Bantuan pemerintah lewat DAK perumahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah yang  menjadikan rumah aman, nyaman, dan layak huni diapresiasi.  Untuk tahun ini dana Rp 1,038 telah dianggarkan dan bakal meningkat jadi Rp 1,995 triliun pada 2018.

Bagi masyarakat berpenghasilan rendah, jangankan memperbaiki rumah, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari butuh usaha keras. Melihat kondisi ini, pemerintahan Presiden Jokowi  mengucurkan dana untuk membantu mereka merenovasi rumah di berbagai wilayah indonesia. Bantuan tersebut diwujudkan lewat Dana Alokasi Khusus (DAK) perumahan.

Di Kota Semarang, redaksi presidenri.go.id mendatangi dua penerima bantuan, yaitu Sunaryo dan Kustadji. Keduanya  tinggal di Desa Tambangan, Kelurahan Tambangan, Kota Semarang. Sunaryo mengajukan perbaikan rumah sejak Juni, yang lantas disetujui dan direalisasikan pada Agustus 2017. Menurutnya, awalnya pihak kelurahan mendatangi dan menilai kondisi rumah.

Dari hasil pantauan,  rumah Sunaryo yang bekerja di bidang elektronik ini dinilai kurang layak. Lapuk di sana-sini, dengan konstruksi bangunan yang sudah tidak kokoh lagi. Atas dasar itu, kelurahan lantas mengikutkan Sunaryo dalam program bantuan rumah bagi golongan berpendapatan rendah. Ketika dikunjungi pada minggu ketiga Agustus lalu, sebagian rumah yang direnovasi telah selesai, tinggal rumah utama yang menyusul diperbaiki pada dinding dan atap.

Tak jauh dari tempat ini, Kustadji  (59) juga mendapat bantuan yang sama. Kondisi rumahnya lebih parah dibandingkan dengan rumah Sunaryo. Alhasil bangunan terpaksa dirobohkan dan dibangun dari awal dengan pondasi baru. Menurutnya, ia sudah tahu, ada bantuan rumah untuk masyarakat kurang mampu dari pemerintah. Ia pun mendaftarkan diri dan menyiapkan kelengkapan yang dibutuhkan. Permohonan bantuan akhirnya disetujui. Sehingga pada awal Agustus 2017 pembangunan rumah mulai dilakukan.

Dengan stimulus uang dari pemerintah tersebut, Kustadji yang juga berprofesi sebagai tukang bangunan, berinisiatif membangun sendiri sejak dari pondasi rumah yang berukuran 6 x 18 m tersebut. Ketika dikunjungi, tampak pondasi sudah hampir selesai. Dinding yang terbuat dari seng bakal digantikan oleh batu bata.

Harapannya, DAK perumahan ini akan membuat rumah memenuhi persyaratan keselamatan bangunan, kecukupan luas, dan kesehatan penghuninya dengan pencahayaan, penghawaan, dan MCK yang baik.

Khusus untuk Kota Semarang, DAK perumahan tahun anggaran 2017 sebesar Rp 6,047 miliar. Jika masing-masing rumah mendapat bantuan Rp 15 juta. Maka jumlah sebesar itu bisa untuk memperbaiki 400 rumah.

Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional tertera, kebijakan pembangunan perumahan 2015-2019 ditujukan untuk meningkatkan akses masyarakat berpendapatan rendah agar bisa mendapatkan hunian layak dan terjangkau.

Program ini diprioritaskan pada peningkatan standar hidup penduduk pada 40 persen terbawah. Targetnya adalah pengurangan angka kekurangan hunian, meningkatkan kualitas rumah tidak layak huni, dan pengawasan kawasan kumuh.

Khusus untuk tahun 2017, ada empat patokan yang mesti dicapai. Yaitu penanganan kawasan kumuh perkotaan seluas 23, 328 hektar. Perencanaan penanganan kumuh pada 212 kabupaten/kota. Penyediaan hunian layak pada 0,8 juta rumah tangga dan peningkatan kualitas rumah tidak layak sebanyak 3,1 juta rumah.

Anggaran perumahan dan pemukiman untuk tahun 2017 dikucurkan lewat dua cara. Pertama, Dana Alokasi Khusus (DAK) reguler dan DAK afirmasi untuk perumahan dan pemukiman. DAK reguler untuk 110 kabupaten/kota dianggarkan sebanyak Rp 654,89 miliar. Sementara DAK afirmasi sebesar Rp 383,30 miliar disasarkan pada 60 kabupaten/kota.

Dana tersebut dipakai untuk pembangunan baru, jika rumah dalam kondisi rusak berat. Namun bisa juga berupa peningkatan kualitas untuk komponen atap, lantai, dan dinding.

Data yang dilansir Bappenas pada Agustus 2017, dari pagu DAK perumahan Rp 1,038 triliuntelah direalisasikan 204, 5 miliar atau 19,7 persen.  Sedangkan untuk tahun 2018, DAK reguler sebesar Rp 1,25 triliun untuk 71.900 unit dan DAK afirmasi Rp 745 miliar untuk 28.100 unit rumah.

Angka-angka tersebut memperlihatkan bagaimana perhatian pemerintah untuk membantu masyarakat yang berpendapatan rendah memperbaiki rumahnya agar aman, nyaman, dan layak huni.