Dengan terminal baru, Bandara Komodo dapat melayani penumpang lebih besar, dari sebelumnya 150 ribu penumpang menjadi 1,5 juta penumpang per tahun. Naik 10 kali lipat.

Komitmen untuk membangun dari pinggiran telah jelas dinyatakan dalam Nawacita. Butir ketiga visi-misi Presiden dan Wakil Presiden Jokowi dan Jusuf Kalla tersebut, menyebutkan bahwa “Kami (Jokowi – Jusuf Kalla) akan membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka Negara Kesatuan.”

Komitmen “membangun dari pinggiran” ini, bahkan merupakan salah satu ciri utama Nawacita – di samping komitmen “Negara hadir” dan “Revolusi Mental”. Hal ini menjelaskan mengapa pemerintah menaruh perhatian demikian besar terhadap pembangunan infrastruktur – khususnya yang akan membuka isolasi, menciptakan konektivititas antar kota dan kabupaten serta yang akan menopang industrialisasi dan penciptaan nilai tambah bagi perekonomian – di wilayah Indonesia Timur.

Salah satu proyek infrastruktur yang sudah diresmikan Presiden Jokowi adalah Independent Power Producer Pembangkit Listrik Tenaga Surya (IPP PLTS) dengan kapasitas 5 Mega Watta (MW) pada hari minggu tanggal 27 Desember 2015 di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Proyek ini merupakan pembangkit listrik tenaga surya terbesar yang sejauh ini pernah dibangun di tanah air.

Proyek investasi bernilai 11,2 juta dolar AS yang mulai dikerjakan sejak Januari 2015 ini, rencananya baru akan diresmikan pada bulan Juni 2016, namun nyatanya bisa dikebut pengerjaannya karena kebutuhan listrik yang cukup besar di wilayah ini. “Ini yang pertama bisa dikerjakan dalam 9 bulan. Bauran energi, kombinasi seperti ini ramah lingkungan,” ujar Presiden.

Ke depannya, PLTS seperti ini direncanakan untuk dikembangkan di pulau-pulau yang sulit terjangkau oleh pembangkit listrik batubara. Harga per kwh PLTS ini memang masih relatif mahal yaitu USD 22 sen/kwh dibandingkan batubara yang hanya USD 5-6 sen/kwh. Namun, dengan semakin banyak pembangunan proyek serupa, diharapkan harganya akan lebih rendah.

Kebutuhan listrik di Kupang sendiri masih sangat tinggi. Masih terdapat antrian pemasangan hingga 64 MW. Oleh karena itu, di samping proyek PLTS ini, dalam waktu 2-3 bulan ke depan, pemerintah akan mendatangkan kapal listrik dengan kapasitas 60 MW. Dengan demikian defisit listrik di wilayah ini akan langsung tertangani.

Masih di NTT, sebuah proyek infrastruktur lainnya, yaitu Gedung Terminal Bandar Udara Komodo di Labuan Bajo, pun telah diresmikan pada hari yang sama (Minggu, 27 Desember 2015). Pengembangan bandara ini diharapkan dapat mendukung percepatan pembangunan perekonomian di NTT, khususnya di Flores. Melalui terminal baru ini, pelayanan penumpang yang dari sebelumnya 150 ribu penumpang per tahun akan naik 10 kali lipat menjadi 1,5 juta penumpang per tahun.

Bandara yang sudah dirintis sejak tahun 1975 ini, selain telah memiliki terminal yang lebih besar, juga memiliki runway sepanjang 2.250 meter dan lebar 45 meter. Jika sebelumnya, hanya bisa didarati pesawat propeller sekelas ATR 72-600, maka kelak akan dapat didarati pesawat jet medium sekelas A-320, B 737-800 dan B 737-900. Sehingga, dampaknya tentu akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Pulau Flores, baik karena aktivitas bisnis ataupun karena kunjungan wisata.

“Bandara ini bisa menjadi gerbang bagi wisatawan untuk menikmati keindahan pantai dan alam bawah laut Labuhan Bajo, keindahan Danau Kelimutu, menyaksikan Taman Nasional Komodo di Pulau Komodo, pantai merah muda,” kata Presiden.

Oleh karena itu Presiden Jokowi meminta agar beroperasinya terminal baru ini diikuti dengan promosi pariwisata yang lebih gencar dari Kementerian Pariwisata. Pada saat yang sama, infrastruktur penunjang seperti sarana transportasi menuju lokasi wisata, jalan, pelabuhan serta penginapan, rumah makan dan sarana penunjang lainnya harus segera dibangun oleh pemerintah daerah.