Selain megaproyek tol Trans Sumatera, Presiden Jokowi secara serentak meresmikan Percepatan Pembangunan Jalan Tol Ruas Solo-Ngawi dan ground-breaking ruas Ngawi-Kertosono di Desa Klitik, Geneng, Ngawi Jawa Timur (30/4/2015). Jalan tol sepanjang 87,02 km ini ditargetkan harus selesai dalam waktu 2 tahun. Hal ini semakin melengkapi rencana untuk membangun konektivitas antara Jawa-Sumatera, dan dengan pulau-pulau lainnya melalui tol laut dan jalan kereta api yang akan dibangun hampir secara bersamaan.

Membangun jalan tol menjadi salah satu langkah strategis dalam membangun urat nadi perekonomian. Dengan adanya jalan bebas hambatan ini, maka pelayanan distribusi barang dan jasa akan menjadi lancar. Tujuannya adalah pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat di daerah yang dilalui jalan tol tersebut. Itu juga berarti meningkatkan pemerataan hasil pembangunan.

Manfaat lainnya adalah meningkatkan mobilitas orang dan barang ke berbagai pelosok, terutama daerah di luar Jawa. Pengguna jalan tol akan mendapatkan keuntungan berupa penghematan biaya operasi kendaraan (BOK) dan waktu dibanding apabila melewati jalan non tol. Pembangunan jalan tol juga dapat mendorong masyarakat umum untuk ikut berpartisipasi dalam pembiayaan, lewat pembelian obligasi pemerintah dan saham BUMN yang bergerak di bidang konstruksi.

Sebelumnya ada banyak keluhan soal besarnya biaya transportasi antar daerah yang menggerus keuntungan pengusaha. Pada April 2008, The Asia Foundation, merilis survei Biaya Transportasi Barang Angkutan, Regulasi, dan Pungutan Jalan di Indonesia. Riset itu menyimpulkan biaya angkutan barang dalam negeri yang begitu tinggi merupakan hambatan besar bagi tingkat pertumbuhan di Indonesia. Biaya logistik dalam negeri di Indonesia lebih tinggi daripada di Vietnam, Thailand, Malaysia, dan Cina.

Studi ini juga menemukan bahwa secara keseluruhan biaya operasional kendaraan untuk truk angkutan barang sebesar Rp 3.093 per kilometer, atau sekitar USD 34 sen per kilometer. Angka ini lebih tinggi daripada biaya rata-rata untuk Asia, yang sebesar USD 22 sen per kilometer. Bukti yang ada menunjukkan bahwa biaya transportasi dalam negeri secara signifikan merupakan hambatan bagi daya saing perdagangan Indonesia di tingkat internasional.

Nantinya, sesuai Rancangan Awal RPJMN 2015-2019 pembangunan jalan tol akan meliputi pembangunan Trans-Sumatera, Trans-Jawa, Jalan Tol Samarinda-Balikpapan dan Jalan Tol Manado-Bitung. Berbagai ruas tol baru di tanah air tersebut muaranya adalah untuk mempercepat pembangunan transportasi dengan penguatan industri nasional untuk mendukung Sistem Logistik Nasional dan penguatan konektivitas nasional dalam kerangka mendukung kerja sama regional dan global. Sebuah impian yang sudah lama dirindukan, namun baru mulai terwujud sekarang ini.