Peluang koperasi untuk menyumbang perekonomian nasional terbuka lebar. Belajar dari kesuksesan koperasi baik di Indonesia maupun Belanda, kuncinya ada pada komitmen, fokus, dan inovasi.

Meski sudah menapak usia 70 tahun, sumbangan koperasi terhadap perekonomian Indonesia hanya 3,9 persen. Sebagai pembanding, aktivitas koperasi di Perancis dan Belanda berkontribusi sebesar 18 persen bagi perekonomian negara. Selandia baru malah lebih mencengangkan, 20 persennya disumbang oleh koperasi.

Paparan di atas diungkap oleh Presiden Jokowi dalam acara Peringatan Hari Koperasi Nasional Ke-70,  Rabu (12/7/2017), di Lapangan Karebosi, Baru, Kecamatan Ujung Pandang, Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan.

Padahal, lanjut Presiden, setiap tahun pemerintah selalu gencar menggerakan koperasi sebagai soko guru perekonomian Indonesia. “Inilah pekerjaan kita. Pekerjaan besar kita ada di sini, agar kontribusi koperasi terhadap perekonomian nasional itu meningkat secara drastis,” tandasnya.

Berdasar data dari Kementerian Koperasi dan UKM, hingga tahun 2015 ada 212.135 unit koperasi di Indonesia. Dari jumlah itu, hanya 150.223 yang masih aktif. Ditengarai ada beberapa masalah sehingga pertumbuhan koperasi kurang optimal. Diantaranya persoalan permodalan dan organisasi. Masyarakat pun nampaknya masih pesimis atas peran dan fungsi koperasi.

Koperasi yang berazas kekeluargaan dan gotong royong sebenarnya  merupakan institusi ekonomi yang pas untuk mewujudkan sila ke-5 dari Pancasila – Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Hal yang disadari sejak awal oleh R. Aria Wiriatmadja, seorang Patih asal Purwokerto, pada 1895 yang mendirikan bank bagi pegawai negeri dan rakyat kecil. Tujuannya menciptakan kesejahteraan bagi para anggotanya. Adalah Bung Hatta yang kemudian benar-benar menggelar konggres koperasi untuk pertama kali di Tasikmalaya pada 12 Juli 1947 yang lantas dijadikan Hari Koperasi Indonesia.

Dalam kurun waktu 70 tahun perjalanan koperasi di Indonesia, ada cukup banyak koperasi yang dapat dijadikan contoh dalam mengelola usaha, kredit, dan uang. Namun itu saja belum cukup. Jumlah yang sukses harus terus ditambah, sehingga semua koperasi harus bisa berperan maksimal untuk menyumbang bagi perekonomian nasional.

Salah satu contoh koperasi yang sukses adalah koperasi simpan pinjam di Pekalongan  didirikan pada tahun 1973 dan bertahan hingga kini. Pendiri koperasi ini juga mencerminkan kebinekaan karena terdiri atas tiga etnis: Jawa, Tiongkok, dan Arab. Komposisi yang dipertahankan hingga sekarang. Dari modal awal Rp 4 juta, koperasi ini telah memiliki aset hingga Rp 4,6 triliun.

Jika ditanya kiat suksesnya, ramuannya adalah paduan dari banyak hal. Mulai dari adanya satu ikatan dan komando antara anggota dan pengurus koperasi. Ditunjang dengan pengelolaan manajemen yang rapi, dengan rapat anggota memiliki kekuasaan tertinggi. Serta adanya kesadaran bersama bahwa pengurus, karyawan, dan anggota punya tanggung jawab yang sama. Pengurus berperan sebagai pembuat kebijakan, sementara pengawas yang dibentuk bertanggung jawab pada keorganisasian.

Sebuah koperasi di Bali juga sukses lantaran pengelolaan organisasi yang transparan, aktif mendatangi dan merekrut calon anggota, serta inovatif dalam menjalankan usahanya.

Belanda juga punya sejarah panjang dalam pengelolaan koperasi, hingga wajar jika kontribusinya pada perekonomian mencapai 18 persen. Di negeri Kincir Angin ini, koperasi yang bergerak di sektor pertanian dan peternakan (gula, kentang, buah, sayur, bunga, susu, pembiakan hewan) menguasai 70 persen pangsa pasar pertanian.

Jika ditelusuri rumus keberhasilan koperasi di Belanda berpangkal beberapa hal berikut. Pertama, pemerintah menciptakan Undang Undang Koperasi yang adaptif terhadap perubahan ekonomi dan politik. Kedua, kondisi masyarakat cocok untuk pengembangan koperasi oleh adanya pengambilan keputusan yang demokratis, tingkat kepercayaan yang tinggi, dan organisasi yang mandiri. Ketiga, adanya kontrol yang kuat, inovatif, dan anggota yang berkomitmen tinggi pada kemajuan koperasi. Keempat, koperasi di sana piawai dalam pemilihan rantai ekonomi mana yang akan dimasuki. Apakah akan masuk pada lini produksi, pemasaran, atau bahkan pengembangan merek.

Pengelolaan yang baik dan efektivitas kontrol dari anggota untuk memajukan koperasi tersebut tidak langsung datang dari langit. Pengurus yang mewakili keanggotaan harus mengambil tindakan yang tepat untuk mengembangkan koperasi dari waktu ke waktu. Di lain sisi, tenaga profesional yang dipekerjakan di situ butuh ruang untuk memenangkan pasar seperti yang sudah digariskan oleh pengurus koperasi.

Singkat kata, rumus kesuksesan koperasi sebenarnya sudah ada, tinggal menjalankannya disesuaikan dengan kondisi setempat. Tak kalah penting adalah komitmen, ketekunan, dan pengorbanan dari pengurus, pengawas, dan anggota dipupuk terus-menerus.