Maraknya perkembangan ekonomi digital, membuka peluang bagi buruh  menjadi wirausahawan memanfatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) berbunga rendah.

Meningkatkan kualitas hidup buruh, merupakan tujuan berbagai kebijakan pemerintah  dalam mewujudkan kesejahteraan buruh. Kebijakan pemenuhan hak-hak dasar bagi buruh seperti kesehatan, pendidikan, dan jaminan sosial adalah visi-misi Nawacita Presiden Joko Widodo.

Apalagi saat Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), sudah jalan, peningkatan kualitas dan kemampuan buruh menjadi keharusan. Klausul masuknya pekerja asing ke sektor-sektor usaha mestinya dimanfaatkan sebagai pemacu meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) buruh Indonesia.

Sebaliknya, pekerja kita juga tak boleh tinggal diam dan nyaman di negeri sendiri. Berani masuk ke negara-negara MEA lewat keterampilan yang dimilikinya. Dengan begitu MEA adalah peluang baru dan tak perlu dirisaukan, justru dimanfaatkan. Pada akhirnya dengan meningkatnya kualitas dan  kapabilitas, kesejahteraan buruh akan meningkat.

Pemerintah juga tidak tinggal diam dengan membentuk  Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS), yang juga ditujukan untuk meningkatan kesejahteraan buruh. Dengan  jaminan tersebut, buruh tidak perlu terbebani biaya mendapatkan pelayanan  kesehatan dasar maupun ketenagakerjaan. Sehingga mereka bisa fokus dalam meningkatkan kemampuan dan keterampilannya.

Kebijakan pemerintah  lainnya, yakni menurunkan tingkat bunga pinjaman Kredit Usaha Rakyat (KUR). Bunga  KUR dipatok – 9% di tahun 2016 dan ditargetkan turun menjadi 7% di tahun 2017. Dengan bunga yang relatif terjangkau, beban pinjaman menjadi lebih rendah sehingga keuntungan usaha  menjadi lebih tinggi.  KUR mikro sebesar Rp 5 juta – Rp 25 juta ini pas dipakai untuk usaha rumahan yang produktif.

Dengan demikian KUR berbunga rendah ini memberi peluang bagi masyarakat kelas menengah ke bawah, termasuk buruh untuk terjun menjadi wirausahawan.

Di era ekonomi kreatif ini,  kesempatan tersebut terbuka lebar. Buruh dapat menciptakan peluang usaha sendiri. Dengan pesatnya perkembangan ekonomi digital, membuka usaha bukanlah hal yang rumit.  Bidang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) atau ekonomi kreatif, dapat menjadi pilihan buruh dalam memanfaatkan KUR.

Satu hal yang penting untuk menjadi wirausaha adalah mengubah mental. Kalau selama ini buruh atau pekerja selalu menerima upah setiap akhir minggu atau akhir bulan. Maka ketika beralih menjadi wirausaha, besar kecilnya pendapatan akan tergantung  pada keuletan, ketangguhan, dan kreativitas menciptakan peluang.

Ada banyak contoh keberhasilan dari mereka yang menjalankan usaha dari rumah memanfaatkan kemampuan atau hobi yang dimilikinya berbasis ekonomi kreatif. Mereka yang jago memasak bisa membuka usaha kuliner. Mereka yang pandai memperbaiki barang elektronik tinggal membuat blog dan menawarkan jasanya. Demikian juga mereka yang terampil membikin barang kerajinan bisa memasarkan produknya di web. Melalui web pula  jangkauan pasar menjadi tidak terbatas.

Data Kementerian Koordinator Perekonomian menunjukkan, penyerapan KUR  hingga 7 April 2016 sudah mencapai Rp31 triliun atau 25,8% dari target penyaluran KUR di 2016 sebesar Rp120 triliun. Hingga akhir Maret 2016, realisasi KUR paling banyak di Jawa Tengah sebesar Rp6 triliun, Jawa Timur Rp5 triliun, dan Jawa Barat Rp4,5 triliun.

Sementara penyaluran KUR di wilayah Sumatera paling tinggi di Sumatera Utara dengan realisasi Rp1,1 triliun. Sementara di Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, dan Nusa Tenggara, realisasi KUR rata-rata masih berada di bawah Rp1 triliun. Hanya Sulawesi Selatan yang melebihi Rp1 triliun, yakni Rp2,6 triliun. Sedangkan di Bali realisasi KUR mencapai Rp1,6 triliun.

Penyerapan KUR, akan memberikan manfaat secara langsung dalam pengentasan kemiskinan, perluasan kesempatan kerja, dan meningkatkan roda perekonomian nasional. Menjadi wirausahawan, selain sebagai media pengembangan diri dan penyaluran kreativitas, merupakan usaha dalam meningkatkan kesejahteraan yang dicita-citakan oleh para buruh.