Dalam mewujudkan kedaulatan pangan, Presiden Jokowi memilih langsung ke jantung persoalan. Yakni menargetkan swasembada pangan pada 4 komoditas utama: beras, gula, jagung, dan kedelai dalam 3-4 tahun mendatang.

Dengan mencanangkan swasembada, Presiden Jokowi mengerahkan segenap potensi dalam negeri demi menghasilkan keempat komoditas tersebut sesuai target. Dalam hal beras, tahun 2015, pemerintah sudah langsung membatasi seketat mungkin pembukaan keran impor.

Pilihan swasembada pada empat komoditas hasil pertanian sangatlah tepat. Beras, gula, jagung, dan kedelai merupakan produk pertanian strategis yang digunakan untuk berbagai produk pangan maupun olahan. Beras merupakan kebutuhan pangan pokok sebagian besar masyarakat kita.

Akan tetapi, hingga saat ini, tingkat produksi tidak beranjak naik signifikan. Pada tahun 2010 sebesar 36,5 juta ton; 2011 sejumlah 36,1 juta ton, dan tahun 2013 menjadi 37, 9 juta ton. Sementara tingkat konsumsi bertengger pada angka 33,06 juta ton pada tahun 2010; 33,5 juta ton pada 2011, dan 34,06 juta ton pada 2012.

Perbedaan tipis antara tingkat produksi dan konsumsi tersebut tentu membahayakan ketahanan pangan secara nasional. Agar ketahanan pangan meningkat, pemerintah melakukan impor. Yakni 687,5 ribu ton tahun 2010; 2,75 juta ton tahun 2011; dan 1,92 juta ton tahun 2012. Akan tetapi, Pemerintahan Jokowi-JK sejak awal sudah mencanangkan bahwa bukanlah ketahanan pangan yang menjadi tujuan, melainkan kedaulatan pangan.

Selain beras, kedelai juga menjadi sasaran swasembada. Krisis kedelai selalu berulang hampir setiap tahun. Padahal kedelai merupakan bahan dasar tahu dan tempe. Lauk favorit masyarakat luas. Bungkil kedelai juga menjadi pakan ternak. Bisa dibayangkan, berkurangnya pasokan kedelai membuat rakyat menjerit.

Produksi kedelai memang minim. Tahun 2010 hanya 907 ribu ton; tahun 2011 malah turun jadi 851 ribu ton dan kembali melorot pada 2012 hingga tinggal 843 ribu ton. Produksi yang kecil tersebut kemudian ditambal dengan impor yang terus meningkat dari tahun ketahun. Yakni 1,8 juta ton pada tahun 2010; lalu 1,9 juta ton tahun 2011; dan 2,1 juta ton tahun 2012.

Dalam hal gula, nasibnya juga sebangun. Volume impornya selama dua tahun berturut-turut melebihi realisasi produksi dalam negeri. Pada 2010, realisasi produksi sebesar 1,3 juta ton dengan volume impor 1,9 juta ton. Tahun 2011, produksi 1,3 juta ton sementara impor melambung ke angka 2,6 juta ton. Tahun 2012, produksi 2, 6 juta ton dan impor 494 ribu ton.

Jagung nasibnya sedikit lebih baik. Realisasi produksi berturut-turut dari tahun 2010 – 2012 adalah 18,3 juta ton; 17,6 juta ton; dan 19,3 juta ton. Dengan impor 1,5 juta ton; 2,8 juta ton, dan 1,8 juta ton.

Demi melihat kondisi ketahanan pangan yang mengkhawatirkan itulah Presiden Jokowi menargetkan swasembada pada keempat komoditas tadi, yang konsentrasinya terdapat di 11 provinsi. Setiap tahun target-target tersebut tentu perlu dievaluasi dan diidentifikasi secara cermat, faktor-faktor keberhasilan dan kegagalannya.

Optimisme bahwa swasembada bakal tercapai ditopang oleh produksi pangan yang mulai meningkat dan juga sistem kelola pangan yang membaik. “Saya sudah beri target Menteri Pertanian tiga tahun, tidak boleh lebih. Hati-hati, tiga tahun belum swasembada, saya ganti menterinya,” kata Presiden Jokowi saat memberi kuliah umum di Kampus Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, akhir tahun lalu (9/12/2014).