Total investasi domestik di Papua justru melonjak sangat tinggi, menjadi Rp995,8 milyar atau naik 299% dibandingkan tahun 2014

Papua dan Papua Barat memiliki sumber kekayaan alam berlimpah. Potensi ini perlu digali dan dioptimalkan agar dapat memberikan nilai tambah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.

Tantangannya adalah infrastruktur dan konektivitas yang masih terbatas. Sehingga dibutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk membangun berbagai sektor di wilayah ini. Peran investasi pun menjadi sangat krusial.

Di tengah-tengah kelesuan perekonomian global, investasi di provinsi Papua dan Papua Barat ternyata menunjukkan pergerakan yang menarik. Investasi asing di Papua maupun Papua Barat hingga kuartal III 2015 memang menurun dibandingkan tahun 2014 – sebagai cerminan dari perekonomian global yang melemah. Di Papua, total investasi asing mencapai USD831,4 juta (turun 34%) sedangkan di Papua Barat mencapai USD136,9 juta (turun 11%).

Lain asing, lain pula domestik. Total investasi domestik di Papua justru melonjak sangat tinggi, menjadi Rp995,8 milyar atau naik 299% dibandingkan tahun 2014. Kendati demikian total investasi domestik di Papua Barat menurun hingga 40% menjadi Rp60 milyar dibandingkan tahun 2014.

Papua Graph

Bila digabungkan antara Papua dan Papua Barat, total investasi domestik hingga kuartal III 2015 telah mencapai Rp1,056 triliun. Sedangkan total investasi asing antara Papua dan Papua Barat untuk periode yang sama mencapai USD968,3 juta.

Khusus untuk investasi asing, negara dengan total investasi terbesar adalah Amerika Serikat yang mencapai USD763,9 juta (78,9%), disusul Gabungan Negara sebesar USD139,8 juta (14,4%), Singapura USD31,2 juta (3,2%), British Virgin Islands USD14,4 juta (1,5%), Hongkong USD7,6 juta (0,8%) dan Australia USD6,7 juta (0,7%).

Lepas dari total investasi yang komposisinya belum berimbang, namun terdapat 20-an negara yang berasal dari 4 benua – Amerika, Eropa, Asia dan Australia – yang berinvestasi di Papua dan Papua Barat. Hal ini secara tidak langsung menunjukkan tingkat kepercayaan dunia internasional yang merata dan pada saat yang sama mencerminkan relasi ekonomi-politik yang multipolar.

Di propinsi Papua, terdapat fenomena menarik dari meningkatnya investasi domestik pada sektor industri makanan (naik 657,8% menjadi Rp3,5 miliar), tanaman pangan dan perkebunan (naik 280,8% menjadi Rp943 miliar) serta listrik, gas dan air (naik 1218,5% menjadi Rp22,9 miliar). Juga terdapat investasi sebesar Rp26,4 miliar untuk sektor transportasi, gudang dan telekomunikasi yang di tahun sebelumnya tidak terjadi.

Semua ini adalah sektor-sektor strategis yang mampu memberikan dampak jangka panjang baik dari aspek produktivitas maupun daya saing ekonomi Papua di masa mendatang.

Sedangkan untuk investasi asing di Papua, sektor-sektor yang menunjukkan perkembangan positif adalah kehutanan (menjadi USD1,71 juta dari tahun sebelumnya tidak ada), perikanan (naik 172% menjadi USD6,4 juta) serta transportasi, gudang dan telekomunikasi (menjadi USD1,6 juta dari tahun sebelumnya tidak ada). Kedua sektor terakhir juga akan memberikan dampak jangka panjang bagi aspek produktivitas maupun daya saing ekonomi Papua.

Di Papua Barat, investasi domestik memperlihatkan peningkatan terutama di sektor tanaman pangan dan perkebunan (naik 95,3% menjadi Rp50,4 miliar) dan industri kayu (menjadi Rp8,6 miliar dari tahun sebelumnya tidak ada). Sdangkan untuk investasi asing, sektor yang mengalami pertumbuhan signifikan adalah pertambangan (naik 438% menjadi USD8,1 juta), industri makanan (naik 315% menjadi USD30,1 juta) dan kehutanan (menjadi USD2,7 juta dari tahun sebelumnya tidak ada).

Melihat data-data di atas, terutama dengan peningkatan minat investasi domestik di sejumlah sektor strategis, penurunan investasi asing harus dilihat sebagai kesempatan bagi pemerintah untuk membangun secara lebih mandiri.

Dengan pembangunan infrastruktur yang dijalankan terutama melalui Kementerian Pupera dan Perhubungan, konektivitas yang akan tercipta di Papua dan Papua Barat akan membuka kawasan-kawasan terisolir. Dampak langsungnya adalah peningkatan taraf kehidupan dengan tersedianya kebutuhan pokok yang terjangkau.