Kemudahan dan kepraktisan bantuan dirasakan oleh penerima PKH di Kota Yogyakarta. Mereka bisa mencairkan uang di ATM atau bank, serta mendapatatkan beras dan telur di warung dekat rumah.

Manfaat bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) dirasakan oleh Gandung (59), yang  berprofesi sebagai pembuang sampah di Kampung Brontokusuman, Kecamatan Mergangsan, Yogyakarta.

“Sejak Januari 2017, saya  dapat PKH dan sudah saya ambil uangnya empat kali. Dan tahun 2018 ini, sudah saya ambil Rp 500 ribu” jelasnya, saat disambangi di rumah kontrakannya (6/3/2018) lalu.

Melalui bantuan ini Gandung merasa lega, karena kebutuhan dasar rumah tangga, seperti beras dan keperluan sekolah anak semata wayangnya terpenuhi.

Dengan kartu PKH itu, selain uang, ia juga mendapatkan beras dan telur di warung tak jauh dari rumahnya. “Uang bisa diambil di ATM, beras dan telur di warung Bu Novi,” ungkap istrinya, Suminem yang berjualan nasi dan sayur di pagi hari dan membuat rempeyek di sore hari untuk menambah pendapatan keluarga.

Menawi sampun rampung nggoreng, peyek  kulo ubengke. Keliling-keliling riki mawon sak dugine. Kulo sing penting kangge lare sekolah.” (Kalau sudah selesai goreng rempeyek saya berkeliling kampung. Yang penting anak bisa sekolah).

Ia bercerita, beras yang ia terima seperti beras-beras yang dijual pada umumnya. Rasanya enak. Sekali sebulan, selain jatah beras, ia juga mendapatkan setengah kilogram telur. “Ngambilnya tanggal 25 setiap bulannya,” katanya.

Untuk memudahkan komunikasi, para penerima bantuan tersebut  membentuk kelompok yang terdiri dari 30 orang dan mengadakan pertemuan sebulan sekali. Di situ fasilitator pendamping menampung berbagai masalah yang timbul dan mengingatkan penerima bantuan agar segera mengambil bantuan, baik uang maupun beras.

Di tengah keterbatasan ekonomi, Suminem merasa bersyukur, anaknya, Melia Rusli Wahyuni yang bersekolah di SMK Koperasi kelas 2,  juga menerima Kartu Indonesia Pintar (KIP). Kartu khusus untuk anak sekolah ini sebenarnya sudah lama ia terima, namun karena tidak tahu penggunaannya, sempat dibiarkan.

Untung petugas KIP yang datang ke kontrakannya mengingatkan agar segera mengurusnya. “Lho pun dangu kok dereng di ngge? (Lho, sudah lama kok belum dipakai). Habis itu, ia pun menyiapkan syarat berupa KTP, Kartu Keluarga, foto copy KIP untuk diserahkan ke sekolah.

“Ini saya lagi nunggu surat dari sekolah, kalau sudah ada surat dari sekolah, dana sudah bisa diambil,” jelasnya.

Gandung dan keluarga menjadi salah satu contoh, bahwa meski mereka telah bekerja giat, namun tingkat pendapatannya masih belum bisa menutup kebutuhan hidupnya.

Oleh karena itu, untuk masyarakat yang berpenghasilan rendah,  pemerintahan Presiden Jokowi telah meluncurkan berbagai program bantuan sosial. Bantuan tersebut untuk memenuhi beragam kebutuhan dasar. PKH misalnya menyasar pada kebutuhan sehari-hari. Sedangkan akses pendidikan dasar sampai menengah dibuka lewat KIP. Kesehatan dasar melalui KIS. Sementara kebutuhan pokok beras melalui bantuan beras sejahtera, termasuk telur.

Dari sisi ekonomi, tujuannya agar pendapatan masyarakat tidak tergerus untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, termasuk untuk membiayai pendidikan dan kesehatan.

Jalan masih panjang, tapi langkah nyata telah diayunkan pemerintah, menuju pada ekonomi berkeadilan.