Pengoperasian Tol Bawen-Salatiga sepanjang 17,6 kilometer dipastikan bakal mendongkrak kunjungan wisata alam, sejarah, dan budaya yang lokasinya tak jauh dari ruas tol ini.

Sebagai contoh, tak jauh dari exit tol Bawen terdapat museum kereta api Ambarawa, wisata air Rawapening. Atau bila sedikit naik ke arah Bandungan, bisa dijumpai peninggalan candi Gedong Songo yang indah.

Candi Gedong Songo adalah nama sebuah komplek bangunan candi peninggalan budaya Hindu yang terletak di desa Candi, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, tepatnya di lereng Gunung Ungaran. Di kompleks candi ini terdapat sembilan buah candi. Candi ini ditemukan oleh Raffles pada tahun 1804 dan merupakan peninggalan budaya Hindu dari zaman Wangsa Syailendra abad ke-9.

Jika Anda penyuka wisata gunung, ada tempat wisata menarik di kaki Gunung Merbabu, Kopeng. Dan di sebelah barat Boyolali ke arah Magelang, ada satu tempat yang istimewa bernama Selo. Tempat ini sejuk dan indah lantaran diapit oleh dua buah gunung, yakni Merbabu di sisi utara dan Merapi di sisi selatan. Selo juga menjadi tempat awal favorit pendakian ke Gunung Merapi.

Jalan sudah dibuka, tinggal bagaimana kreativitas pemerintah daerah untuk mempromosikan obyek wisata dan mengemas obyek wisata agar menarik menjadi kunci keberhasilan. Kunjungan wisata  berpotensi meningkatkan kuliner, kerajinan daerah, dan hotel. Jika berhasil, potensi daerah pun terangkat. Wilayah Jawa Tengah yang selama ini nyaris kurang dilirik, bakal berubah menjadi magnet baru tujuan wisata.

Peresmian jalan Semarang-Solo seksi Bawen-Salatiga sepanjang 17,6 km yang dikelola oleh Trans Marga Jateng ini juga bisa dibilang istimewa. Inilah ruas tol yang akan menghubungkan Semarang-Solo untuk pertama kali sepanjang 72,6 kilometer. Dalam kondisi normal, waktu tempuh Semarang-Solo dan sebaliknya adalah 2,5 – 3 jam. Dengan adanya tol ini, waktu tempuh terpangkas, hingga hanya 1,5 jam. Tol ini juga menjadi jalan alternatif bagi mereka yang akan melakukan perjalanan Yogya-Semarang dan sebaliknya.

Terpangkasnya waktu tempuh, menjadi faktor penting, lantaran jalur ini menjadi urat nadi ekonomi kota-kota penting di Jawa Tengah seperti Ambarawa, Salatiga, Boyolali, dan Kartasura. Sebagai kota penghasil komoditas pertanian, ketiga kota pertama tersebut membutuhkan jalan yang bisa dengan cepat mengantarkan hasil pertanian terutama sayur dan buah-buahan agar tetap segar di tempat tujuan.

Ruas ini, juga menyajikan pemandangan yang indah, bukit dan gunung mewarnai sepanjang perjalanan, membuat pengguna tol tidak akan bosan. Bahkan jika pengguna jalan keluar tol Salatiga, bakal disuguhi dengan latar belakang Gunung Merbabu yang menjulang, tepat di tengah gerbang tol.

Peresmian ruas tol ini membuktikan kesungguhan pemerintah untuk meningkatkan pembangunan jalan tol, sehingga tol trans Jawa benar-benar terwujud pada tahun 2018. Jasa Marga telah menargetkan membangun 200 km/tahun untuk tahun 2017-2019 sehingga di akhir tahun 2019 jalan tol baru Jasa Marga bertambah 600 km.

Pembangunan jalan tol ini, tak terlepas dari upaya pemerintah untuk mempercepat pembebasan tanah yang akan dipakai untuk konstruksi jalan tol. Dari temuan lapangan, hal terberat adalah dalam soal pembebasan tanah ini, sementara soal konstruksi relatif bisa dipercepat asalkan tanah sudah tersedia.

Meningkatnya jumlah penduduk, aktivitas perjalanan, dan ekonomi membuat pembangunan jalan tol tidak bisa ditunda lagi. Lewat pembangunan jalan tol, aktivitas ekonomi menjadi lebih efisiien lantaran perpindahan barang menjadi lebih lancar. Ujung-ujungnya harga komoditas lebih rendah. Dan bila ditarik lebih jauh membantu meningkatkan daya beli masyarakat.

Sebuah upaya kerja nyata yang terus dilakukan pemerintah untuk mensejahterakan rakyat.