Foto: Kris_Biro Pers, Media, dan Informasi, Sekretariat Presiden

Sebelum adanya tol laut, pengiriman seekor sapi bisa mencapai Rp1,8 juta, kini hanya Rp330 ribu – yang berarti efisiensinya sebesar 82%!

Salah satu fokus dalam visi-misi Nawacita pemerintahan Jokowi-JK adalah pembangunan infrastruktur kelautan. Dengan terciptanya infrastruktur kelautan yang terintegrasi dan terkoneksi, maka dampak utama yang akan dirasakan adalah efisiensi dalam berbagai hal, termasuk waktu tempuh atau angkut yang lebih cepat dan biaya yang lebih murah.

Secara akumulatif, efisiensi inilah yang kemudian akan mereduksi ekonomi biaya tinggi, menurunkan disparitas harga antar wilayah, menciptakan pemerataan pembangunan dan – dalam konteks persaingan global – meningkatkan daya saing ekonomi Indonesia.

Sehingga, para pelaku usaha akan diuntungkan, para investor akan berlomba-lomba menanamkan modalnya – karena efisiensi biaya juga berarti marjin keuntungan yang lebih besar. Kemudian, perekonomian nasional akan bergerak dinamis, lapangan kerja akan bertumbuh, penerimaan negara akan meningkat dan kesejahteraan masyarakat pun akan semakin membaik.

Tentu saja infrastruktur yang perlu dibangun tidak hanya di laut. Namun, sebagai negara maritim, laut lantas memiliki posisi yang sangat strategis. Di sinilah, mengapa “Tol Laut” sebagai konsep yang dicetuskan Presiden Jokowi memiliki makna yang sangat penting. Tujuan dari Tol Laut adalah untuk menghubungkan pelabuhan-pelabuhan besar yang ada di Nusantara.

Secara nasional, indikator utama yang akan digunakan untuk mengukur keberhasilan pembangunan infrastruktur kelautan, termasuk Tol Laut, adalah penurunan biaya logistik dari 24,5% terhadap PDB saat ini menjadi di bawah 20%.

Salah satu langkah besar telah dimulai dengan kedatangan Kapal Pengangkut Ternak KM Camara Nusantara 1 di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Jumat 11 Desember 2015. Kapal ini memiliki kemampuan angkut hingga 500 sapi, meskipun untuk perjalanan kali ini hanya membawa 352 sapi dari Nusa Tenggara Timur.

Sebelum menggunakan kapal pengangkut ternak, biaya pengiriman satu ekor sapi berkisar antara Rp1,5 juta hingga Rp1,8 juta. “Sekarang menjadi Rp330 ribu per ekor sapi. Ini yang sering kita bilang tol laut seperti ini,” ujar Presiden Jokowi ketika menyambut kedatangan KM Camara Nusantara 1. Efisiensi biaya yang tercipta adalah sebesar 82%!

Situasi ini tentu menguntungkan baik bagi peternak yang komponen biaya logistiknya menurun maupun konsumen yang akan mendapatkan harga pembelian akhir yang lebih murah. Kalaupun terjadi dinamika harga yang disebabkan karena proses permintaan dan penawaran di pasar, hal tersebut diharapkan tetap tidak akan mengurangi keuntungan baik bagi peternak maupun maupun masyarakat sebagai konsumen.

Harga daging sapi, secara umum, diharapkan akan menurun seiring dengan efisiensi biaya logistik. Presiden Jokowi sendiri berharap hal tersebut akan terjadi dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi. Apalagi, Presiden sudah memberikan sinyal bahwa KM Camara Nusantara 1 ini baru merupakan langkah pertama.

“Kapal ini memang baru satu, tapi yang akan datang lagi 7 kapal, kemarin 5 datang lagi 2. Wilayah-wilayah yang ada sapi akan terbantu dengan adanya sapi,” ujar Presiden. Ini baru merupakan langkah awal, tapi jelas sebuah langkah awal yang besar.