Pemerintah bertekad memajukan pendidikan vokasi dengan mengandeng Jerman untuk  memberikan pelatihan vokasional. Langkah strategis meningkatkan mutu SDM.

Dalam rangkaian perlawatan ke Eropa, Presiden Joko Widodo dan rombongan, Rabu, 20/4 akan mengakhiri kunjungan kenegaraannya di Inggris dan bertolak  menuju Brussels, Belgia.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution yang turut dalam rombongan Presiden memandang penting  kunjungan pemerintah Indonesia kali ini.  Salah satunya soal  pelatihan sumberdaya manusia. “Jerman itu terkenal dengan kelebihannya di bidang pelatihan vokasional. Untuk pendidikan, kita sudah punya anggaran 20%. Tapi masih ada yang harus dikembangkan, yaitu vocasional training,” jelas Darmin.

Saat menggelar konperensi pers di Berlin, Jerman, Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno L.P. Marsudi juga memaparkan soal pendidikan vokasi ini. Dimana pemerintah fokus pada kerjasama pendidikan khusus ini untuk menjawab kebutuhan pasar. Di Jerman sejak awal pendidikan memang sudah diarahkan apakah siswa akan terus ke universitas atau kemudian mengambil jalur vokasi.

Sementara Dubes Indonesia di Jerman, Fauzi Bowo, menambahkan,  mereka yang sudah menyelesaikan pendidikan selama 9 tahun dan ingin langsung bekerja, diberi kesempatan bekerja magang. Menerima gaji dan dua hari dalam satu minggu bersekolah keterampilan (sekolah vokasi).

Bagaimana dengan pendidikan vokasi di Indonesia? Dalam beberapa tahun terakhir terlihat pendidikan vokasi yang dimulai dari dari SMK hingga Politeknik mulai naik daun. Mereka banyak dicari. Lantaran lulusan sekolah vokasi ini dinilai punya keterampilan dan keahlian siap pakai di dunia kerja.

Pendidikan vokasi juga sudah terintegrasi sehingga siswa SMK bisa melanjutkan ke jenjang politeknik di Universitas. Sebagai contoh, di UI berbagai program diploma yang tersebar di berbagai fakultas  telah disatukan menjadi Program Vokasi UI.

Pada Forum Pendidikan Tinggi Vokasi Indonesia sebanyak 50 perguruan tinggi (PT), di antaranya Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Pertanian Bogor (IPB), UPN Jakarta, Universitas Negeri Yogyakarta, dan Universitas Brawijaya telah bergabung. Mereka mengembangkan keahlian yang berbeda-beda.

Tujuan pendidikan vokasi memang berbeda dengan pendidikan regular di sekolah menengah maupun perguruan tinngi. Di SMA dan PT regular pengajaran lebih diarahkan pada penguasaan ilmu. Sementara pada pendidikan vokasi  pengajaran lebih menitikberatkan pada keterampilan. Sehingga perbandingan bahan ajar antara praktek dan teori bisa 70:30. Tujuan pendidikan vokasi memang untuk menciptakan lulusan yang memiliki keterampilan serta keahlian tertentu seperti seni, teknologi, kesehatan, ekonomi, dan pariwisata, otomotif, dsb. Siswa dan mahasiswa pendidikan vokasi tidak hanya akan memegang ijazah, tapi juga diberi sertifikasi kompetensi.

Untuk mendukung peningkatan kualitas pekerja dan daya saing, Kementerian Ketenagakerjaan terus  melakukan revitalisasi Balai  Latihan Kerja (BLK), terutama BLK-BLK yang dimiliki dan dikelola pemerintah daerah (pemda). Targetnya ada 70 BLK yang akan direvitalisasi pada tahun 2016. Tujuannya agar kualitas pekerja meningkat untuk meninggikan daya saing.

Beberapa aspek yang dibenahi meliputi infrastruktur dan peralatan pelatihan, kuantitas dan kualitas instruktur,  metode dan kurikulum pelatihan, serta manajemen pengelolaan BLK.
Berdasarkan data Kemnaker jumlah BLK sebanyak  279. Sebanyak 17 dimiliki pusat dan 262 BLK dimiliki pemda Provinsi, Kab/kota.

Dari data terbaca, ada jenis-jenis pelatihan di BLK yang diminati. Antara lain pelatihan keterampilan kejuruan otomotif, las, bangunan kayu dan batu, elektonik, komputer, teknologi informasi, menjahit, kerajinan tangan, pertanian dan perkebunan serta lainnya.
Di  era persaingan dan perdagangan bebas, pendidikan vokasi di tingkat menengah dan tinggi menjadi kunci meningkatkan daya saing. Sehingga kerjasama antara Indonesia dan Jerman dalam peningkatan SDM vokasi merupakan langkah strategis memenangkan persaingan itu.