Diperkirakan rampung 2-3 tahun lagi, MRT diharapkan menjadi contoh bagi kota-kota lain untuk memiliki moda transportasi massal yang modern dan nyaman

Transportasi merupakan satu di antara berbagai masalah yang selalu menghantui kota-kota besar dunia, termasuk di Indonesia. Dampak urbanisasi dan pertumbuhan penduduk di kota-kota besar yang sangat cepat menuntut pemerintah untuk dapat memenuhi kebutuhan transportasi massal yang nyaman dan aman untuk beraktivitas.

Jakarta sebagai ibukota Negara dan merupakan salah satu pusat bisnis penting di Asia Tenggara tak lepas dari permasalahan kemacetan dan kondisi transportasi massal yang kurang memadai. Hal ini terutama disebabkan karena terbatasnya jumlah angkutan massal dan buruknya kondisi sarana dan prasarana transportasi.

Sementara pertumbuhan jalan-jalan di kota selalu tertinggal dibandingkan pertumbuhan penjualan kendaraan bermotor. Sehari, bisa terdapat 5.500 hingga 6.000 kendaraan bermotor baru meluncur di Jakarta menurut data Polda Metro Jaya. Pertumbuhannya mencapai 12 persen per tahun, sedangkan pertumbuhan jalannya hanya 0,01 persen.

Dalam rangka memenuhi kebutuhan transportasi yang efektif dan efisien, pemerintah sedang membangun Mass Rapid Transit (MRT), yang sudah mulai dikerjakan sejak Jokowi masih menjabat Gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Terbatasnya lahan yang tersedia di Jakarta, khususnya di wilayah Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan, mengakibatkan pembangunan rel bawah tanah untuk sebagian proyek MRT menjadi solusi. “Saya kira semua kota-kota besar di seluruh dunia seperti itu,” ujar Presiden.

Namun, ada juga tujuan lain yang hendak dicapai pemerintah. Pembangunan MRT di Jakarta, sebagai moda transportasi massal yang terintegrasi dengan moda transportasi lainnya dan terkoneksi dengan pusat-pusat bisnis diharapkan menginsipirasi pemerintah daerah, di sejumlah kota besar di Indonesia, dalam membangun moda transportasi massal. Inspirasi ini penting untuk menunjukkan bahwa transportasi massal modern yang nyaman dan dapat diandalkan memang bisa diwujudkan di Indonesia – sebab bagaimanapun, lebih mudah untuk mengerjakan sesuatu berdasarkan contoh ketimbang harus memulainya dari awal.

“Saya ingin pembangunan Mass Rapid Transit (MRT) ini bisa menjadi contoh kota-kota lain di Indonesia yang ingin membangun kereta bawah tanahnya,” kata Presiden Joko Widodo (Jokowi) di lokasi Stasiun MRT Senayan yang tengah dibangun, Rabu (23/12/2015).

Soal yang selama ini menghambat realisasi pembangunan MRT di Jakarta, sesungguhnya terkait dengan hitung-hitungan ekonomis, alias perhitungan untung-rugi. Dalam kacamata yang demikian, pemerintah memang diperkirakan mengalami kerugian jika membangun MRT. Biaya yang dikeluarkan untuk pembangunan infrastruktur maupun pengadaan unit pengangkutannya dianggap tidak akan dapat tergantikan dengan cepat jika mengandalkan penjualan tiket – kecuali tiketnya dipatok dengan harga tinggi, namun dengan risiko merugikan kelas menengah ke bawah, terlebih kaum pekerja.

Inilah yang menjelaskan mengapa selama puluhan tahun – tepatnya 26 tahun – MRT tak jadi dibangun meskipun perencanaannya sudah dilakukan.

Tapi dengan menggunakan perspektif jangka panjang, maka keputusan untuk segera membangun MRT adalah tepat. Setidaknya, agar pemerintah tidak terus menambah banyak tumpukan masalah atau dampak buruk dari kemacetan, seperti polusi, stres dan hilangnya waktu-waktu yang produktif dan berharga setiap harinya.

“(Kalau) selalu dihitung untung-ruginya, memang kalau (soal) profit tidak akan untung. Tapi jangan mikir ke sana, pikir itu benefit-nya, untuk negara, untuk kota kita,” kata Presiden sewaktu memantau perkembangan pembangunan MRT di Patung Pemuda Senayan, Jakarta, pada Senin, 21 September 2015. Presiden berharap proyek MRT bisa selesai seluruhnya 2-3 tahun mendatang. “Kita harapkan selesai pengeborannya pada 2016 ini, seluruhnya. Terowongan sudah jadi,” kata Presiden.