Kereta api Trans-Sulawesi dapat mencapai kecepatan hingga 200 km/jam dibandingkan dengan kereta api di Jawa yang hanya maksimal mencapai 120 km/jam

Pemerataan pembangunan di Indonesia terus dilakukan oleh pemerintahan presiden Jokowi dalam rangka mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Infrastruktur merupakan salah satu program prioritas yang terus dibangun pemerintah dalam rangka mengakselerasi kemajuan dalam berbagai bidang..

Rencana pembangunan kereta api Trans-Sulawesi yang telah lama didambakan masyarakat Sulawesi akhirnya akan segera terwujud. Secara keseluruhan proyek perkeretaapian Trans-Sulawesi yang masuk dalam Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 mencapai panjang 1.700 km yang membentang dari Makassar sampai Manado. Jalur kereta api Trans-Sulawesi tersebut diperkirakan akan beroperasi pada tahun 2018.

Keberadaan kereta api sebagai moda transportasi massal baik untuk orang maupun barang akan meningkatkan pertumbuhan perekonomian setempat. Hal ini disebabkan karena konektivitas yang terbangun akan memberikan daya tarik bagi pelaku bisnis dalam menanamkan modalnya di kota-kota yang dilalui oleh jalur kereta api Trans-Sulawesi..

Dampak lanjutan dari adanya rencana pembangunan kereta api Trans-Sulawesi adalah daya saing berbagai kota di Sulawesi akan meningkat seiring dengan semakin murahnya biaya logistik untuk mengirimkan beragam produk ke berbagai tujuan. Dengan sendirinya ini menjadi semacam insentif bagi para pelaku usaha dan juga investor untuk mengembangkan usahanya di Sulawesi. Pada akhirnya, ini akan meningkatkan pendapatan asli daerah dan kesejahteraan masyarakat setempat.

Hal ini pula yang ditegaskan oleh Presiden Jokowi dalam kunjungannya ke Sulawesi untuk meninjau proses pembangunan jalur kereta api Trans-Sulawesi Tahap I lintas Makassar-Parepare, Rabu (25/11/2015). “Kalau ada kereta api, transportasi laut ada, kita pastikan biaya transportasi, distribusi lebih rendah, biaya logistik lebih murah,” ujar Presiden Jokowi.

Presiden menjelaskan, pembangunan kereta api Trans-Sulawesi akan dikoneksikan dengan pelabuhan dan bandara sehingga akan tercipta konektivitas antar moda transportasi. Hal tersebut dilakukan untuk memudahkan akses bagi masyarakat dan pelaku bisnis dalam beraktivitas dan melakukan kegiatan bisnisnya.

Kereta api Trans-Sulawesi memiliki kelebihan dibandingkan kereta api di pulau Jawa. Kerata api Trans-Sulawesi langsung dibangun double track sehingga akan lebih meningkatkan arus lalu lintas kereta. Selain itu, pembangunan jalur kereta Trans-Sulawesi direncanakan tidak sebidang dengan jalan raya. Pembangunan jalur rel kereta tidak sebidang akan meminimalisir kecelakaan kereta akibat adanya persimpangan dengan jalan raya yang dilalui kendaraan bermotor.

Kelebihan lain adalah dari sisi kecepatan. Kereta api Trans-Sulawesi dapat mencapai kecepatan hingga 200 km/jam dibandingkan dengan kereta api di Jawa yang hingga tahun 2015 ini hanya maksimal mampu mencapai 120km/jam.

Selain itu, lebar rel kereta api Trans-Sulawesi mengikuti standar internasional yang memiliki lebar 1 meter 435 milimeter. Hal ini juga berbeda dengan di pulau Jawa yang hanya memiliki lebar 1 meter 67 milimeter. Lebar rel standar internasional tersebut memberikan dampak keamanan yang lebih baik, yaitu agar kereta tidak mudah terguling dalam kecepatan tinggi.

Menurut rencana, hingga akhir Desember 2015 rel terpasang akan mencapai 16,1 km dari Barru ke Parepare, dari total panjang jalur Makassar-Parepare sepanjang 145,23 km. Sebelumnya, groundbreaking rel kereta api Makassar-Pare Pare di Sulawesi Selatan sudah berlangsung pada 12 Agustus 2014.

Di masa pendudukan Belanda, sebetulnya pernah dibangun jalur kereta api pertama di Sulawesi sepanjang 47 km dengan rute Makassar-Takalar yang dioperasikan pada tanggal 1 Juli 1923. Namun, sejarah perkeretapian di Sulawesi berakhir di masa pendudukan Jepang karena alasan perang. Trans-Sulawesi menghidupkan kembali sejarah kereta api di bumi Celebes. Kali ini, lebih panjang, lebih terhubung dan kiranya dapat menjadi penanda baru kebangkitan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Sulawesi.