Membangun generasi muda Indonesia yang anti kekerasan merupakan bagian dari program Nawacita ke delapan, yaitu melakukan revolusi karakter bangsa.    

Penting dan mendesaknya mengatasi persoalan kekerasan terhadap anak adalah merupakan urusan kebudayaan. Presiden Jokowi menyadari hal itu. Ada banyak hal yang bisa dilakukan sebagai program pencegahan, namun pendidikan bahasa dan sastra adalah satu hal mendasar yang seharusnya bisa berperan besar sebagai langkah mendasar tindakan pencegahan jangka panjang. Sastra adalah elemen penting untuk membentuk watak yang memiliki kepekaan sosial dan budi pekerti serta menghormati nilai-nilai kemanusiaan. Kegagalan pendidikan bahasa dan sastra terbukti membuat jiwa anak-anak meranggas kering.

Presiden Jokowi menegaskan edukasi pada keluarga dan anak-anak merupakan kunci  pencegahan dan penanganan tindak kekerasan dan penindasan terhadap anak yang marak terjadi saat ini. “Diperlukan perhatian semua pihak untuk mencegah, untuk menangani kasus-kasus bullying (perundungan),” ujar Presiden Jokowi dalam pengantar rapat terbatas di Kantor Presiden, Januari 2016. Hal ini juga merupakan bagian dari program Nawacita ke delapan, yaitu melakukan revolusi karakter bangsa.

Dalam kesempatan itu, Presiden Jokowi memerintahkan kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anis Baswedan, agar gencar mengkampanyekan antiperundungan di sekolah. Iuga untuk menguatkan pendidikan karakter, budi pekerti, serta mengajarkan sikap asertif kepada anak. Ini bisa dilakukan melalui berbagai bentuk program yang bahan atau sumbernya bisa dengan mudah didapatkan dalam kebudayaan masyarakat nusantara. Misalnya dengan mengemas ulang dan memproduksi sastra daerah dan tradisi dongeng yang merupakan kekayaan budaya nusantara dalam bentuk buku sastra anak.

Melalui tradisi mendongengkan kembali cerita rakyat dari berbagai daerah yang sarat nilai budi pekerti akan bisa menumbuhkan empati dan sikap anti kekerasan pada anak. Selain itu, cerita rakyat berbagai daerah juga berpotensi menumbuhkan anak-anak dan generasi muda yang memiliki kepekaan sosial serta sikap menjunjung tinggi kemanusiaan. Di sisi lain juga bisa mempopularkan kembali sastra nusantara sebagai bagian dari Indonesian heritage yang harus diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam jangka panjang hal ini akan menumbuhkan dan meningkatkan budaya membaca pada sejak dini.

Penting sekali mengembangkan pendidikan sastra sebagai strategi untuk melahirkan generasi baru yang berkebudayaan. Sangat penting juga mendata dan memilih berbagai karya klasik dari tradisi sastra berbagai daerah yang mengandung kekuatan menumbuhkan empati dan menumbuhkan budaya anti kekerasan. Perlu dirumuskan di berbagai bidang kebudayaan strategi kebudayaan jangka menengah dan panjang untuk menciptakan ekosistem budaya yang anti kekerasan agar lahir budaya cinta damai.

Sebagaimana kepedulian Presiden Jokowi pada kelestarian lingkungan yang ditegaskan dalam acara Gerakan Nasional Penyelamatan Tumbuhan dan Satwa Liar, di Kepulauan Seribu, 14 April 2016, seperti itu jugalah pentingnya menanamkan nilai-nilai budaya anti kekerasan pada anak-anak Indonesia sedini mungkin.