dan guru turut larut didalamnya, padahal mereka seharusnya berada di garda terdepan untuk memerangi ketidakjujuran.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan menyatakan, saat ini masih banyak sekolah yang melakukan kecurangan dan ketidakjujuran terutama saat menghadapi ujian nasional (UN).

Di tengah kondisi yang kurang baik ini, pemerintah menerapkan indeks integritas sekolah.  Salah satu ukurannya adalah tingkat kejujuran dalam melaksanakan ujian nasional.  Dengan adanya indeks integritas ini diharapkan kejujuran peserta didik, guru, dan sekolah meningkat.

“Berbeda dengan tahun lalu, tahun ini ditetapkan indeks integritas. Sekolah diukur indeks integritasnya, jujur atau tidak nanti akan kelihatan. Ada mesinnya,” kata  Presiden Joko Widodo, saat berkunjung di SMA Negeri 2 Jakarta, Selasa 14/4/2016.

Anies Baswedan menambahkan, indeks integritas ditetapkan di tingkat sekolah. Kemdikbud mengeluarkan daftar berisi 52 daerah kabupaten/kota yang memiliki indeks integritas tinggi dari data selama lima tahun terakhir.

Indeks integritas yang tinggi berarti daerah-daerah itu jujur dalam melaksanakan UN. Dari daftar itu, Daerah Istimewa Yogyakarta dan DKI Jakarta termasuk dua daerah dengan indeks integritas paling tinggi.

Kemendikbud mencatat hanya 503 sekolah dari lebih 80 ribu sekolah dan madrasah yang memiliki indeks integritas tinggi dalam pelaksanaan UN selama lima tahun berturut-turut. Jumlah itu terbilang sangat minim dan dibutuhkan kerja ekstra untuk mewujudkan sekolah sebagai tempat tumbuhnya generasi berintegritas. “Ujian nasional sekarang dinilai dari dua aspek, yakni nilai akademik dan nilai kejujuran. Lima ratus tiga sekolah ini indeks integritasnya mencapai angka 92,” ujar Anies.

Indeks integritas ini juga dipakai sebagai dasar penerimaan siswa SMA di perguruan tinggi lewat jalur undangan dan seleksi bersama.  “Dengan seperti ini maka kita harapkan  2017 semua sekolah berlomba-lomba untuk jujur dalam menilai termasuk penyelenggaraan UN,” lanjutnya.

Selain itu indeks integritas masing-masing sekolah juga akan dipakai untuk memantau siswa SMA yang tengah menempuh studi di perguruan tinggi. Melalui pemantauan hasil studi bisa diketahui apakah nilai rapor adik kelasnya memang jujur dan sesuai kualitas sekolah atau ada manipulasi data.

Kejujuran akan menjadi bagian penilaian dari sekolah.  Secara perlahan kejujuran sebagai salah satu komponen karakter dikembalikan pada relnya. Pada akhirnya hasil akhir sebuah proses pendidikan tidak hanya pada meningkatnya kepandaian tetapi pada karakter yang baik. Kalau ini terjadi, maka Revolusi Mental yang dicanangkan Presiden Jokowi mendapatkan tempat yang semestinya tepat di hari Pendidikan Nasional ini.