Pada triwulan I 2015 pertumbuhan ekonomi mencapai 4,71 %. Angka ini berada di bawah perkiraan banyak kalangan, sehingga menimbulkan kekhawatiran akan prospek ekonomi Indonesia. Namun, peluang untuk terjadinya perbaikan ekonomi ke depan terbuka amat lebar.

Perlambatan dalam perekonomian kita disadari sepenuhnya oleh pemerintah. Hal ini mudah dilihat dari angka pertumbuhan ekonomi yang turun dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2012 ekonomi kita tumbuh 6,03 %, turun menjadi 5,58 % pada tahun 2013 dan turun lagi menjadi 5,02 % di tahun 2014, dan pada triwulan I 2015 pertumbuhan ekonomi tahunan turun lagi menjadi 4,71 %

Berbagai upaya telah dilakukan untuk membalikkan arah perekonomian. Namun, pembalikan arah ini menjadi lebih sulit diwujudkan karena keadaan perekonomian global tidak terlalu mendukung. Eropa masih tertatih-tatih keluar dari krisis. India, China dan Jepang masih mengalami perlambatan. Salah satu titik cerah di perekonomian dunia adalah AS. Walaupun demikian, perbaikan di perekonomian AS belum cukup kuat untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dunia ke tingkat yang lebih tinggi.

Sementara itu, dampak stimulus dari sisi fiskal, dalam bentuk implementasi program-program pembangunan (utamanya pembangunan infrastruktur) belum memberikan hasil yang optimal pada triwulan pertama tahun ini. Seperti kita ketahui, APBN-P 2015 baru diketok menjelang akhir Februari 2015. Akibatnya, dampak dari program-program pembangunan yang telah direncanakan belum optimal, dan belum cukup kuat untuk membalik arah pertumbuhan ekonomi kita.

Tabel Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Gambar 1. Pertumbuhan Ekonomi Setiap Triwulan (% YoY)

Memang, tidak mudah mengubah trend perlambatan ekonomi ketika trend perlambatan tersebut sudah terbentuk.

Walaupun demikian, masih ada tanda-tanda yang sedikit menggembirakan. Pada triwulan I 2015 belanja masyarakat, misalnya, masih tumbuh 5,01 % YoY, sama dengan pada triwulan IV 2014. Investasi tumbuh 4,36 % YoY, sedikit lebih cepat dari 4,25% di triwulan IV 2014, dan belanja pemerintah masih tumbuh 2,21%, hanya sedikit lebih lambat dari 2,83% di triwulan IV 2014. Pertumbuhan investasi terus mengalami perbaikan, walaupun secara berangsur-angsur, dalam empat triwulan terakhir. Pada triwulan II 2014 investasi tumbuh 3,71%, terus membaik pada triwulan berikutnya, dan sudah naik menjadi 4,36% pada triwulan I 2015. Trend kenaikan ini merupakan indikasi awal bahwa pertumbuhan aktivitas investasi sudah melampaui titik terendahnya dan memiliki kecenderungan yang akan naik terus dalam beberapa triwulan ke depan.

Pemerintah menyadari benar bahwa perbaikan ekonomi lebih lanjut tidak akan terjadi begitu saja. Harus ada bantuan dari pemerintah untuk memastikan bahwa ekonomi akan terus membaik dalam triwulan-triwulan mendatang. Untuk itu, pemerintah telah mengambil langkah-langkah kebijakan yang diperlukan, termasuk menjaga daya beli masyarakat, mempercepat penyerapan anggaran, mempercepat realisasi investasi, dan meningkatkan koordinasi antar kementrian/lembaga.

Untuk menjaga daya beli masyarakat pemerintah telah menyalurkan dana yang cukup besar dalam bentuk Program Simpanan Keluarga Sejahtera. Pada bulan April 2015 disalurkan dana sebesar hampir sepuluh triliun rupiah. Sekitar 89% sudah diterima oleh masyarakat yang berhak. Program ini diperkirakan dapat membantu masyarakat kita dari tekanan perlambatan ekonomi yang sedang terjadi. Selain itu ke depan pemerintah juga akan mengendalikan harga pangan dengan lebih baik, dimana peran BULOG akan semakin diefektifkan. Untuk mengendalikan harga pangan, rakor pengendalian harga pangan juga akan ditingkatkan frekuensinya agar pengendalian harga pangan dapat dilakukan dengan lebih baik.

Sementara itu, untuk mempercepat penyerapan anggaran pemerintah akan meningkatkan pengawasan penyerapan anggaran yang lebih ketat dengan mengoptimalkan pengawasan melalui Tim Evaluasi Penyerapan Realisasi Anggaran, dengan fokus utama pada pada sepuluh kementrian dengan anggaran belanja modal terbesar. Kementrian juga akan semakin didorong untuk mengimplementasikan program-program di kementriannya.

Untuk meningkatkan aktivitas investasi, pemerintah telah mempercepat pembangunan proyek-proyek infrastruktur. Beberapa proyek infrastruktur sudah dipercepat pembangunannya. Untuk Proyek listrik 35.000 MW telah dilakukan groundbreaking PLTA Jatigede (2 x 55 MW), PLTU Pangkalan susu unit III dan IV Sumut (2 x 220 MW), PLTU Takalar, Sulawesi Selatan (2 x 100 MW). Pemerintah juga sudah menyelesaikan masalah pembebasan tanah di PLTU Batang, Jawa Tengah (2 x 1000 MW).

Pembangunan jalan tol Trans Sumatera juga sudah dimulai. Selain itu, pembangunan Jalan Tol Ruas Solo – Ngawi dan ruas ruas Ngawi-Kertosono sudah dipercepat. Untuk menyediakan rumah untuk penduduk yang kurang mampu sudah dimulai pembangunan dua tower Rumah Susun Sewa (Rusunawa) untuk pekerja/buruh.

Proyek-proyek yang sudah dimulai tersebut akan dimonitor secara ketat, sehingga tidak akan terbengkalai lagi. Dengan demikian dampak dari pembangun proyek-proyek tersebut akan dapat semakin dirasakan dalam perekonomian.

Hal yang tidak kalah pentingnya untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat adalah meningkatkan koordinasi antar kementrian/lembaga. Untuk itu pemerintah akan semakin memperbaiki kodinasi antar kementrian lembaga untuk meningkatkan efisiensi implementasi program-program pembangunan.

Jadi, di tengah perekonomian yang melambat sebenarnya ada data-data yang menunjukkan prospek perbaikan ke depan. Dan dengan langkah kebijakan yang telah dan akan dilakukan oleh pemerintah ke depan, rasanya kita masih bisa optimis pertumbuhan ekonomi akan membaik. Pada triwulan II, III, dan IV ekonomi kita akan tumbuh lebih cepat. Ekonomi kita masih bisa tumbuh di kisaran 5,3 – 5,5 persen di tahun 2015, dan akan dapat tumbuh di atas 6 persen di tahun 2016.