Saat melakukan panen raya padi di areal seluas 300 hektar di Wapeko, Distrik Kurik, Kabupaten Merauke, Minggu (10/5/2015), Presiden Jokowi yang didampingi Ibu Iriana Widodo dihadapan ratusan petani mengatakan Merauke ke depan akan menjadi sumber pangan nasional bahkan mungkin juga dapat menjadi pemasok untuk negara lainnya.

Kunjungan Jokowi ke tanah Papua untuk kedua kalinya menegaskan janjinya untuk sering berkunjung ke Bumi Cenderawasih, sekaligus menjadi komitmen pemerintah membangun Indonesia dari pinggiran atau dari desa.

Apa yang dilakukan presiden tersebut sejalan dengan arah kebijakan dan strategi pembangunan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2015-2019, khususnya pedesaan. Disitu ditegaskan bahwa strategi pembangunan ditujukan pada desa dan kawasan perdesaan, termasuk di kawasan perbatasan, daerah tertinggal, kawasan transmigrasi, serta kepulauan dan pulau kecil.

Sasaran tersebut dicapai lewat penanggulangan kemiskinan di desa, melalui strategi: (a) meningkatkan ketahanan ekonomi masyarakat desa melalui fasilitasi, pembinaan, maupun pendampingan dalam pengembangan usaha, bantuan permodalan/kredit, dan kesempatan berusaha; (b) menyiapkan kebijakan jaring pengaman sosial melalui jaminan sosial bagi masyarakat desa.

Panen raya yang dilakukan di Merauke merupakan salah satu cara meningkatkan ketahanan ekonomi desa. Desa diharapkan bisa memenuhi kebutuhan sendiri. Bahkan dalam jangka panjang, beras dari Papua bukan saja bisa memenuhi kebutuhan beras di sana, tapi menjadi lumbung beras baru bagi wilayah lain di luar Papua.

Tentu, untuk meraih target tersebut dibutuhkan pembinaan. Sebab hasil produksi hasil pertanian sangat tergantung serangkaian, mulai dari pemilihan bibit, pengolahan tanah, pemeliharaan, penanganan masa panen, dan pengolahan pascapanen. Pendampingan yang berkesinambungan dari para praktisi pada petani secara bertahap akan membawa petani pada keberhasilan. Khususnya dalam pertanian, produktivitas yang tinggi umumnya melibatkan cara-cara baru.

Sementara masyarakat desa masih menggunakan teknologi lama yang kurang mendukung produktivitas. Kuncinya ada ketelatenan pendamping dan keterbukaan petani untuk mau menerima hal baru. Seringkali modal menjadi faktor yang menentukan dalam mengembangkan usaha di pedesaan. Banyak warga umumnya menggeluti bidang sesuai dengan potensi yang ada di desa tersebut. Di salah satu desa di Indramayu yang berbatasan dengan pantai utara Laut Jawa, beberapa warga memproduksi kerupuk ikan. Lewat sedikit modal yang mereka kumpulkan secara mandiri.

Secara ekonomi mereka bisa menghidupi keluarganya, namun tak bisa meningkatkan produksi karena terbatasnya alat produksi. Bahkan mesin-mesin tersebut kadang rusak karena memang sudah lama. Dengan bantuan modal Rp 10 juta-Rp 15 juta dari pemerintah mereka tentu akan dapat berlari lebih kencang. Sementara warga yang menjual ikan eceran rupanya butuh wadah penyimpanan ikan sementara, agar kondisi ikan tetap segar. Ternyata harganya juga tak mahal.

Contoh di atas menunjukkan, bantuan modal pemerintah sangat dibutuhkan untuk mengatasi masalah peningkatan produksi. Memberi kesempatan berusaha seringkali menjadi faktor kunci memberdayakan masyarakat desa. Misalnya menyediakan tempat berjualan di pasar dengan sistem subsidi, mengajak mereka dalam berbagai pameran menjadi ajang promosi agar produk makin dikenal. Terakhir adalah memberi jaring pengaman sosial, karena hasil pertanian yang menopang kehidupan mereka mengalami pasang surut sejalan dengan naik-turunnya kondisi ekonomi.

Dengan dukungan yang tepat sasaran, kita akan melihat lima tahun ke depan masyarakat desa akan mencapai tingkat kesejahteraan yang tinggi. Dan banyak orang desa bangga dengan desanya, tidak harus berurbanisasi ke kota untuk meraih cita-citanya.