Salah satu janji pemerintah dalam Nawacita untuk membangun sejumlah proyek infrastruktur di berbagai wilayah Indonesia, telah mulai diwujudkan pada tanggal 30 April 2015. Hal ini ditandai dengan peletakan batu pertama pembangunan megaproyek tol Trans Sumatera, ruas Bakauheni-Terbanggi Besar sepanjang 150 kilomenter (dari total 2.600 kilometer dengan 22 ruas tol yang direncanakan) di Bandar Lampung oleh Presiden Jokowi.

“Dengan mengucap Bismillah, (peletakan batu pertama tol) Bakauheni-Terbanggi Besar saya resmikan,” kata Presiden.

Proyek ini memiliki arti penting, terutama untuk mempercepat konektivitas antara Jawa dan Sumatera, melalui paket pekerjaan Merak-Bakauheni-Bandar Lampung-Palembang-Tanjung Api-api, termasuk untuk mengurai kemacetan yang kian parah di sisi utara Sumatera, yaitu dari Medan ke Binjai dan sebaliknya.

Kelebihan dari proyek tol dengan lebar 120 meter ini adalah adanya integrasi antara jalan tol dengan transmisi listrik dan jalan kereta api, yang berarti terjadinya efisiensi dalam penggunaan lahan.

Infrastruktur, termasuk pembangunan jalan tol, menjadi salah satu prioritas utama dalam rencana pembangunan pemerintah karena dampak berantai yang dihasilkannya. Sejumlah manfaat potensial dari pembangunan jalan dan sektor transportasi secara umum antara lain:

Perubahan biaya relatif dari sarana transportasi baru terhadap sarana transportasi lama; Peningkatan ketersediaan sarana transportas; Peningkatan kualitas perjalanan; Peningkatan aktivitas ekonomi yang pada akhirnya mempengaruhi perubahan pola dan struktur konsumsi masyarakat; Peningkatan pendapatan perkapit masyarakat, dan sebagainya.

Sebuah kajian yang dilakukan Pusat Studi Transportasi dan Logistik Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta (“Kajian Dampak Infrastruktur Jalan Terhadap Pembangunan Ekonomi dan Pengembangan Wilayah”) menunjukkan bahwa setiap rupiah yang diinvestasikan untuk pembangunan jalan di Jawa dalam kurun waktu 1998-2003, menghasilkan nilai tambah sebesar Rp1.460 bagi pembangunan ekonomi. Studi tersebut juga menunjukkan bahwa investasi pembangunan jalan di Sumatera menghasilkan dampak dua kali lebih besar dibandingkan sekedar perbaikan jalan.

Dalam Nawacita, sejumlah proyek infrastruktur yang hendak dibangun antara lain adalah: Infrastruktur jalan baru sepanjang 2000 Kilometer dan perbaikan jalan di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Papua; Pembangunan 10 pelabuhan baru dan merenovasi yang lama; pembangunan 10 bandara baru dan renovasi yang lama; pembangunan 10 kawasan industri baru berikut pengembangan untuk hunian buruhnya, serta pembangunan pasar tradisional sebanyak 5000 di seluruh Indonesia dan modernisasi pasar tradisional yang telah ada.

Jika dipadukan dengan pembangunan di sektor lain, terutama penguatan dan peningkatan produktivitas ekonomi rakyat, maka pembangunan infrastruktur ini diharapkan dapat membawa banyak manfaat. Tentu tidak terbatas pada pembangunan ekonomi semata-mata, tapi juga kesamaan kesempatan bagi pelaku ekonomi kecil dan menengah untuk lebih maju dan sejahtera.