Salah satu produk buatan Indonesia yang terkenal hingga ke penjuru dunia ialah mebel dan furniturnya. Sejumlah daerah seperti Jepara, Surakarta, Cirebon, misalnya sudah identik sebagai salah satu pusat mebel terbesar di Indonesia.

Hal tersebut disadari oleh Presiden Jokowi. Pada pidatonya dalam pembukaan INACRAFT, Maret lalu, ia mengatakan bahwa potensi pasar untuk kerajinan mebel dan furnitur Indonesia di dunia sangat besar. Sebab, mebel dan furnitur Indonesia memiliki kualitas yang sangat baik, dan membuat negara ini berada di 12 besar pengekspor furnitur terbesar di dunia. Selama ini, Tiongkok, Vietnam, dan Italia adalah pemain-pemain besar di sektor furnitur.

Namun demikian, selama berpuluh-puluh tahun perkembangan industri mebel Indonesia boleh dikatakan stagnan. Sehingga, sektor ini harus terus berinovasi dan menguatkan daya saing, sehingga bisa menduduki posisi pengekspor kerajinan mebel di dunia.

Dalam Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2015-2019 tertuang, isu strategis yang dihadapi oleh bangsa Indonesia ke depan terkait dengan peningkatan ekspor barang dan jasa adalah ekspor Indonesia masih didominasi oleh komoditas. Sebab, kontribusi produk industri yang ditujukan untuk ekspor masih terbatas akibat rendahnya daya saing dan penetrasi produk manufaktur Indonesia di pasar dunia.

Merujuk pada Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2015-2019, arah kebijakan ekonomi untuk industri kreatif (yang mencakup industri kerajinan) ialah memfasilitasi orang kreatif (OK) di sepanjang rantai nilai kreasi, produksi, distribusi, dan konservasi. Salah satu strateginya dengan agresif memperluas pasar baik pasar ekspor maupun pasar domestik bagi sektor yang pertumbuhannya tinggi dan volume ekonominya besar seperti untuk sektor fesyen dan kerajinan.

Saat ini, diversifikasi negara tujuan ekspor juga belum lebar. Lebih dari 50 persen ekspor Indonesia ditujukan ke pasar utama, yaitu Jepang, Tiongkok, Singapura, Amerika Serikat, dan India.

Tahun 2014 lalu, nilai ekspor mebel dan furnitur Indonesia hanya 2 miliar dolar Amerika. Sedangkan Vietnam hampir mencapai 6 miliar dolar Amerika. Meski begitu, nilai ekspor mebel Indonesia bisa dikatrol. Presiden Jokowi pun optimistis, target 5 miliar dolar untuk industri mebel untuk lima tahun ke depan bisa tercapai, selama ada strategi yang jelas untuk meningkatkan nilai ekspor mebel ke luar negeri.

Untuk itu, diversifikasi negara tujuan ekspor memegang peranan penting. Salah satu caranya adalah dengan memiliki desain yang bergerak ke pasar internasional. Desain-desain mebel Indonesia bisa mencontoh desain buatan Eropa, tanpa harus meninggalkan ciri khas Indonesia yang menjadi ciri khas.

Langkah lain yang juga layak ditempuh adalah memperbaiki seleksi untuk pengrajin yang digandeng mengikuti pameran internasional. Ke depannya, peserta yang hendak berangkat ke pameran internasional harus diseleksi secara ketat. Sebab, kualitas peserta juga menentukan kualitas produk. Kalau baik, pembeli yang datang juga semakin bertambah, tidak monoton, tetapi melalui proses yang baik.

Dalam persaingan global, beberapa hal harus diperhatikan oleh pengrajin, yakni inovasi, desain, kemasan, dan warna. Hal ini penting karena pasar terus bergerak dan berubah setiap tahun. Pelaku industri harus jeli melihat kesempatan yang terbuka untuk meningkatkan industri mebel. Dengan begitu, nilai ekspor sektor ini dapat meningkat, serta untuk jangka panjang dapat mendorong terbukanya lapangan kerja, serta perbaikan ekonomi negara.