Salah satu hal yang dilakukan Pemerintah untuk meningkatkan tenaga terampil kelas menengah adalah dengan membenahi kurikulum pendidikan vokasional agar sesuai dengan kebutuhan industri.

Pendidikan vokasional atau kejuruan menjadi perhatian Presiden Joko Widodo dalam berbagai kesempatan. Dalam kunjungannya ke beberapa negara Eropa, pada 19-23 April 2016, pemerintah bahkan telah menggandeng Jerman untuk memberikan pelatihan vokasional. Jerman memang sejak awal mengarahkan siswanya, apakah akan mengambil jalur kejuruan atau meneruskan ke universitas.

Siswa yang telah menyelesaikan pendidikan selama 9 tahun atau setingkat SMP di sana dan ingin langsung bekerja diberi kesempatan bekerja magang. Menerima gaji dan dua hari dalam seminggu menjalani sekolah keterampilan (sekolah vokasional).

Di Indonesia dengan jumlah sekolah SMK 13.167 yang terdiri atas negeri dan swasta, secara umum masalah yang dihadapi adalah masih tingginya pelajaran teori dibandingkan dengan praktek. Akibatnya, SMK sering disebut sebagai SMA plus. Sekolah kejuruan juga tidak didukung bengkel atau laboratorium yang memadai. Alhasil, lulusannya kerap tidak memenuhi kualifikasi dengan standar dunia kerja.

Akibatnya seperti disinyalir oleh Presiden Joko Widodo, lulusan SMK cukup banyak yang menganggur. Kenyataan ini tentu menjadi ironi di tengah tingginya permintaan tenaga terampil kelas menengah di banyak perusahaan.

Oleh karena itu dalam rapat terbatas yang membahas tentang pendidikan vokasional, Presiden Jokowi menginstruksikan untuk dilakukan reorientasi pendidikan dan pelatihan vokasi ke arah demand driven. Sehingga kurikulum, materi pembelajaran, praktik kerja, pengujian, serta sertifikasi sesuai dengan permintaan dunia usaha dan industri.

Satu hal yang kemudian harus dibenahi adalah mereformulasi kurikulum pendidikan kejuruan. Kurikulum hendaknya berangkat dari kebutuhan keterampilan di dunia kerja yang kemudian diturunkan ke dalam satuan pelajaran.

Inti dari reformulasi kurikulum adalah melakukan kolaborasi dan sinergi. Kerja sama erat dengan mengajak kelompok-kelompok industri untuk ikut berperan, menentukan standar kompetensi dan kualifikasi siswa sekolah kejuruan. Tak kalah penting adalah dengan memberikan perlengkapan “perbengkelan” sesuai bidang keterampilan.

Kelompok industri ini, misalnya, akan menentukan standar kualifikasi untuk sekolah kejuruan perikanan darat. Maka asosiasi industri tersebut akan menentukan keterampilan seperti apa yang harus dikuasai siswa jurusan perikanan darat yang lantas diturunkan ke dalam satuan pelajaran teori dan praktek.

Satuan pelajaran inilah yang kemudian diasah dalam ruang-ruang kelas dan praktik di lapangan. Keterampilan nantinya menjadi bagian paling penting. Oleh karena itu, apapun namanya: laboratorium, workshop, bengkel, kebun percobaan, area praktik penanaman, area peternakan, dapur boga, sanggar seni, studio musik, akan menjadi titik sentral pembelajaran di sekolah vokasional.

Untuk sekolah vokasional ini, pembelajaran sistem blok adalah yang paling cocok. Satu blok pelajaran dikelompokkan dan diselesaikan sampai tuntas sebelum berpindah ke blok lain. Misalnya saja dalam sekolah kejuruan hortikultura. Maka salah satu hal yang harus dikuasai di awal adalah tentang pengolahan tanah. Pelajaran ini harus diselesaikan sebelum mereka diajarkan tentang penanaman benih dan bibit. Jadi tidak bisa pengolahan tanah dicampur dengan pelajaran penanaman benih dan bibit.

Dengan demikian, siswa yang telah dinyatakan lulus dari sekolah kejuruan tersebut otomatis akan memenuhi standar kompetensi dan kualifikasi dunia industri. Dengan begitu, lulusannya akan terserap ke dunia industri.
Untuk sampai pada sekolah vokasional yang betul-betul demand driven seperti yang diharapkan Presiden, yang perlu dilakukan adalah memulai dengan pilot project . Dipilih bebeberapa sekolah kejuruan unggul dan mengajak perusahaan untuk berkolaborasi dengan membangun workshop yang mumpuni. Sementara sekolah kejuruan sejenis yang mutunya kurang dan lokasinya tidak terlalu jauh bisa bergabung ke sekolah unggulan tersebut. Tujuannya agar sekolah ini bisa menyerap keterampilan dan pola pembelajaran dari sekolah unggulan tersebut.

Dengan langkah ini lambat-laun akan terjadi transfer ilmu,keterampilan, dan pola pembelajaran dari sekolah unggulan ke sekolah kejuruan lain untuk menghasilkan lulusan yang benar-benar andal.

Di sekolah tersebut siswa juga tidak cuma belajar keterampilan, tetapi juga bisa mengasah mental kewirausahaan sesuai dengan pekerjaan yang dia geluti. Kalau model ini dilakukan dengan konsisten maka sekolah kejuruan makin lama akan makin dikenal dan diapresiasi kehadirannya.