Kesadaran kritis tumbuh melalui budaya membaca yang pada akhirnya akan melahirkan masyarakat cerdas, berdaya saing tinggi dan produktif. Kesejahteraan pun tinggal selangkah lagi.

Sejumlah komunitas kreatif di Banda Aceh, antara lain Komunitas Tikar Pandan, Sekolah Menulis Dokarim, dan Komintas Barsela (Barat-Selatan) sepakat bahwa rendahnya minat baca menjadi faktor penghambat yang sangat mendasar dalam upaya memajukan suatu daerah. Dalam konteks cita-cita Presiden Jokowi untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia serta meningkatkan daya saing dan produktivitas bangsa, persoalan rendahnya minat baca juga erat kaitannya.

Program 15 menit membaca yang pernah dicanangkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan jelas harus diwujudkan sebagai salah satu upaya pemerintah untuk menumbuhkan budaya baca. Salah satu langkah tindak lanjut yang harus dilakukan misalnya dengan menyiapkan bacaan-bacaan yang sesuai untuk setiap tingkat pendidikan secara mudah dalam berbagai platform. Harus dibangun sebuah budaya baru di sekolah-sekolah untuk meningkatkan minat baca siswa.

Kemajuan suatu desa juga tak lepas dari peran seorang pemimpin yang memiliki wawasan luas dan untuk berwawasan luas seorang Kepala Desa mau tidak mau harus banyak membaca. Harus memiliki budaya membaca. Ini bisa dilihat secara nyata dari sejumlah profil desa yang berprestasi. Salah satunya desa Panggungharjo di Kabupaten Bantul, Jogjakarta yang merupakan desa terbaik nasional tahun 2014. Kepala desanya, Wahyudi Anggoro Hadi, memiliki banyak gagasan cemerlang antara lain karena ia memiliki budaya baca tinggi.

Ini juga berlaku untuk Karang Taruna Desa Banyu Tengah di Kabupaten Gresik yang pernah menyandang predikat Karang Taruna Terbaik Nasional. Ketua dan Wakilnya, Suripno dan Taufik Rohman, adalah dua anak muda yang akrab dengan budaya baca dan aktif berorganisasi untuk membentuk diri dan karakter mereka. Hasilnya, mereka menjadi sosok anak muda yang memiliki daya saing dan produktif sebagaimana dicita-citakan Presiden Jokowi dan dituangkan dalam Nawacita.

Presiden Jokowi tak pernah bosan menegaskan bahwa melalui pendidikan masa depan suatu bangsa dipertaruhkan akan menjadi seperti apa. Budaya baca adalah bagian dari tanggungjawab pendidikan. Artinya, sistem pendidikan, mulai dari tingkat dasar sudah harus mampu menumbuhkan iklim bagi tumbuhnya budaya membaca. Melalui budaya membaca kita bisa menumbuhkan wawasan kultural dan kesadaran budaya masyarakat dengan cara sederhana.

Budaya membaca juga akan menumbuhkan kesadaran kritis masyarakat sebagai prasyarat tumbuhnya ekosistem budaya yang sehat. Kesadaran kritis hanya bisa dipupuk melalui budaya membaca yang pada akhirnya akan melahirkan masyarakat yang cerdas, memiliki daya saing tinggi dan produktif. Jika masyarakat kita berdaya saing tinggi dan produktif, maka langkah menuju kesejahteraan hanya tinggal setapak lagi.