Salah satu tantangan pembangunan Indonesia adalah kesenjangan yang cukup tinggi. Antara Indonesia bagian barat dengan Indonesia belahan timur, serta antara kota-kota di Jawa-Bali dengan luar Jawa-Bali. Padahal, Indonesia Timur memiliki potensi yang tidak kalah ketimbang daerah lain, baik dari sisi sumber daya alam dan sumber daya manusia.

Pemerintahan Jokowi dan Jusuf Kalla berniat mengubah kesenjangan tersebut. Dalam sebuah kesempatan, Presiden Jokowi menekankan bahwa pemerataan pembangunan masyarakat penting untuk kekuatan NKRI, sehingga di barat hingga ke timur merasakan yang sama. Kesenjangan pembangunan antar kota dan antar daerah harus dikikis tanpa sisa. Semua masyarakat Indonesia dari Sabang sampai Merauke wajib merasakan hasil pembangunan, tanpa kecuali.

Pengoperasian infrastruktur sistem jaringan tulang punggung pita lebar serat optik yang dinamakan Sulawesi Maluku Papua Cable System (SMPCS) menjadi solusi peningkatan perekonomian, khususnya di wilayah Indonesia Timur. Kehadiran infrastruktur tulang punggung serat optik SMPCS ini bisa membuat sistem e-government, e-commerce, dan semua hal yang berhubungan dengan ekonomi bisa dikembangkan secara menyeluruh mulai dari Indonesia bagian barat, tengah, hingga timur.

SMPCS merupakan pembangunan jaringan serat optik yang menjangkau delapan provinsi dan 34 kabupaten di Kawasan Timur Indonesia. Provinsi yang dijangkau meliputi Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Maluku, Nusa Tenggara Timur, Papua Barat, dan Papua.

Infrastruktur dengan panjang total 8.722 kilometer ini juga menjadikan seluruh lapisan masyarakat bisa menikmati layanan internet berkualitas di mana pun mereka berada.

Dengan beroperasinya SMPCS ini, puluhan juta calon pelanggan dan pelanggan eksisting layanan telekomunikasi suara dan data di Maluku dan Papua dapat terlayani dengan lebih baik. Sebelumnya, daerah-daerah ini dilayani dengan satelit dengan lebar pita yang masih terbatas, namun kini ini akan dilayani oleh Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) dengan lebar pita dan kualitas layanan yang tidak berbeda dengan di Pulau Jawa.

Jika dibandingkan dengan kawasan timur, sisi barat Indonesia memang sudah terkoneksi terlebih dahulu. Provinsi Aceh misalnya, telah terhubung dengan sistem jaringan tulang punggung serat optik. Jalur timur Sumatera, yaitu ruas Banda Aceh-Lhokseumawe-Langsa dan Medan yang membentang sepanjang 615 kilometer sudah beroperasi sejak tahun 2008, sedangkan jalur barat yaitu ruas Banda Aceh-Meulaboh-Tapaktuan-Singkil-Subulussalam hingga Medan yang membentang sepanjang 887 kilometer telah beroperasi penuh sejak 2010. Sementara itu, masih banyak daerah di Indonesia Timur yang belum bisa menikmati fasilitas berupa koneksi internet yang memadai seperti di daerah-daerah lain.

Berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah 2015-2019, Indonesia memiliki tantangan membangun perkotaan sebagai pusat-pusat pertumbuhan yang diarahkan untuk mewujudkan kota-kota berkelanjutan dan berdaya saing. Hal ini dilakukan melalui pemerataan pembangunan di luar Pulau Jawa, sekaligus pengembangan kota layak huni, kota hijau yang berketahanan iklim dan bencana, serta kota cerdas, berdasarkan karakter fisik, potensi ekonomi, dan budaya lokal.

Pengoperasian SMPCS ini mampu menjadi awal untuk membangun e-budgeting, e-purchasing di seluruh Tanah Air. Selain itu, pemerintah juga bisa melakukan manajemen sistem untuk keuangan dengan pengendalian dan manajemen kontrol yang jelas. SMPCS bisa menjadi permulaan pembangunan kota-kota berdaya saing dan berkelanjutan, termasuk di bidang ekonomi, serta memperkecil kesenjangan antara Indonesia bagian barat dan timur.