Tak lama lagi, minyak bumi akan habis dari bumi Nusantara ini. Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan, cadangan minyak Indonesia hanya tersisa sekitar 3,5 miliar barel. Jika produksi rata-rata per hari 800.000 barel, maka cadangan tersebut hanya cukup untuk 11 tahun lagi.

Sebagai bangsa, kita juga masih terlalu tergantung pada minyak bumi. Sebanyak 41% kebutuhan energi disuplai dari minyak bumi, disusul batubara 29% dan gas bumi 23%. Padahal, sumber energi non-fosil Indonesia punya potensi besar di sana. Potensi geothermal (panas bumi) tercatat 39.000 MW atau kurang lebih separuh dari kapasitas listrik nasional kita. Potensi tenaga air darat atau mini hydro kita bahkan mencapai 75.000 MW, energi surya lebih besar lagi dengan 112.000 MW, serta bio energi dan gas masing-masing 30.000 MW.

Selama ini, potensi energi baru terbarukan belum dapat dimanfaatkan secara optimal dikarenakan terkendala oleh tingginya biaya pembangunan infrastruktur dan belum adanya penetapan harga jual energi. Untuk mengatasi tantangan di atas, pemerintah kemudian menetapkan sasaran-sasaran jangka menengah, antara lain:

Sasaran pemanfaatan bahan bakar nabati, yaitu: (i) produksi biodiesel sebesar 4,3–10 juta KL; dan (ii) produksi bioetanol sebesar 0,34–0,93 juta KL, dan (iii) terlaksananya pembangunan perkebunan untuk bio-energi pada beberapa lokasi yang potensial. Sedangkan sasaran penggunaan energi yang lebih efisien adalah tercapainya elastisitas energi sebesar 0,8.

Selanjutnya, sasaran peningkatan bauran energi baru dan terbarukan (EBT) yang terdiri dari: (i) bauran EBT sebesar 10-16 Persen; (ii) kapasitas terpasang pembangkit listrik EBT (PLTP, PLTA, PLTMH, PLTS, dan PLT Biomassa) sebesar 7,5 GW; (iii) pelaksanaan pilot project reaktor daya PLTN dengan kapasitas minimal 10 MW ; (iv) pelaksanaan pilot project pembangkit listrik tenaga arus laut minimal 1 MW.

Namun, dalam jangka pendek akan dilakukan optimalisasi energi gas yang memang masih melimpah. Salah satunya adalah dengan membangun jaringan gas rumah tangga untuk mengurangi impor elpiji. Penggunaan gas bumi sebagai bahan bakar juga merupakan upaya pemerintah mengadakan bahan bakar yang lebih aman, bersih dan murah untuk masyarakat.

Hingga 2014, sudah ada sekitar 90.000 rumah yang sudah tersambung jaringan gas bumi menggunakan dana APBN. Sedangkan yang telah disambungkan oleh PGN sekitar 92.000 rumah. Lima tahun ke depan, APBN menyediakan dana untuk membangun jaringan distribusi gas bumi rumah tangga di 10 kota dengan jumlah rumah tersambung sekitar 40.000 an rumah. Di Indonesia ada 7,9 juta rumah yang berpotensi dialiri gas bumi. Mereka ini lokasinya dekat dengan sumber gas dan infrastruktur gas kota.

Selain oleh pemerintah, pembangunan infrastruktur distribusi gas kota juga dilaksanakan oleh PT Pertamina Gas (Pertagas) dan Perusahaan Gas Negara (PGN), Pertagas direncanakan akan membangun di 28 kota dengan total sambungan 81.000 sedangkan PGN akan membangun di 102 kota dengan total sambungan 1 juta rumah tangga.

Pemerintah berharap, melalui cara ini semangat TRISAKTI yaitu berdikari dalam ekonomi secara bertahap akan terlihat wujudnya. Yakni dalam hal pembangunan energi sebagai sektor strategis domestik.