Kementerian Perhubungan akan menambah 3 unit kapal perintis untuk rute antar pulau sebagai penunjang tol laut. Selain mengatasi kesenjangan harga, produktivitas masyarakat pun diharapkan meningkat

Visi-misi Nawacita memberikan landasan bagi pola pembangunan yang simetris, antara Jawa dan luar Jawa, antara Indonesia bagian Barat dan kawasan Timur Indonesia, serta antara daerah-daerah yang selama ini tertinggal dengan yang sudah lebih dulu maju. Hal ini tercermin dalam poin ketiga “Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka Negara Kesatuan.”

Dalam konteks ini, pembangunan infrastruktur yang bertujuan menciptakan konektivitas antar wilayah menjadi prioritas dalam pemerintahan Jokowi-JK. Salah satu agenda prioritas untuk menciptakan konektivias ini dijalankan melalui program

tol laut. Langkah cepat Pemerintahan Presiden Jokowi melalui Kementerian Perhubungan (Kemenhub) adalah dengan diselenggarakannya peluncuran perdana tol laut pada 4 November 2015 di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Dengan dibukanya akses tol laut, Presiden Jokowi menginginkan harga komoditas di setiap daerah tidak terlalu jauh perbedaannya – hal yang disebabkan karena biaya logistik yang masih sangat tinggi. Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) Premium di pulau Jawa yang berada dikisaran Rp7.500, di Papua bisa mencapai Rp70.000. Semen di pulau Jawa sekitar yang berharga Rp50.000 hingga Rp60.000 di Papua bisa mencapai Rp1 juta hingga Rp2 juta.

Dalam pelaksanaan program tol laut, Pemerintah memberikan tugas pada Badan Usaha Milik Negara (BUMN), sesuai dengan Perpres Nomor 106 Tahun 2015 tentang penyelenggaraan kewajiban pelayanan publik untuk angkutan barang dalam rangka pelaksanaan tol laut. Pelaksanaan program tol laut dimulai dengan pembangunan infrastruktur berupa pelabuhan di beberapa pulau dan peningkatan aktifitas kapal-kapal besar yang melalui 6 rute yang telah ditentukan Kemenhub.

Maluku Utara merupakan salah satu dari 6 rute yang dilalui tol laut. Tahun 2016 ini Kementerian Perhubungan berencana menambah 3 unit kapal perintis untuk rute antar pulau sebagai penunjang tol laut. Rutenya adalah Tanjung Priok (DKI Jakarta) – Ternate (Maluku Utara) – Tobelo (Maluku Utara) – Babang (Maluku Utara) – Tobelo – Ternate – Tanjung Priok.

Penduduk Maluku Utara mencapai sekitar 1,114 juta jiwa. Mereka tinggal di pulau-pulau yang berukuran besar seperti Pulau Halmahera, pulau yang relatif sedang seperti Pulau Taliabu, Pulau Mangoli, Pulau Sulabesi, Pulau Bacan, Pulau Obi, Pulau Morotai, serta pulau yang relatif kecil seperti Pulau Ternate, Pulau Tidore, Pulau Makian, Pulau Kayoa, Pulau Moti, Pulau Gebe, dan lain-lain.

Sekitar 75 persen wilayah ini adalah laut, sehingga alat transportasi utamanya adalalah kapal laut. Kapal penunjang di wilayah ini difasilitasi oleh pemerintah dan swasta, umumnya dalam bentuk kapal tradisional yang ukurannya relatif kecil, termasuk perahu atau sampan. Kapal tradisional sangat dibutuhkan dan aktivitasnya pun begitu padat. Kuantitas penumpang rata-rata mencapai 500-700 orang per hari, yang umumnya menyeberang dari Tidore ke Ternate dan sebaliknya.

Arifai selaku Kepala Seksi Lalu Lintas Angkutan Laut Dan Usaha Kepelabuhan, Kantor Kesyahbandara Dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Ternate, pada tanggal 29 Desember 2015 memaparkan bahwa transportasi laut sangatlah dibutuhkan masyarakat Kota Ternate maupun beberapa kabupaten dan kota lainnya di Maluku Utara. Fungsinya bukan semata-mata untuk menampung masyarakat yang aktifitas kerjanya di pulau yang berbeda, kapal-kapal Perintis juga diperlukan untuk mengangkut hasil laut maupun pertanian untuk dikirim ke berbagai pulau di Maluku Utara.

Ketika mengunjungi Maluku Utara, Presiden Jokowi menyampaikan akan mengalokasikan dana infrastruktur sebesar Rp3 triliun. Terkait itu, Presiden akan membangun pelabuhan yang memadai untuk mendukung aktivitas program tol laut yang telah dicanangkannya.

Banyak manfaat akan dirasakan masyarakat Maluku Utara dari program ini. Selain untuk menekan harga komoditi yang didatangkan dari pulau Jawa dan pulau lainnya, masyarakat Maluku Utara dapat meningkatkan produktivitas. Misalnya dengan meningkatkan hasil perkebunan seperti rempah-rempah dan kopra maupun ikan untuk dikirim ke pulau-pulau di luar Provinsi Maluku Utara. Sehingga perputaran ekonomi masyarakat setempat dapat turut meningkat dan begitu pula kesejahteraannya.

Khusus untuk ikan hasil laut, Maluku Utara memiliki antara lain: Tuna, Tongkol, Kakap, Cakalang, Tenggiri, Kembung, Teri, Selar, Julung, Kakap Merah, Ekor Kuning, Ikan Karang, dan Ikan Baronang, ditambah lagi dengan Lobster, Cumi-cumi sera Udang. Kehadiran negara dengan program tol laut melalui Kementerian Perhubungan, kiranya dapat membawa kesejahteraan masyarakat setempat secara nyata.