Itulah sebabnya dalam 1,5 tahun ini pemerintahan Jokowi bekerja cepat menambah pasokan listrik melalui pembangunan pembangkit menggunakan sumber energi yang beragam.

“Setiap saya datang ke daerah itu, keluhannya selalu yang saya tanyakan, keluhannya apa. Saya tanyakan ke Pak Gubernur, Bupati, Wali Kota, ke rakyat, sama, listrik. Pak byarpet Pak, byarpet,” ucap Presiden Joko Widodo pada peresmian PLTG Gorontalo 100 MW di Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Presiden menambahkan tidak sedikit masyarakat di daerah mengalami pemadaman listrik selama 6 jam sehari. Ada juga yang 4 kali dalam satu hari. Oleh karenanya, Presiden mengatakan permasalahan listrik harus diselesaikan bersama. “Saya sampaikan listrik ini akan kita kejar tapi bagi-bagi pekerjaan. Pembebasan lahan tolong pemerintah pusat dibantu agar cepat membangunnya,” kata Presiden.

Pembangunan PLTG Pohuwato Gorontalo adalah yang paling cepat. “Tadi saya diterangkan, di sana hanya 7 bulan, hanya 7 bulan, cepat sekali. Pembebasan lahan, kemudian langsung konstruksi, persiapan konstruksi, kemudian mendatangkan mesinnya, dan alhamdulillah sekarang sudah bisa kita nikmati,” ujar Presiden

Dengan beroperasinya PLTG Gorontalo 100 MW maka Provinsi Gorontalo termasuk provinsi yang telah kelebihan pasokan listrik. “Berarti sekarang ada tiga provinsi yang sudah aman, termasuk Gorontalo. Yang lain-lain ngantri,” kata Presiden.

Cepatnya pembangunan PLTG Gorontalo didukung oleh manajemen yang baik. “Dan tadi saya memberikan pujian kalau manajemen melihat seperti ini kualitas pengerjaannya bagus. Manajemen bagus dan kualitas pengerjaannya juga baik, dan hanya dikerjakan dalam waktu 7 bulan,” kata Presiden.

Pemerintah tidak akan terpaku pada satu sumber energi saja dalam membangun pembangkit listrik. “Jangan hanya pakai solar saja, jangan pake gas saja, jangan hanya batubara saja, semuanya. Semakin variasinya semakin banyak semakin baik. Semua kan, ombak bisa, angin, geothermal, gas juga, batubara juga, kita semuanya ada.” ujar Presiden.

Menurut Presiden, permasalahan listrik adalah masalah yang sudah tidak bisa ditunda-tunda. “Kenapa saya keluarkan Perpres percepatan? Karena tidak bisa ditunda-tunda lagi,” ucap Presiden.

Perpres yang dimaksud adalah Peraturan Presiden Nomor 4 Tahun 2016 tentang Percepatan Pembangunan Infrastruktur Ketenagalistrikan (PIK). “Sudah tidak mungkin lagi ada investasi datang kemudian suruh nunggu listriknya, pasti balik, pulang. Ada hotel mau bangun di Gorontalo, kemudian tanya listriknya gak ada, pasti balik lagi, pindah ke provinsi yang lain atau pindah ke negara yang lain,” ucap Presiden.

Dijelaskan, listrik merupakan elemen penting yang dibutuhkan banyak sektor, seperti industri dan manufaktur. “Yang paling penting juga anak-anak kita kalau malam hari, belajar juga membutuhkan listrik. Usaha-usaha kecil, usaha-usaha mikro yang di kampung, yang di desa, semuanya membutuhkan listrik. Kalau kunci itu tidak segera kita selesaikan masalahnya sampai kapan pun kita akan begini terus,” kata Presiden.

Disinggung Presiden adanya pembangkit listrik mangkrak yang dibangun tahun 2007 berkapasitas 2×25 MW yang berada di Kabupaten Gorontalo Utara agar diselesaikan untuk menambah pasokan lagi. “Saya belum bisik-bisik kapan ini bisa rampung? Dirampungkan?” tanya Presiden. “Akhir 2017,” ucap Direktur Utama PLN Sofyan Basir.

Proyek mangkrak itu sudah selesai 47% dan berhenti. “Di situ jangan diremehkan, uangnya Rp 396 miliar, berhenti kemudian dibiarkan,” ujar Presiden.

Dikatakan Presiden, penyebab mangkraknya pembangunan pembangkit listrik karena kualitas produk tidak dikontrol sehingga barangnya jelek dan tidak adanya pengawasan yang terus menerus.

Dalam sambutannya, Presiden juga menyinggung, ia akan melihat perkembangan jalan outer ringroad di Gorontalo, meski pernah melihat jalan tersebut. “Saya lihat sudah dimulai, sudah beberapa kilo, saya mungkin mau lihat lagi. Saya cek problemnya apa, masalahnya apa harus selalu dilihat, selalu dikontrol. Kelemahan kita ini kalau tidak diawasi, kalau tidak dicek ini gampang sembrono,” kata Presiden.

Presiden mengatakan bahwa bekerja itu diawasi, bekerja itu dikontrol. “Manajemen memang seperti itu, tidak bisa groundbreaking langsung dilepas, nggak dilihat, ya nggak jadi,” ujar Presiden.

Oleh karenanya tidaklah heran bila Presiden mengatakan bahwa dirinya akan meninjau berkali-kali proyek yang telah groundbreaking. “Kalau saya datang sekali, menteri pasti datang 2 kali, kalau saya 5 kali, menterinya pasti 10 kali, dirjennya pasti 20 kali, ke bawahnya pasti 2 kali, 2 kali,” ujar Presiden.

Presiden juga menginstruksikan kepada Kapolda dan Pangdam dan jajaran di bawahnya untuk menjaga pertambangan dan konservasi hutan. “Baik yang di pantai mangrove kita, baik tadi saya lewat di hutan untuk burung Maleo, hutan Panua juga dijaga betul. Itu adalah warisan hutan yang nanti yang bisa kita wariskan kepada anak cucu kita,” ujar Presiden.