Salah satu tantangan membangun kehidupan berbangsa yang berkualitas adalah ketahanan air. Meningkatnya pertumbuhan ekonomi, pertumbuhan pendukuk, serta perubahan pola produksi dan konsumsi masyarakat, mendorong peningkatan kebutuhan air, pangan dan energi.

Berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional, pengelolaan sumber daya air menjadi hal penting dan menjadi kunci utama dalam mewujudkan ketahanan air, termasuk untuk mendukung ketahanan pangan dan energi dalam rangka mendukung ketahanan nasional, melalui pendekatan terpadu lintas sektor dan lintas kelembagaan.

Sampai dengan tahun 2014, kapasitas tampung air mencapai 58,6 m3/kapita, naik 12,7% terhadap kapasitas tahun 2010 yang sebesar 52 m3/kapita. Namun demikian, kapasitas tampung tersebut baru mencapai sekitar 3% dari kebutuhan ideal sebesar 1.975 m3/kapita.

Sebagai perbandingan, 10 tahun yang lalu (2003) kapasitas tampung perkapita Thailand telah mencapai 1.277 m3/kapita atau lebih dari 20 kali lipat kapasitas tampung Indonesia pada tahun 2013. Terhambatnya pembangunan penampung air seperti waduk terutama disebabkan oleh keterlambatan penyiapan pembangunan (Studi Potensi, FS, SID, DED, AMDAL, Sertifikasi), lamanya ijin pemanfaatan lokasi, lamanya pembebasan lahan dan pemukiman kembali penduduk yang terkena dampak.

Kurang optimalnya pengelolaan waduk tercermin dari percepatan penurunan fungsi waduk. Dari 284 waduk termasuk yang berfungsi sebagai PLTA, sebagian besar mengalami percepatan sedimentasi. Kondisi ini membutuhkan perubahan, dan perubahan itu yang kini tengah dirintis dalam pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla.

Oleh karena itu, pembangunan infrastruktur sarana air menjadi sebuah keharusan. Salah satunya adalah pembangunan Bendungan Jatibarang, Semarang, Jawa Tengah. Bendungan ini merupakan bendungan pertama yang beroperasi di era Kabinet Kerja, dari rencana pembangunan sarana air, baik berupa waduk maupun bendungan. Bendungan Jatibarang berada persis di tengah Kota Semarang, yakni masuk di Kecamatan Gunungpati dan Kecamatan Mijen. Lima desa terdampak antara lain Kelurahan Talunkacang, Kandri, Jatirejo untuk Gunungpati, Kelurahan Kedungpane dan Jatibarang untuk Kecamatan Mijen.

Bendungan Jatibarang yang dikelola secara terpadu itu bisa untuk pembangkit listrik tenaga hidro berkapasitas 1,5 MW, penyediaan air baku sebanyak 10,9 juta meter kubik dan untuk program pariwisata. Bendungan ini pun mampu menyerap air sebanyak 270 meter kubik per detik, yang diyakini mampu mengendalikan banjir selama 100 tahun ke depan.

Perlunya pembangunan bendungan ini sesuai dengan strategi mempercepat pemanfaatan tenaga air. Langkah-langkah yang perlu dilakukan adalah membangun PLTA pada jaringan yang sudah ada, baik itu jaringan dengan bendungan pengairan ataupun saluran primer irigasi.

Selain itu, bendungan yang memiliki tinggi 74 meter, panjang puncak 200 meter, dan lebar puncak 10 meter ini juga memiliki fungsi sebagai tempat wisata bagi warga Semarang karena berdampingan dengan Gua Kreo yang merupakan habitat dari sekumpulan kera ekor panjang.
Ketahanan air punya hubungan erat dengan ketahanan pangan sebuah negara. Ketahanan air dan pangan akan membantu masyarakat sebuah negara untuk bergerak dan berkembang menjadi masyarakat yang maju.