Pada dasarnya semua perempuan Indonesia adalah Kartini yang memiliki tugas dan tanggungjawab masing-masing, baik itu tugas yang sepertinya sederhana namun mulia maupun tugas untuk meraih prestasi.

Di era digital kini, tatanan dunia menjadi satu keutuhan yang tak lagi memisahkan dunia perempuan dan dunia laki-laki. Di Australia, seorang perempuan Indonesia bernama Astrid Saraswati Kusumawardhany, menjadi bukti perempuan bisa mendapat tempat dan berprestasi di dunia yang selama ini dikuasai kaum lelaki.  Astrid adalah satu dari 12 perempuan yang mempunyai lisensi untuk mendirikan bangunan. Sebuah prestasi dan pembuktian nyata dari perempuan Indonesia di kancah internasional.

Dalam bingkai Nawacita juga tak ada pemisahan antara dunia laki-laki dan perempuan. Semua adalah rakyat Indonesia dengan hak dan kewajiban yang setara. Kesetaraan menjadi salah satu landasan dalam Sembilan butir Nawacita. Emansipasi yang diperjuangkan Raden Ajeng Kartini telah melebur dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat Indonesia dan menjadi ruh dalam setiap butir Nawacita. Kartini modern juga tidak hanya mewujud dalam sosok-sosok perempuan berprestasi  seperti Astrid, Susi Susanti atau Butet Manurung tapi juga sosok-sosok yang dalam kesederhanaannya mampu menjaga nilai-nilai luhur kehidupan.

Presiden Jokowi adalah sosok yang sangat menghormati dan menghargai kaum perempuan. Tentu masih segar dalam ingatan masyarakat Indonesia ketika di masa pemilihan Presiden, Jokowi meminta restu pada ibundanya. Selalu terlihat dalam setiap acara kenegaraan Presiden Jokowi menghormati dan menghargai Ibu Negara, baik sebagai istri maupun sebagai kaum perempuan Indonesia. Pada dasarnya semua perempuan Indonesia adalah penerus Kartini yang memiliki tugas dan tanggungjawab masing-masing, baik itu tugas yang sepertinya sederhana namun luhur dan mulia maupun tugas untuk meraih prestasi.

Salah satu contoh sosok Kartini sederhana namun luhur-mulia antara lain adalah Endang Taqiyyati, istri Wakil Walikota Malang, Jawa Timur. Perempuan berusia 52 tahun itu tetap bekerja keras berjualan makanan di kantin asrama mahasiswa Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim, Malang. Meski ia istri seorang pejabat, ia tetap belanja ke pasar naik sepeda motor sendiri dan memasak bermacam makanan untuk dijual di kantin asrama mahasiswa itu. Endang tetap sederhana dan bekerja keras karena ia tidak ingin menjadi penyebab suaminya melakukan tindak korupsi.

Istri pejabat seperti Endang adalah juga sosok Kartini modern yang tak kalah luar biasa dibandingkan sosok seperti Butet Manurung atau Susi Susanti. Tindakannya menjauhkan suami dari godaan korupsi sama hebatnya dengan prestasi lain di bidang apapun yang telah dicapai kaum perempuan Indonesia. Jika ada ribuan istri pejabat seperti sosok Endang Taqiyyati, maka ribuan kemungkinan korupsi sudah tercegah dari jauh-jauh hari.  Kehebatan sosok Endang sama dan setara dengan sosok Astrid yang menjabat sebagai Presiden Indonesia Diaspora Network Australia Barat sekaligus Ketua Jaringan Profesional dan Pengusaha Wanita Indonesia-Australia.

Dari sosok Susi Susanti, sang juara dunia bulutangkis perempuan, sampai sosok Endang, semua adalah Kartini-Kartini modern Indonesia yang kini berada dalam satu bingkai perjuagan bersama, bingkai Nawacita. Peran perempuan Indonesia dalam merevolusi karakter bangsa adalah penting dan sentral karena karakter pertama kali dibentuk oleh kaum perempuan sebagai ibu bagi anak-anak bangsa Indonesia.