Dengan produksi 61.000 barel per hari, kilang TPPI di Tuban dapat mengurangi impor BBM hingga 20%

Ketergantungan terhadap impor Bahan Bakar Minyak (BBM) yang terus meningkat seiring melonjaknya kebutuhan BBM akan semakin membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Sebab itu, pemerintah terus berupaya untuk mengurangi ketergantungan impor BBM dengan berupaya membangun kilang baru. Selain itu, ketergantungan terhadap BBM terus dikurangi dengan mendorong penggunaan bahan bakar yang ramah lingkungan.

Pembangunan kilang baru yang membutuhkan waktu cukup lama tidak menyurutkan niat pemerintah. Hal ini dibuktikan dengan mengoperasikan kembali kilang Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) di Tuban, Jawa Timur, di bawah kendali PT Pertamina.

Dengan beroperasinya kilang TPPI di Tuban, setidaknya dapat mengurangi kebutuhan impor BBM mencapai 20 persen. Kilang TPPI dapat menghasilkan sekitar 61.000 barel per hari (bph) bahan bakar jenis premium, 10.000 barel HOMC, dan 11.500 barel solar. TPPI juga memproduksi LPG hingga 480 metrik ton per hari.

“Dari proses produksi yang ada di sini kita bisa hemat 2,1 miliar dollar AS setiap tahun sekali. Ini bukan angka kecil, angka yang besar sekali,” kata Presiden Jokowi saat mengunjungi kilang TPPI di Tuban, Jawa Timur, Rabu (11/11/2015).

Menurut Presiden Jokowi, proses-proses produksi premium, solar, LPG dan HOMC 92 (Pertamax 92) akan dikerjakan di TPPI Tuban ini, dan ke depannya kompleks ini akan menjadi Kompleks Industri Petrokimia di Indonesia.

“Sebuah keputusan politik yang tadi diputuskan di dalam rapat dan kita harapkan nantinya, turunan-turunan dari proses produksi di sini semuanya akan dihasilkan di kompleks industri petrokimia itu,” ujar Presiden.

Bahan-bahan turunan dimaksud di atas antara lain, petrochemical, seperti Paraxylene, Orthoxylene, Benzene, dan Toluene yang dibutuhkan oleh industri nasional. “Ini adalah masa depan industri dasar petrokimia di Indonesia,” ucap Presiden.

Sebagai Negara yang memiliki sumber daya alam melimpah, Indonesia sepantasnya mampu memenuhi kebutuhannya sendiri terhadap energi seperti BBM. Kebijakan kurang tepat dalam menyikapi persoalan kebutuhan energi selama ini menyebabkan Indonesia harus terus mengimpor energi untuk memenuhi kebutuhannya.

Pemerintahan Presiden Jokowi perlahan namun pasti, terus berupaya memenuhi kebutuhan energi dalam negeri, salah satunya dengan mengoperasikan kembali kilang TPPI di bawah Pertamina, serta mendorong penggunaan berbagai energi baru dan terbarukan untuk menjadi program prioritas. Hal tersebut dilakukan dalam upaya mewujudkan program ketahanan energi di Indonesia. Sehingga sebagai Negara yang memiliki sumber daya alam melimpah, Indonesia dapat memenuhi kebutuhan terhadap energi di dalam negerinya sendiri.