Bendungan Rotiklot dapat memenuhi kebutuhan irigasi hingga 139 hektar dan 500 hektar lahan palawija, serta menjawab pemenuhan air bersih dan pembangkit listrik di NTT

Jika berjalan sesuai rencana, pada tahun 2018 nanti akan terjadi revolusi pertanian di Desa Fatuketi, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT). Pada saat itu, Bendungan Rotiklot seluas 86 hektar, yang lokasinya berbatasan langsung dengan negara tetangga Timor Leste, mulai berfungsi penuh.

Selama ini para petani di Desa Fatuketi hanya mengandalkan air hujan untuk pengairan sawahnya. Hasil panennya hanya dapat dimanfaatkan sekali dalam setahun. Namun, setelah berfungsinya Bendungan Rotiklot, petani bisa menanam hingga dua kali dalam setahun.

Kekeringan adalah situasi yang sudah biasa dihadapi oleh warga di wilayah ini. Pada musim kemarau, warga Desa Rotiklot dan desa-desa sekitarnya pergi menuju ke sungai untuk mendapatkan air dari sumur buatan. Ada yang memiliki sumur untuk air minum, tapi pada saat kekeringan, tak ada air yang bisa didapatkan. Mereka harus menunggu hingga musim kemarau berlalu.

Dalam situasi yang demikian, usaha pertanian tak bisa diharapkan untuk meningkatkan produktivitas. Masyarakat bertani hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ini merupakan situasi yang bukan hanya dihadapi oleh warga Desa Fatuketi, tapi masyarakat di NTT secara umum.

Dalam hitungan warga setempat, diperlukan sedikitnya 4.500 embung dan puluhan waduk untuk mengatasi persoalan kebutuhan air di NTT. Namun, nyatanya hanya sekitar 500-an embung yang ada, dan itupun cuma sekitar 300-an yang masih berfungsi.

Menyadari persoalan ini, Pemerintah, melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPERA), memberikan solusi efektif dan permanen. Bukan lagi embung, tapi bendungan yang dibangun. Hari Senin, 28 Desember 2015, adalah tonggak bersejarah bagi masyarakat NTT dengan dimulainya ground breaking pembangunan Bendungan Rotiklot oleh Presiden Jokowi.

Dalam sambutannya, Presiden mengingatkan bahwa kedaulatan pangan hanya akan dapat diraih bila kita mendirikan lumbung-lumbung pangan. “Lumbung-lumbung pangan kuncinya hanya satu ada air. Air itu akan ada jika ada bendungan dan waduk,” ujar Presiden.‎

Dengan daya tampung air sebesar 2,9 juta m3, Bendungan Rotiklot dapat memenuhi kebutuhan irigasi hingga 139 hektar dan 500 hektar lahan palawija. Selain itu, bendungan ini pun akan menjawab persoalan pemenuhan air bersih dan pembangkit listrik di NTT. “Karena di NTT, listriknya masih sangat kurang, sangat jauh dari cukup,” ujar Presiden.

Bendungan Rotiklot merupakan bendungan kedua yang dibangun di NTT. Pada 20 Desember 2014, Presiden juga meletakkan batu pertama pembangunan Bendungan Raknamo di Kabupaten Kupang.

Bukan hanya itu, secara total pemerintah berencana membangun 7 bendungan di NTT. Pada tahun 2016 masih akan dibangun Bendungan Napungete di Kabupaten Sikka, Flores. Selanjutnya, menyusul Bendungan Lambo di Mbay Kabupaten Nagekeo, Bendungan Menikin di Kabupaten Kupang, Bendungan Temef di Timor Tengah Selatan dan Bendungan Kolhua di Kota Kupang.

Pembangunan infrastruktur lainnya, seperti bandar udara, pembangkit listrik serta jalan, yang gencar dilakukan pemerintah di kawasan Timur Indonesia, bagaimanapun merupakan perwujudan dari komitmen yang telah tertuang di dalam Nawacita. Visi-misi Nawacita dengan tegas menyatakan bahwa “Kami (Jokowi – Jusuf Kalla) berkomitmen melakukan pemerataan pembangunan antar wilayah: antara Jawa dengan luar Jawa, antara wilayah Indonesia Barat dengan wilayah Timur Indonesia, antara Kota dengan Desa.”

Terkait dengan pembangunan pertanian, pemerintah pun telah berkomitmen untuk menjalankan pendekatan secara komprehensif. Mulai dari penanggulangan kemiskinan petani dan peningkatan kemampuan petani, reforma agraria, hingga pembangunan infrastruktur seperti irigasi, bendungan, sarana jalan dan transportasi serta pasar dan kelembagaan pasar secara merata.