Presiden Joko Widodo ternyata penggemar nikmatnya kopi Gayo. “Kopi Gayo enak sekali, saya dulu setiap pagi minum kopi. Tapi kopi-kopi dari daerah lain juga tak kalah spesial enaknya dan harganya pun bagus,” ujar Presiden saat membuka acara Pekan Nasional Kontak Tani Nelayan Andalan di Stadion Lhong Raya, Banda Aceh (6-5-2017).

Dalam kesempatan itu, Presiden menyampaikan keprihatinannya terkait komoditi rempah Indonesia yang luar biasa seperti kakao dan kopi yang seharusnya bisa mengangkat perekonomian bangsa tapi ternyata produksinya masih sedikit. Menurut Presiden, kakao dan kopi adalah komoditas yang harganya terus naik tapi kita masih kurang produksi padahal kebun dan pabriknya ada. Saat ini kebutuhan akan rempah terus meningkat, termasuk methe, minyak asiri dan rempah-rempah lainnya.

Saat ini produktivitas dan volume ekspor komoditi rempah utama memang tengah mengalami penurunan. Hal inilah yang menjadi keprihatinan Presiden. “Penurunan yang terjadi selama beberapa tahun ini cukup tajam.

Ini antara lain karena tidak ada program intensifikasi atau rehabilitasi tanaman padahal kebutuhan rempah baik di dalam negeri maupun di luar negeri terus tumbuh pesat karena banyaknya industri yang menggunakan bahan baku rempah,” jelas Deputi Direktur Bidang SDM Dewan Rempah Indonesia, Lukman Basri, saat datang ke Kantor Staf Presiden untuk menyampaikan laporan tentang persoalan rempah (4-4-2017) mendampingi Direktur Badan Pelaksana Dewan Rempah (DRI) Indonesia Suhiman Mulyodiharjo.

Indonesia memiliki kekayaan rempah luar biasa di dunia yang membuat bangsa-bangsa lain berdatangan jauh sebelum jaman Majapahit.

Cengkeh, pala, lada, vanila dan kina adalah komoditas rempah andalan yang sayangnya kini mengalami penurunan. “Lada Indonesia dulu nomor satu di dunia, kini kita kalah dibandingkan Vietnam. Padahal mereka belajar menanam lada dari kita,” jelas Suhirman Mulyodiharjo.

Rempah merupakan kelompok tumbuhan yang mempunyai rasa dan aroma yang sangat kuat dan juga tumbuhan yang baik untuk pengobatan. Rempah merupakan komoditas ekspor  terbesar setelah udang, ikan dan kopi. Jumlah komoditi rempah dan herbal di Indonesia diperkirakan sekurangnya ada 7.000 jenis dan sebagian besar belum dibudidayakan, hanya tumbuh liar saja di alam bebas. “Yang sudah dibudidayakan baru sekitar 200an jenis atau kurang dari 4% dari seluruh kekayaan rempah Indonesia,’ tambah Suhirman.

Dalam rangka merancang dan menyusun rencana untuk revitalisasi pasar rempah Indonesia dan mengembalikan kejayaan rempah, Kantor Staf Presiden telah menggelar rapat koordinasi lintas sektor yang antara lain dihadiri oleh Dewan Rempah Indonesia, Kementerian  Perkebunan, Kementerian Perdagangan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Pemerintahan Provinsi Lampung (17-5-2017).

Pokok pembahasan rapat koordinasi antara lain tentang rencana akan diselenggarakan perayaan merebut kembali kejayaan rempah Indonesia di bulan Agustus 2017. Acara rencananya akan diselenggarakan di Lampung. Gamal Natsir, Ketua Dewan Rempah Indonesia mengusulkan adanya perayaan Hari Rempah Indonesia. Indonesia sebenarnya pasti mampu dan memiliki potensi besar untuk bersaing dengan Vietnam. Bahkan produksi lada di Indonesia mampu melebihi Vietnam. Saat ini produksi lada baru mencapai 0,8 ton/ha. Produksi lada Indonesia masih tergolong rendah dibandingkan dengan negara-negara lain. Seperti ditegaskan oleh Presiden Jokowi dalam acara Pekan Nasional Tani dan Nelayan, banyak sekali produk rempah yang bisa terus ditingkatkan.

Perayaan Hari Rempah Indonesia tentu harus dirancang bukan hanya sebagai acara seremonial belaka, namun juga merupakan ajang koordinasi lintas sektor. Termasuk dengan Kemendikbud yang sangat penting perananannya untuk mendaftarkan rempah UNESCO sebagai the Unique Selling Proposition (USP). Sonny Wibisono, perwakilan dari Arkeolog Kemendikbud menyambut baik kordinasi yang diinisiasi Kantor Staf Presiden. “Kami sudah melakukan penelitian mengenai jalur rempah Indonesia, secara historis hal ini sangat sejalan dengan ide poros maritim di mana jalur rempah jaman kolonialisme menjadi sumber komoditas utama,” jelas Sonny.

Dalam upaya merebut kembali kejayaan rempah Indonesia, DRI bisa mengambil peran sesuai maksud dan tujuan pendiriannya, yaitu mensinergikan pengembangan agribisnis rempah Indonesia yang berdaya saing, berkerakyatan dan berkelanjutan agar dapat memberi manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat.

Dengan memajukan bisnis komoditi rempah yang di masa lalu mampu menarik bangsa-bangsa lain datang ke Indonesia, langkah pemerintah untuk mewujudkan kehidupan perekonomian nasional yang lebih baik dan sejahtera pun akan lebih lengkap. Di sisi lain harapan untuk terwujudnya kesejahteraan petani dan pekerja rempah menjadi lebih jelas seiring meningkatnya kemajuan dan keunggulan agribisnis serta industri rempah Indonesia.

Rencana mengembalikan kejayaan rempah Indonesia juga terkait dengan arahan Presiden Jokowi dalam rapat terbatas yang diselenggarakan pada tanggal 3 Februari 2017 mengenai 4 jurus nation brand.

Artinya rempah Indonesia bisa menjadi salah satu unsur penting dalam mem-branding Indonesia. Dalam arahan ratas tersebut, Presiden menekankan bahwa “brand power Indonesia masih lemah, baik untuk perdagangan, untuk investasi, maupun untuk pariwisata dibandingkan negara-negara lain.

Dari data yang saya peroleh di bidang perdagangan dan investasi, brand power Indonesia berada pada posisi 6,4 persen. Kalah dibandingkan dengan Singapura yang hampir mencapai 10 persen dan Thailand yang sedikit di atas Indonesia.” Dan untuk mencapai brand power Presiden Jokowi juga menekankan perlunya dilakukan konsolidasi pada ajang-ajang promosi dan pameran di luar negeri. Sehingga lebih masif, lebih terintegrasi, dan juga memiliki dampak yang konkret, dampak yang nyata, dan betul-betul mampu bersaing dengan negara-negara yang lain, terutama di bidang investasi, perdagangan, dan pariwisata.

Mari kembalikan kejayaan rempah Indonesia dengan menjadikan rempah sebagai salah satu brand power sebagaimana sejarah pernah mencatat dan membuktikannya.