Terakhir kali, kegiatan itu diselenggarakan di Indonesia pada tahun 1962, di Jakarta. Ketika itu, Presiden Soekarno mencanangkan bahwa dengan menjadi tuan rumah, Indonesia akan menjadi bintang pedoman bagi bangsa-bangsa di Asia dan juga dunia. Soekarno ingin dunia melihat Indonesia dengan segala kehebatannya, melihat Indonesia dengan keramahtamahan warganya. Ia lalu membangun stadion olah raga termegah yang dinamakan Gelora Bung Karno.

Untuk menopang kegiatan itu, Soekarno juga membangun Jembatan Semanggi, Hotel Indonesia. Ia memanggil seniman terbaik kita untuk menghias Senayan dan beberapa sudut jalan Jakarta dengan patung-patung nan artistik yang menggambarkan kebudayaan Indonesia dan gelora rakyatnya. Ia boyong menteri-menterinya belajar ke Jepang untuk menyiapkan pesta tersebut.

Itulah terakhir kali Asian Games, pesta olah raga bangsa-bangsa se-Asia dihelat di Jakarta. Sudah lebih dari 50 tahun. Generasi-generasi yang melewati dan mengenyam masa itu juga sudah lewat. Dan kita tinggal mengenangnya dari cerita-cerita di buku sejarah dan film-film dokumenter tentangnya. Itulah pesta olah raga dimana Indonesia mampu menduduki peringkat keempat di Asia, yang hingga kini belum dapat diulang kembali.

Tahun 2018 mendatang, kesempatan kedua itu datang, setelah Vietnam mengundurkan diri dari kesanggupannya menjadi tuan rumah akibat kesulitan finansial. Untuk kali kedua, Indonesia akan menjadi tuan rumah bagi atlet-atlet dan diplomat-diplomat olah raga bangsa-bangsa Asia. Jika pada tahun 1962 suasana politik masih mewarnai perhelatan dan solidaritas politik bangsa-bangsa Asia masih terasa hangat menggema akibat baru saja lepas dari kolonialisme, maka tahun 2018 nanti, Asian Games dapat didorong untuk menjadi sebuah gelaran yang makin membukakan mata bangsa-bangsa di Asia tentang Indonesia dengan segala macam keragaman budaya, perkembangan ekonomi, keramahan warganya, keelokan alam dan keragaman makanannya, dan pada ujungnya, potensi pariwisatanya.

Sejak bulan Maret lalu, persiapan sudah dilakukan dan koordinasi yang dipimpin langsung oleh Presiden Jokowi juga sudah dimulai. Jakarta, Palembang, dan Banten, akan menjadi tulang punggung yang membawa nama Indonesia menyambut para duta olahraga dari mancanegara. Sebanyak 11 ha lahan di Kemayoran disiapkan untuk menjadi kompleks atlet, termasuk fasilitas olah raga air di sana. Juga akan ada revitalisasi gelanggang olah raga (GOR) di Ciracas, Cibubur, dan Senayan.

Stadion sepakbola di Papanggo Jakarta Utara juga dibangun. Di Palembang, persiapan untuk menyambut tamu juga dilakukan, antara lain dengan pembangunan hotel yang dapat menyediakan sekitar 10 ribu kamar, revitalisasi sarana olah raga, sampai dengan rencana kegiatan festival yang menunjang pesta Asian Games.

Jika di tahun 1962 Soekarno menjadikan ajang ini sekaligus juga untuk menunjukkan kekuatan politik Indonesia di mata dunia —salah satunya adalah dengan tidak mengundang Israel dan Taiwan karena dukungan Soekarno atas Palestina dan untuk menghormati RRT — maka di tahun 2018 nanti, ajang Asian Games dapat menjadi klimaks dari persaudaraan bangsa Asia, sekaligus memberi dampak pada pengembangan pariwisata di Indonesia.

Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah 2015-2019, wisata olahraga menjadi salah satu yang mendapatkan perhatian. Asian Games, dengan demikian sejalan dengan rencana pembangunan yang digariskan oleh Pemerintahan Jokowi-JK. Jika dikelola dengan baik, dampak atau bola salju yang digulirkan terutama di sektor pariwisata, baik sebelum 2018 maupun setelah 2018, akan mendorong pertumbuhan wisatawan asing secara signifikan.