Kehadiran seorang juru bicara dengan kemampuan, pengalaman dan integritas yang tinggi menggenapi upaya menciptakan sinergi dan kesatuan visi – yaitu visi presiden.

Di tengah-tengah hiruk-pikuk informasi yang bertebaran melalui berbagai jenis media, sinergisitas menjadi sebuah keharusan. Sejak awal hal ini disadari betul oleh Presiden Jokowi, sehingga lebih dari sekali ia menyampaikan tentang pentingnya visi tunggal dalam pemerintahan.

“Tugas kita semua dan utama adalah menjalankan visi dan misi presiden tidak ada lagi yang namanya visi dan misi menteri. Karena yang ada hanya program operasional menteri. Sekali lagi yang ada program operasional menteri,” kata Presiden ketika pertama kali memimpin rapat kabinet kerja pada tanggal 27 Oktober 2014.

Pernyataan yang sama kembali diucapkan Presiden lebih dari setahun kemudian, ketika mengawali sidang kabinet di Istana Bogor pada tanggal 23 November 2015. “Menteri satu visi dengan visi presiden, perencanaan dan penganggaran juga nyambung, saling kerja sama saling sinergi,” ujar Presiden mengingatkan. “Hindari tabrakan, tidak ada lagi menimbulkan polemik di publik, perbedaan pandangan hanya di forum rapat.”

Upaya untuk menyatukan persepsi ini memang perlu dilakukan secara berulang-ulang mengingat bahwa proses internalisasi sebuah nilai baru tentu membutuhkan waktu. Presiden Jokowi misalnya pernah menginisiasi Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2015 tentang Pengelolaan Komunikasi Publik pada tanggal 25 Juni 2015, yang intinya adalah untuk menghasilkan narasi tunggal terkait kebijakan dan program pemerintah kepada publik sesuai arahan Presiden.

Yang terbaru, Presiden Jokowi mengangkat mantan Pelaksana Tugas (Plt) Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Johan Budi Sapto Pribowo menjadi Staf Khusus yang akan mengkomunikasikan program Presiden maupun Pemerintah – yang dinilai sejumlah kalangan sebagai sebuah langkah yang tepat.

Pengalaman dan kemampuan yang dimiliki Johan Budi akan sangat membantu Presiden dan pemerintah dalam mengomunikasikan program-program pemerintah agar dapat dipahami dengan baik. Memberikan pemahaman, terutama konteks, terhadap program-program pembangunan sangat penting agar masyarakat mengetahui dengan benar apa yang sedang dilaksanakan pemerintah.

Presiden menjelaskan, kapabilitas yang dimiliki Johan Budi untuk menjadi Jubir tidak perlu diragukan. Dengan pengalaman yang dimiliki Johan, Presiden meyakini Johan akan mampu melaksanakan tugasnya dengan baik.

“Johan berpengalaman dan mampu mengomunikasikan program Presiden dan pemerintah kepada rakyat,” kata Presiden Jokowi di Istana Meredeka, Jakarta, hari Selasa tanggal 12 Januari 2015.

Komunikasi merupakan variabel penting dalam kepemimpinan nasional. Memiliki kemampuan dalam mengolah informasi dan menyampaikan informasi dengan tepat merupakan salah satu kebutuhan pemerintah dalam rangka mensukseskan berbagai program pemerintah.

Meskipun Presiden memiliki kemampuan berkomunikasi secara langsung dengan masyarakat, termasuk melalui blusukan, tetap dibutuhkan sebuah tim yang dapat berperan membantu pengelolaan dan pengolahan informasi secara akurat dan komprehensif. Apalagi, tidak selamanya Presiden dapat berkomunikasi secara langsung.

Dalam konteks ini, penunjukan Johan Budi sebagai Jubir Presiden tentu akan memperkuat tim komunikasi yang sudah ada dan terutama melengkapi upaya yang sejak awal dilakukan Presiden untuk menciptakan sinergi berdasarkan satu visi Presiden.

Selain faktor kemampuan atau pengalamannya, integritas menjadi poin yang juga sangat penting yang dimiliki Johan untuk menjabat sebagai Jubir Presiden. Kumpulan orang-orang baik dengan kemampuan yang sudah teruji tentu merupakan energi besar untuk melakukan berbagai perubahan signifikan. “Saya senang semakin banyak orang baik di lingkungan Istana yang membantu saya,” kata Presiden Jokowi.