Pembangungan infrastruktur, percepatan izin investasi, pembenahan pendidikan vokasi, dan dana desa adalah langkah nyata penciptaan lapangan kerja. 

Dari beberapa kajian, tingkat pertumbuhan ekonomi suatu negara secara kasar mencerminkan tingkat penyerapan tenaga kerja.  Hitungannya setiap kenaikan 1 persen pertumbuhan diperkirakan menyerap 200-300 ribu tenaga kerja.

Pada 2016, ekonomi Indonesia tumbuh 5,02. Dengan persentase sebesar itu, akan  ada sekitar 1 juta – 1,5 juta tenaga kerja baru yang bisa diserap. Dengan prediksi pertumbuhan ekonomi sebesar  5 hingga 5,4 persen oleh Bank Indonesia dan 5,3 persen oleh Bank Dunia pada 2017, maka penyerapan tenaga kerja akan naik tahun ini.

Meski harus disadari kenaikannya belum dapat mengimbangi besarnya angkatan kerja. Survei Angkatan Kerja Nasional 2015-2016 mengungkap tingkat pengangguran terbuka pada Februari 2015 adalah 5,81% (7,45); Februari 2016 sebesar 5,50% (7.02 juta), dan Februari 2017 sebesar 5,33% (7,01 juta). Pengangguran terbuka adalah kondisi dimana seseorang tidak bekerja sama sekali.

Kunci mengatasi pengangguran pada akhirnya adalah meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Pertumbuhan ekonomi dipengaruhi oleh dua hal. Faktor  internal dan faktor eksternal. Faktor internal berupa besaran belanja pemerintah yang tercermin dalam APBN.  Sedangkan faktor eksternal dipengaruhi oleh pertumbuhan ekonomi dunia. Kabar baiknya adalah, mulai pulihnya ekonomi dunia, meski masih tipis. International Monetary Fund merilis, ekonomi dunia tumbuh sebesar 3,1% pada 2016 dan diperkirakan merangkak naik menjadi 3,5% pada 2017 dan 3,6% pada 2018.

Pulihnya ekonomi dunia penting bagi Indonesia, karena sebagian pendapatan kita masih ditopang oleh ekspor komoditas primer. Seperti batubara, karet, dan minyak sawit.

Di tengah kondisi ekonomi tersebut, pemerintah terus bergegas menciptakan lapangan kerja lewat program strategis, diantaranya:

Pertama, mendorong pembangunan infrastruktur, melalui penyediaan anggaran  melalui APBN, BUMN, dan swasta. Dalam jangka pendek, program ini menjadi lokomotif tercapainya kesempatan kerja.

Anggaran infrastruktur di masa pemerintahan Presiden Jokowi ini terus meningkat. Pada 2015, pemerintah menganggarkan Rp 290 triliun untuk membiayai pembangunan infrastuktur. Sementara pada 2016, anggaran tersebut melonjak mencapai Rp 313 triliun. Tahun 2017, anggaran bertambah menjadi Rp 387 triliun. Artinya dalam rentang waktu 2015-2017, anggaran infrastruktur yang dialokasikan di dalam APBN sudah mencapai Rp 990 triliun. Anggaran sebesar itu dalam jangka pendek, menengah,  dan panjang  akan menciptakan  efek ekonomi berantai yang menggerakkan roda perekonomian dan menciptakan lapangan kerja.

Kedua, menumbuhkan investasi. Caranya, memperbaiki iklim investasi lewat penyederhanaan perizinan dan penyediaan sarana investasi. Melalui  (a) penyederhanaan regulasi dan proses perizinan investasi pusat dan daerah, (b) pengembangan layanan perizinan terpadu, (c) percepatan penyelesaian masalah investasi, (d) pengembangan infrastruktur pendukung kawasan strategis, dan (e) peningkatan kemudahan berusaha melalui berbagai paket kebijakan ekonomi, khususnya Paket Kebijakan Ekonomi XII.

Upaya keras pemerintah tersebut mulai membuahkan hasil. Realisasi investasi yang dicatat Badan Koordinasi Penanaman Modal menunjukkan, pada 2015 total investasi sebesar Rp 545 triliun, terbagi: Rp 179,5 triliun PMDN dan Rp 365,9 triliun PMA. Sementara untuk tahun 2016 meningkat menjadi Rp 612,8 triliun dengan rincian Rp 216,2 triliun PMDN dan Rp 396,6 triliun PMA.

Ketiga, mendorong pendidikan vokasional. Pemerintah mempersiapkan tenaga kerja dengan keahlian tertentu melalui pendidikan vokasional. Sasarannya menciptakan 1,1 juta tenaga kerja sesuai permintaan industri. Langkah ini bersifat strategis, lantaran investor membutuhkan tenaga terampil yang siap kerja untuk menjalankan industrinya.

Keempat, mengalokasikan Dana Desa. Pada 2017, pemerintah mengalokasikan Dana Desa sebesar Rp 60 triliun. Ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2015 sebesar  Rp 20,8 triliun, tahun 2016 sejumlah Rp 46,98 triliun. Bahkan Presiden sudah menginstruksikan menjadi Rp 120 triliun pada 2018.

Dana desa ini dipakai untuk program pemberdayaan masyarakat dan untuk pembangunan sarana/prasarana di pedesaan. Peningkatan ini akan mendorong  peningkatan perekonomian daerah.

Langkah praktis juga  dilakukan oleh Kementerian Tenaga Kerja berkolaborasi dengan grup musik Slank yang  meluncurkan situs www.joinkandidat.com. Melalui situs ini, perusahaan dan pencari kerja bisa secara cepat menemukan titik temu dalam perekrutan dan pencarian tenaga kerja.

Dari sisi pencari kerja, proses pencarian melalui portal ini berbeda dengan proses lowongan kerja di media massa. Bahkan berbeda dengan di job portal atau job fair Pada platform di atas, calon tenaga kerja harus mengirimkan lamaran, CV, foto untuk setiap perusahaan yang ingin dimasuki. Sementara dalam joinkandidat.com, calon tenaga kerja cukup mengisi aplikasi.

Perbedaan lain adalah soal segmentasi pencari kerja. Media massa dan job portal menyasar golongan pencari kerja menengah ke atas. Sementara joinkandidat lebih fokus untuk pencari kerja menengah ke bawah.

Perusahaan yang ingin berpartisipasi, tinggal mendaftar dan melakukan verifikasi menggunakan password dan lantas mengisi pilihan pada isian kebutuhan tenaga kerja. Misalnya: posisi yang dibutuhkan, pendidikan, term waktu (tetap/kontrak), dan besaran upah. Sesudah itu dengan meng-klik search maka akan muncul nama kandidat. Dari sini perusahaan bisa langsung memilih untuk dilakukan wawancara.

Menteri Tenaga Kerja M Hanif Dhakiri menilai aplikasi ini sangat  menarik karena  merupakan terobosan anak bangsa untuk memberikan akses yang lebih baik pada pasaran kerja dan yang dikhususkan pada mereka yang middle low.

Menurut Hanif, aplikasi ini penting karena 60% dari tenaga kerja pada tahun 2017 yang sebesar 131 juta, 60 % nya  masih didominasi oleh lulusan SD dan SMP yang berumur 15 tahun dengan akses sangat terbatas. Kondisi tersebut membuat mereka tak punya banyak pilihan pekerjaan. Lewat situs ini akses ke pasar tenaga kerja dan karier terbuka lebih luas.