Di tengah maraknya berita palsu (hoax), kebiasaan membaca buku  dan bacaan bermutu perlu digalakkan. Selain meningkatkan literasi, akan membuat masyarakat lebih pintar, cerdas,  memperluas wawasan, serta berperan dalam kemajuan bangsa.

Dunia literasi di Indonesia mencatat dua hal penting di bulan Mei 2017. Pertama, Selasa (2/5/2017) Presiden bertemu dengan pegiat literasi inspiratif di Istana Negara. Kepala Negara mengapresiasi para pegiat literasi karena memfasilitasi anak-anak muda di daerah terpencil untuk mengakses buku-buku. “Senang sekali saya bisa bertemu dengan bapak-Ibu dan saudara-saudara sekalian. Terutama dalam mendorong, membuat masyarakat menjadi lebih pintar,  cerdas, dan terbuka wawasannya dengan memberikan bacaan, membaca buku,” kata Jokowi.

Kedua, peringatan Hari Buku Nasional bertema ‘Gemar Membaca’ di halaman tengah Istana Kepresidenan Jakarta , Rabu (17/5/2017), yang menghadirkan 503 siswa SD dan SMP.

Di Hari Buku tersebut, Presiden Joko Widodo mendongengkan cerita rakyat berjudul ‘Lutung Kasarung’. Lewat dongeng yang diambil dari buku, anak-anak dikenalkan dengan kebiasaan membaca sehingga minat baca menjadi lebih baik. Bukan hanya itu, nilai-nilai moral, etika, kesantunan, kejujuran, keberanian pun tertanam sejak dini.

Apa yang dilakukan Presiden menjadi tonggak penting lantaran sebagian besar masyarakat kita masih kental dengan tradisi lisan dibandingkan dengan tradisi tulis.  Akibatnya, kebiasaan membaca masyarakat Indonesia terbilang rendah. Riset The World’s Most Literate Nations  yang dikeluarkan pada 9 Maret 2016 soal kebiasaan membaca di 200 negara menunjukkan, negara-negara Skandinavia berada di peringkat teratas dalam hal ketekunan membaca.

Urutannya adalah:  (1) Finlandia.  (2) Norwegia. (3) Islandia. (4) Denmark. (5) Swedia. (6) Swiss. (7) Amerika Serikat. (8) Jerman. (9) Latvia. (10) Belanda. Sedangkan Indonesia pada posisi ke-60.

Memacu kebiasaan membaca menjadi keharusan, lantaran kebiasaan ini terbukti berperan penting bukan saja dalam menunjang kesuksesan individu, tetapi  ternyata juga berperan dalam kemajuan bangsa.

Cerita yang didongengkan Presiden adalah salah satu karya fiksi yang kaya akan dunia imajinasi. Dongeng bakal mengasah dan meningkatkan daya imajinasi anak. Dan imajinasi, seperti kita tahu merupakan bagian dari kecerdasan. Imajinasi dapat merangsang kreativitas dan inovasi. Berbagai hasil temuan teknologi, umumnya diawali oleh imajinasi para penemunya.

Selain imajinasi, dongeng juga mengandung nilai-nilai luhur seperti semangat berprestasi, optimisme, pantang menyerah, keberanian mengubah nasib, rasa tanggung jawab, dan disiplin.

Sementara itu, dongeng yang sarat akan pesan moral juga dapat memperhalus budi atau perasaan anak-anak. Lewat dongeng, secara tidak langsung anak-anak akan menyerap nilai-nilai kejujuran, sikap baik dan buruk, kasih sayang, tenggang rasa atau toleransi, gotong royong dan persatuan, kerendahan hati, kerelaan berkorban demi kebersamaan, dsb.

Nilai-nilai moral kehidupan seperti itu tentu akan lebih mudah diserap anak-anak bila disajikan dalam bentuk cerita atau dongeng (karena menghibur), dibandingkan dengan nasihat lisan yang disampaikan orang dewasa. Lewat kisah dongeng yang dibacanya, tanpa disadari anak-anak menyerap nilai-nilai tersebut dan akan turut membentuk karakter atau kepribadiannya. Otak anak-anak ibarat tempat penyimpanan data dalam komputer (hard disk). Selain diisi pengalaman hidup sehari-hari, bila makin banyak diisi oleh aneka bacaan yang baik, tentu akan semakin kaya pengetahuannya.

Aktivitas membaca pun memperluas cakrawala berpikir. Membuatnya melanglang buana mengetahui berbagai bangsa di dunia dengan aneka budayanya, memahami kekayaan alam yang harus dijaga kelestariannya, dan menambah kemampuan daya analisanya.

Membaca juga akan meningkatkan rasa ingin tahu anak-anak dan menjadi inspirasi bagi pilihan profesi (cita-cita) mereka di kemudian hari. Jadi, seperti ungkapan “buku adalah gudang ilmu dan membaca adalah kuncinya”. Dengan begitu, aktivitas membaca akan membuat anak-anak menjadi kaya akan ilmu pengetahuan, berpikir kritis, dan bijak dalam bersikap.

Gerakan literasi, membaca buku yang dicanangkan oleh berbagai kalangan menjadi salah satu cara efektif meningkatkan kemampuan membaca. Peran guru/pendidik di sekolah bahkan lebih strategis. Mereka bisa mengajak anak didik untuk kembali menggunakan perpustakaan sebagai sumber referensi.

Tak dapat dipungkiri, sekarang ini anak-anak sering mendapat tugas dari guru dengan sumber dari internet. Ini memang bagus, membuat anak-anak melek teknologi. Namun, di sisi lain bisa menjauhkan anak dari kebiasaan membuka dan membaca buku. Oleh karena itu, alangkah baik bila guru memberi tugas dengan menggunakan sumber bacaan di perpustakaan sekolah.

Dengan cara seperti ini, anak-anak akan akrab dengan perpustakaan, terbiasa membuka dan membaca buku, memahaminya, dan kemudian juga terbiasa menulis panjang (mengungkapkan kembali apa yang telah dibacanya).

Di rumah, orangtua juga perlu menciptakan budaya baca dengan memberi contoh konkrit ayah ibu membaca koran, majalah, atau buku, dan bukan masing-masing tekun dengan gadget-nya. Di rumah bisa dibuat perpustakaan mini. Di kamar anak bisa disediakan berbagai bacaan, baik majalah maupun buku. Orangtua memfasilitasi anak-anak untuk berlangganan rutin majalah anak kesayangannya.

Intinya, banyaknya aktivitas yang mendekatkan anak-anak pada buku atau majalah, niscaya akan membuat mereka tidak bisa jauh dari buku dan aktivitas membaca. Zaman sekarang, gadget memang tidak bisa dijauhkan dari mereka. Namun, buku atau majalah juga tetap harus didekatkan. Mereka boleh akrab dengan media sosial, tetapi juga tetap bersahabat dengan buku atau majalah.

Karena buku adalah jendela dunia!